Jakarta (ANTARA) - Hari Bela Negara (HBN) yang diperingati setiap tanggal 18 Desember merupakan momentum yang sangat tepat untuk merenungkan kembali betapa pentingnya bela negara dalam membentuk pelajar yang tangguh dan berkarakter sebagai generasi penerus perjuangan bangsa.
Peringatan HBN ini diatur lewat Keppres Nomor 28 Tahun 2006, dan kini jadi bagian Rencana Aksi Nasional Bela Negara berdasarkan Perpres 155/2023, supaya nilai bela negara turun ke generasi sekarang.
Bela negara bukan sekadar latihan baris-berbaris dengan seragam yang khas, tetapi juga proses pembentukan karakter kuat, cinta tanah air, serta kesadaran untuk ikut menjaga keutuhan bangsa. Secara sederhana, bela negara berarti kesediaan setiap warga negara untuk membela, menjaga, dan memajukan Tanah Air dengan cara-cara yang sesuai dengan profesinya.
Pemerintah menetapkan lima nilai dasar bela negara, yaitu Cinta Tanah Air, Kesadaran Berbangsa dan Bernegara, Setia kepada Pancasila sebagai Ideologi Negara, Kerelaan Berkorban untuk Bangsa dan Negara, serta Kemampuan Awal Bela Negara (pengetahuan, keterampilan dasar, serta sikap disiplin dan tanggung jawab).
Nilai dasar bela negara sejatinya sejalan dengan 8 Dimensi Profil Lulusan (DPL) sebagai standar kualitas pendidikan yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025 yang meliputi keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan dan komunikasi.
Barak militer
Pendidikan Bela Negara yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi dilaksanakan dengan mengembangkan konsep Pendidikan Karakter Pancawaluya yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal Jawa Barat dengan prinsip pendidikan modern. Dalam pelaksanaannya, Pemprov Jabar berkolaborasi dengan institusi TNI, yaitu Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi dan Korps Marinir TNI AL sebagai tempat pendidikan.
Pendidikan karakter di barak militer sempat menjadikan polemik. Oleh karena itu ketika pelaksanaan gelombang pertama di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi sempat mendapat kunjungan langsung dari Gubernur Kang Dedi Mulyadi (KDM), Ketua KPAI Kak Seto Mulyadi, Kepala Kanwil HAM Provinsi Jawa Barat Hasbullah Fudail, dan praktisi pendidikan dari UPI Prof Dr Cecep Darmawan. Program ini mendapat apresiasi positip dan terus dilaksanakan sampai sekarang.
Nama "Pancawaluya" sejatinya merujuk pada lima nilai inti kesempurnaan hidup kultur Sunda, yaitu "Cageur", "Bageur", "Bener", "Pinter", dan "Singer" yang menjadi pilar pembentukan karakter pelajar. Konon, nilai-nilai itu dapat ditemukan dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian (± abad 15–16 M). "Cageur" (sehat) menekankan pentingnya kesehatan fisik dan mental sebagai fondasi perkembangan individu.
Sopan santun, empati, kerja sama, dan kepedulian sosial tercermin dalam karakter "bageur" (berakhlak baik) yang menjadi panduan bagi pelajar untuk berinteraksi dengan hormat terhadap guru, teman, dan masyarakat, serta memahami perspektif orang lain. Melalui karakter "Bageur", ditanamkan nilai gotong royong, yang merupakan bagian dari tradisi budaya Jawa Barat. Dengan mengutamakan akhlak mulia, nilai ini membantu pelajar menghindari perilaku menyimpang, seperti perundungan atau konflik antarkelompok.
"Bener" (Jujur) menekankan integritas, kejujuran, dan kepatuhan pada aturan. Pelajar diajarkan untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka, mengakui kesalahan, dan mematuhi norma-norma sekolah dan masyarakat. Karakter ini berhubungan dengan pinter (cerdas) yang berfokus pada pengembangan pemikiran kritis, wawasan kebangsaan, dan kreativitas. Pelajar didorong untuk menganalisis isu-isu sosial, seperti tantangan kenakalan remaja, melalui diskusi kelompok atau presentasi.
Sementara karakter "singer" (responsif) menekankan responsivitas, kepekaan sosial, dan keterampilan bela negara. Pelajar dilatih untuk tanggap terhadap perintah, peduli terhadap kebutuhan masyarakat, dan memiliki kesadaran akan tanggung jawab sebagai warga negara. Singer juga mendorong pelajar untuk berpartisipasi aktif dalam komunitas, seperti melalui kegiatan sosial atau kampanye anti-narkoba, yang memperkuat ikatan sosial dan semangat kebangsaan.
Semua nilai-nilai ini dirancang untuk menciptakan individu yang sehat jasmani dan rohani, berakhlak mulia, jujur, cerdas, dan responsif terhadap tantangan sosial, sekaligus memperkuat identitas kebangsaan dan budaya lokal. Dalam Pelaksanaannya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkolaborasi dengan institusi TNI, yaitu Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi dan Korps Marinir TNI AL sebagai tempat pendidikan.
Materi pembelajaran
Materi Pendidikan Karakter Pancawaluya terbagi menjadi dua kategori: materi umum dan materi khusus. Materi umum mengisi 30 persen dari waktu program dengan berfokus pada penguatan wawasan kebangsaan, kepemimpinan dasar dan pelajaran sekolah. Oleh karena itu, para pelajar peserta pendidikan tidak ketinggalan kesempatan belajar karena ada guru kunjung yang biasanya dari sekolah terdekat dengan lokasi pendidikan ditugaskan memberikan materi pelajaran sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.
Sementara materi khusus meliputi 70 persen dari waktu program dengan penekanan pada pembentukan karakter melalui aktivitas praktis yang mendukung semua nilai Pancawaluya. Ini mencakup berbagai kegiatan, seperti simulasi tanggap perintah, diskusi nilai, aksi gotong royong, dan latihan militer. Materi dasar kemiliteran diberikan oleh instruktur dari TNI terkait dengan pengetahuan baris berbaris, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), tata upacara, teknik navigasi, senam dan pengetahuan dasar pengamanan.
.
Bela negara ala sekolah
Selain di barak militer, pendidikan bela negara juga dapat dikembangkan di lingkungan sekolah untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan nasional, membentuk karakter pelajar yang disiplin, tangguh, dan berintegritas, meningkatkan pemahaman tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan literasi digital agar tidak mudah terpengaruh hoaks, radikalisme, maupun propaganda negatif serta mendorong partisipasi aktif pelajar dalam kegiatan positif yang bermanfaat bagi masyarakat.
Bentuk pendidikan bela negara yang dapat diterapkan di sekolah, misalnya pembiasaan sikap positif, kegiatan literasi dan wawasan kebangsaan, penguatan ekstrakurikuler, seperti Pramuka dan Paskibra, implementasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), dan kegiatan sosial. Semua ini menumbuhkan kepedulian sosial, salah satu bentuk bela negara di masa kini.
Satu hal yang harus digarisbawahi, keberhasilan bela negara di sekolah harus didukung oleh peran guru yang bukan hanya penyampai materi, tetapi juga "role model" nilai-nilai kebangsaan. Selain itu, sekolah perlu menciptakan iklim yang menumbuhkan rasa aman, inklusif, demokratis, dan menjungjung tinggi HAM. Bagaimanapun, lingkungan sekolah yang positif akan mempengaruhi karakter pelajar dalam melihat dirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Refleksi
Pendidikan bela negara bagi pelajar bukanlah program yang instan, tetapi harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, sehingga dapat membentuk generasi pelajar Indonesia yang berkarakter, tangguh, dan cinta tanah air.
Seiring dengan tantangan globalisasi yang semakin kompleks, kemajuan bangsa dan NKRI yang berdasarkan Pancasila hanya jelas sangat didukung oleh pelajar dengan identitas kuat, moral kokoh, dan semangat kebangsaan. Hal ini sejalan dengan peribahasa Jerman "Die jugend trägt die zukunft der nation" (Kaum muda memikul masa depan bangsa).
Mari kita peringati Hari Bela Negara dengan meningkatkan kecintaan kita terhadap Bangsa dan Negara Republik Indonesia. Teguhkan bela negara untuk Indonesia Maju.
*) Unu Nurahman adalah Pengawas SMA Kantor Cabang Dinas Wilayah VIII Disdik Provinsi Jawa Barat, alumni PPBN Gelombang VII Provinsi Jawa Barat
Bela negara : Baca juga: Karawang berangkatkan 50 pelajar untuk pendidikan bela negara
Baca juga: Kemenag dorong mahasiswa jadi motor moderasi
