Semarang (ANTARA) - Universitas Diponegoro Semarang melalui Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Fakultas Teknik, menggandeng Technische Universitat Berlin untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang terjadi di kawasan pesisir.
"Kita ketahui bersama pesisir masih menjadi satu persoalan di Jawa Tengah, terutama kami menyoroti (pesisir, red.) Semarang-Demak," kata Ketua Departemen PWK FT Undip Prof. Dr. Ing. Wiwandari Handayani, di Semarang, Rabu.
Hal tersebut disampaikannya saat peluncuran SMUS Science Communication Project (SCP) hasil kerja sama dengan TU Berlin, sekaligus diseminasi "Policy Brief" di kampus FT Undip.
Baca juga: Menteri Imipas buka "Campus Immigration Point" di Undip dan pertama di Indonesia
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program Multidisciplinary Learning Series dalam jejaring Global Center of Spatial Methods for Urban Sustainability (SMUS).
"Jadi, memang kami berusaha dari kerja sama internasional dengan TU Berlin ini menyoroti isu 'ec(h)otones' atau ekoton di Semarang-Demak sebagai wilayah transisi yang menghadapi masalah banjir, rob, dan juga banyak isu-isu lingkungan lainnya," katanya.
Dalam kegiatan itu, kata dia, hasil penelitian ditunjukkan dalam berbagai media interaktif, seperti imersif, menggunakan video, poster, dan sejumlah media lainnya agar mudah dipahami, misalnya seberapa parah penurunan muka tanah yang terjadi.
"Kami berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Dan kemudian kira-kira ke depan akan menjadi seperti apa? Nah, itu dijadikan dasar rekomendasi kebijakan," katanya.
Baca juga: Undip raih Anugerah Karya Riset Pembangunan Jateng
Karena itu, kata dia, dalam kegiatan itu juga bekerja sama dengan Badan Riset Daerah (Brida) melalui "diseminasi policy brief" agar riset tersebut dapat menjadi rekomendasi kebijakan untuk mendorong pembangunan, khususnya di wilayah pesisir di Semarang-Demak.
"Yang penting adalah bagaimana kami mendorong untuk penataan ruang yang lebih terintegrasi antara ruang laut dan ruang darat. Karena ekoton kan transisi ya. Kalau darat punya tata ruang sendiri, laut punya tata ruang sendiri, nanti jalan sendiri-sendiri," katanya.
Sementara itu, Prof. Dr.sc.agr. Iwan Rudiarto sebagai peneliti menjelaskan bahwa penelitian itu menemukan bahwa selama 25 tahun terakhir banyak wilayah daratan di Semarang-Demak mengalami degradasi dan telah bertransformasi menjadi air.
Dari kajian tersebut, kata dia, pihaknya berusaha untuk mengenali tidak hanya dari sisi fisik dan sisi lingkungan, tetapi juga dari sisi "livinghood" atau kehidupan masyarakatnya.
"Jadi, kami lihat dari tiga aspek itu, kemudian identifikasi, kita rumuskan dan berikan arahan. Kira-kira strategi yang bisa dilakukan dalam rangka untuk mengatasi permasalahan itu apa saja," katanya.
Baca juga: Mahasiswa Sekolah Vokasi Undip olah limbah jelantah dengan ekstrak kemangi
Ia mengatakan bahwa salah satu strategi untuk mengatasi persoalan di pesisir adalah menggunakan model Nature-based Solutions (NBS), yakni solusi berbasis alam sehingga tidak melulu bangunan fisik, seperti tanggul.
"Kami 'propose' melalui bentuk penghijauan mangrove, mangrove ekosistem, seperti itu. Nah, yang menarik lagi adalah ke masyarakat sebetulnya. Karena mereka kan sangat terdampak," katanya.
Ternyata, kata dia, selama ini masyarakat di wilayah pesisir ada yang telah mencoba beradaptasi, seperti warga di Desa Timbulsloko, Demak, melalui pembangunan rumah-rumah apung.
"Cuma 'challenge'-nya, tantangannya adalah sampai berapa lama itu akan seperti itu? Jadi, mereka secara umum sudah terbiasa kayaknya dengan lingkungan, tapi tetap ke depan harus ada bentuk-bentuk mitigasi yang lebih terukur," pungkasnya.
