Jakarta (ANTARA) - Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh setiap tanggal 16 Oktober, Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) menggelar Festival Jejak Pangan Lestari 2025 di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki - Jakarta, pada Jumat (24/10).
Dihadiri ratusan pengunjung, festival tahunan ini bertujuan untuk menyebarluaskan pesan kunci serta produk pengetahuan yang dihasilkan oleh para mitra KSPL di satu tahun belakang serta memperkuat semangat kolaborasi KSPL bersama para mitra, jejaring, dan masyarakat luas dalam upaya mendorong transformasi sistem pangan berbasis lokal yang sehat, beragam, adil, tangguh, dan lestari di Indonesia.
"Kami berharap lewat festival ini dapat mengingatkan kita bahwa keragaman pangan yang dimiliki Indonesia adalah modal besar dalam menjawab berbagai tantangan dalam pembangunan sistem pangan lestari Nusantara," kata Kepala Sekretariat KSPL, Gina Karina dalam acara bincang-bincang di ajang tersebut, Jumat.
Gina juga menjelaskan KSPL merupakan bagian dari Food and Land Use Coalition (FOLU) di tingkat global, yang merupakan platform kolaborasi bagi berbagai pihak yang bergerak dalam mewujudkan sistem pangan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia, alam, dan iklim.
KSPL memiliki 11 mitra utama yang juga merupakan pendiri, yaitu CIFOR-ICRAF, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Garda Pangan, Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN), Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial (Humanis), Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Yayasan KEHATI, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Parongpong RAW Lab, Systemiq, dan WRI Indonesia.
Kegiatan ini, jelas Gina, juga dalam rangka merayakan momen Hari Pangan Sedunia yang diselenggarakan setiap tahun.
Festival yang dibuka dihadiri perwakilan pemerintah dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Ifan Martino dalam sambutannya menekankan pentingnya sektor pangan dalam agenda pembangunan Indonesia saat ini serta urgensi untuk mentransformasi sistem pangan kita menjadi lebih lestari demi memenuhi kebutuhan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.
Ifan yang juga menjabat sebagai Koordinator bidang Pangan, Direktorat Pangan dan Pertanian, mengungkapkan misi yang diemban KSPL selaras dengan yang dijalankan Kementerian PPN/ Bappenas sehingga kolaborasi sudah terjalin dalam kurun waktu empat tahun terakhir.
"Kami memiliki visi yang sama dalam mendorong pendekatan ekoregionalisasi sebagai kunci transformasi sistem pangan nasional. Dengan pendekatan ini, setiap pihak memiliki peran yang sama-sama penting, sehingga kolaborasi dengan KSPL berperan sebagai jembatan yang dapat menghubungkan setiap pemangku kebijakan. Karena itu, kami harap sinergi ini dapat terus diperkuat dan diperluas," ucap dia.
Sedangkan Special Envoy for Climate and Forest dari Kedutaan Besar Norwegia untuk Indonesia, Nils Hermann Ranum mengatakan, Indonesia, sebagai negara dengan keanekaragaman pangan yang melimpah, tentu menghadapi konteks tantangannya sendiri.
"Kami melalui Norad, berkomitmen mendukung mitra-mitra kami di negara-negara kunci seperti Indonesia untuk mewujudkan ketahanan pangan global yang selaras dengan upaya menekan dampak perubahan iklim. KSPL, sebagai salah satu mitra strategis kami, telah menjalin hubungan yang baik dengan para pemangku kebijakan, dan kami melihat bahwa pendekatan ini penting untuk dapat mencapai tujuan tersebut," ucap Nils.
Festival Jejak Pangan Lestari 2025 meliputi berbagai kegiatan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat akan makna. Sesi gelar wicara bertema “Pangan Lestari untuk Manusia, Alam, dan Iklim yang Sehat” menghadirkan beberapa pembicara, yakni Dr. Umi Fahmida selaku Dosen Departemen Ilmu Gizi FK UI dan Ahli di SEAMEO RECFON, Saskia Tjokro selaku Director di ANGIN Advisory, Britania Sari selaku Praktisi Kemandirian Pangan sekaligus CoFounder @ketumbarws, Muhammad Rafly selaku Penggiat Komunitas Imah Maggot Bantaran (IMB), serta dipandu oleh Iben Yuzenho selaku CEO Sebumi.
Festival ini juga menghadirkan sesi Bincang Pangan Lestari Vol. 2, sesi presentasi interaktif yang memaparkan hasil kajian dan temuan lapangan tentang kondisi sistem pangan Indonesia saat ini dari berbagai perspektif. Dalam sesi ini, ratusan penonton diajak untuk membayangkan bersama akan seperti apa sistem pangan di Indonesia setelah 100 tahun kemerdekaan pada 2045 mendatang.
Sesi ini diisi oleh pembicara dari KSPL dan para mitra, yakni Romauli Panggabean (KSPL), Wahyu Ridwan Nanta (KRKP), Muhammad Burhanudin (KEHATI), Nindhita Priscillia Muharrani (CIFOR-ICRAF), Ibnu Budiman (GAIN), Bergita Gusti Lipu (WRI Indonesia), dan Mirza Malik (Systemiq).
Festival turut dimeriahkan dengan pertunjukan teater berjudul “Surat dari Ladang”. Dipentaskan dengan apik oleh Komunitas Teater Paradoks FISIP UI, pertunjukan ini memperlihatkan bahwa isu pangan sangatlah dekat dengan kehidupan kita.
Para pengunjung juga diberikan kesempatan untuk berkenalan dengan para mitra dan jejaring KSPL melalui booth mereka yang menampilkan berbagai inisiatif dan pesan yang diperjuangkan oleh masing-masing.
Tidak kalah menarik, terdapat juga booth Icip-Icip Cita Rasa Nusantara di mana para pengunjung dapat mencoba kudapan dari berbagai beragam daerah di Indonesia; serta booth MBG (Makan Bergizi Gak-pake-mahal) yang menyajikan makan siang bergizi, beragam, dan terjangkau dari Barat, Tengah, dan Timur Indonesia.
“Harapan kami, festival ini dapat mengingatkan kembali bahwa sistem pangan sangatlah dekat dengan kehidupan kita. Seperti halnya mitra-mitra dan jejaring KSPL yang beragam, kita sebagai individu juga bisa mengambil beragam peran dalam menciptakan sistem pangan Indonesia yang kita impikan bersama, yaitu yang lebih sehat, beragam, adil, tangguh, dan lestari berbasis sumber daya dan kearifan lokal,” tutur Gina Karina, Kepala Sekretariat KSPL.
