Jakarta (ANTARA) - Blibli, pelopor ekosistem perdagangan omnichannel dan gaya hidup di Indonesia, terus memperkuat strategi untuk menangkap tren premiumisasi di kalangan konsumen dengan menawarkan solusi ketika konsumen cerdas cari pengalaman premium berbelanja
Menurut CEO dan Co-Founder Blibli, Kusumo Martanto melalui keterangan resminya pada laporan kinerja keuangan kuartal II/2025 mengatakan pendekatan ini menjadi pondasi pertumbuhan perusahaan.
“Tahun 2024 menjadi bukti bahwa strategi kami dalam membangun pengalaman belanja yang seamless, aman, dan terpercaya mampu menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Kami terus membuktikan bahwa pendekatan ekosistem omnichannel yang terintegrasi adalah kunci dalam menghadirkan nilai tambah bagi pelanggan dan seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Strategi Blibli diwujudkan melalui perluasan jaringan layanan. Saat ini, perusahaan mengoperasikan toko fisik elektronik konsumen, supermarket premium, hingga home and living experience center.
Di sisi lain, ribuan toko partner didorong melalui skema Click & Collect maupun Blibli In-Store, memberi konsumen fleksibilitas untuk belanja online dengan pilihan pengambilan di toko terdekat.
Program keanggotaan terpadu serta poin loyalitas Blibli Tiket Rewards turut memperkuat ekosistem ini.
Kebutuhan tersebut lahir dari karakter konsumen kelas menengah yang terus bertumbuh.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, Indonesia memiliki lebih dari 47,85 juta konsumen kelas menengah dengan karakteristik digital savvy. Mereka semakin selektif dalam memilih brand yang dapat dipercaya, menuntut fleksibilitas dalam menjelajah produk secara online, kenyamanan untuk mengambil di toko, serta jaminan layanan purna jual yang jelas.
Untuk menopang permintaan ini, Blibli juga memperkuat pondasi logistiknya. Tercatat 13 gudang besar dengan luas total lebih dari 200.000 meter persegi beroperasi di kota-kota besar menggunakan model hub-and-spoke.
Layanan seperti Fulfillment at Speed (FAS) dan Fulfillment by Blibli (FBB) memastikan brand dan penjual dapat mendistribusikan produk dengan Service Level Agreement (SLA) tinggi.
Jaminan bagi konsumen juga menjadi prioritas. Blibli menghadirkan fitur Pasti ORI, pengiriman tepat waktu, perlindungan gratis hingga 24 bulan, serta opsi retur tanpa syarat. Seluruhnya diperkuat dengan layanan pelanggan 24/7 yang responsif, demi membangun loyalitas jangka panjang.
Dengan pendekatan ini, Blibli membangun rasa aman dan loyalitas jangka panjang yang diwujudkan dalam pengalaman belanja #NoBlablaDiBlibli. Blibli bukan hanya menjual produk, tapi membangun ekosistem retail masa depan, tempat di mana brand dapat berkembang, dan pelanggan mendapatkan nilai nyata dari barang yang dibelinya, bukan sekadar harga murah.
“Ke depannya, kami akan tetap fokus pada peningkatan berkelanjutan dan inovasi yang disiplin. Kami akan memperdalam kemitraan, menyempurnakan pengalaman layanan, dan memanfaatkan wawasan yang berbasis data untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan konsumen yang terus berkembang,” jelas Kusumo Martanto.
Fenomena pergeseran konsumen ke produk premium juga diamini oleh Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA). Sekretaris Jenderal idEA, Budi Primawan, menyebut premiumisasi di e-commerce kian terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Ada tiga faktor utama yang mendorongnya.
“Pertama, perubahan preferensi konsumen. Konsumen semakin kritis dan sadar kualitas. Mereka cenderung mencari barang yang asli, tahan lama, dan memiliki jaminan resmi, meskipun harganya lebih tinggi. Bagi sebagian segmen, membeli produk premium juga menjadi bagian dari gaya hidup dan ekspresi diri,” jelas Budi.
Faktor kedua, lanjutnya, adalah strategi diferensiasi di tengah persaingan ketat. “Dengan persaingan harga yang makin tajam di segmen mass market, sejumlah platform memilih untuk memperkuat kemitraan dengan brand-brand premium resmi. Ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan konsumen, tetapi juga membantu membedakan positioning platform dari kompetitor.”
Sementara faktor ketiga menyangkut dampak pada ekosistem. “Langkah ini membuka peluang bagi brand global maupun lokal di segmen premium untuk menjangkau konsumen digital secara langsung, sekaligus memberi nilai tambah pada pengalaman berbelanja. Namun, bagi UMKM, ini menjadi tantangan sekaligus peluang — mereka perlu beradaptasi, misalnya dengan meningkatkan kualitas produk atau masuk ke kategori premium lokal yang punya ciri khas,” pungkas Budi.
Apa yang disampaikan oleh Budi Primawan, Sekretaris Jendral idEA, soal pergeseran preferensi konsumen bukan sekadar tren. Nyatanya, di media sosial, banyak pelanggan berbagi pengalaman positif mereka ketika membeli produk premium, salah satunya di Blibli. Testimoni ini menunjukkan bagaimana jaminan garansi hingga layanan purna jual benar-benar dirasakan dan membuat konsumen merasa lebih aman.
