Jakarta (ANTARA) - Ikatan Pustakawan Indonesia menyatakan pustakawan perlu terus beradaptasi dan menjaga etika profesi di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Ketua Umum Pengurus Pusat IPI T Syamsul Bahri saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, mengatakan AI memang membawa peluang besar dalam mempercepat penelusuran informasi, menghadirkan layanan personal, dan meningkatkan efisiensi kerja pustakawan. Namun, AI juga menghadirkan tantangan.

"Kehadiran AI ibarat pedang bermata dua, di satu sisi memberi kemudahan luar biasa, namun di sisi lain menuntut pustakawan beradaptasi dengan cepat, meningkatkan literasi digital, serta menjaga etika profesi agar layanan tetap akurat dan berintegritas," kata Syamsul.

IPI menggelar Kongres XVI sekaligus Seminar Ilmiah Nasional 2025 di Kota Batam, Riau, pada 17-19 September 2025. Acara tersebut menjadi forum strategis pustakawan mengevaluasi program kerja IPI periode 2022–2025, menyusun agenda baru, serta memilih Ketua Umum IPI 2025–2028.

"Kami berharap hasil kongres ini mampu melahirkan keputusan-keputusan strategis untuk memperkuat peran pustakawan di era digital, sehingga perpustakaan tetap relevan, inklusif, dan berdaya saing," ujarnya.



Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor : Budi Setiawanto

COPYRIGHT © ANTARA 2026