Palangka Raya (ANTARA) - Tim Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR) menjalankan program pengabdian masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Komunitas Bunda Sehati melalui Inovasi Pengelolaan Limbah Kain Perca Menjadi Boneka Maskot Kalimantan Tengah”.
"Program ini berlangsung sejak Juli hingga Desember 2025, dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat," kata Ketua Tim Pengmas UMPR Ahmad Syarif MPd, di Palangka Raya, Selasa.
Pada program itu, dosen Pendidikan Agama Islam UMPR ini juga didukung tim pelaksana terdiri dari Mohamad Nor Aufa MPd selaku akademisi Pendidikan Biologi, Arna Purtina MPd dosen Pendidikan Ekonomi.
Selain itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini, juga didukung mahasiswa atas Riski Candra Ramadhani dari Prodi Pendidikan Ekonomi, Melan Yutiva dan Banjir yang merupakan mahasiswa Pendidikan Biologi.
"Program ini menyasar Komunitas Bunda Sehati, kelompok perempuan kepala keluarga (Pekka) di Kelurahan Panarung, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, yang mayoritas hidup dengan keterbatasan ekonomi dan belum memiliki keterampilan produktif yang memadai," kata Ahmad.
Melalui kegiatan itu, pihaknya ingin membuka peluang ekonomi baru bagi perempuan kepala keluarga di Palangka Raya dengan mengolah limbah menjadi produk bernilai budaya dan ekonomi.
"Program ini mencakup pelatihan menjahit dasar, pengolahan limbah tekstil menjadi boneka maskot, pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB), edukasi keuangan keluarga, serta strategi pemasaran digital melalui Shopee, Instagram dan TikTok," katanya lagi.
Anggota tim lainnya, Arna menerangkan, produk boneka ini tidak hanya bernilai ekonomi, namun juga sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal, karena mengangkat ikon Kalimantan Tengah seperti burung tingang, orangutan, dan ornamen khas Dayak.
“Boneka ini bukan sekadar kerajinan tangan, tapi simbol semangat perempuan Kalimantan dan wujud pelestarian budaya lokal,” ujar Arna.
Selanjutnya anggota lainnya, Mohamad Nor Aufa menambahkan bahwa aspek lingkungan menjadi fondasi penting dari program ini.
“Limbah kain perca yang biasanya dibuang sembarangan kini kami edukasikan sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan. Selain mengurangi pencemaran, ibu-ibu juga belajar sains dasar seperti daur ulang dan keberlanjutan,” ujar Mohamad Nor Aufa.
Baca juga: Mengenal lebih dekat Kampung Perca Sindang Rasa Kota Bogor
Baca juga: Merintis Kampung Perca di Sindang Sari Tajur
Baca juga: Cara olah kain perca jadi uang
