Jakarta (ANTARA) - Koperasi Kana yang berlokasi di Surabaya, Jawa Timur, kini jadi contoh koperasi yang sukses menembus pasar ekspor khususnya dalam bisnis gula.
Pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) di Yogyakarta, Rabu (30/4), koperasi ini berhasil menarik perhatian berkat pertumbuhannya yang amat pesat.
Koperasi Kana kini tidak hanya menjadi simbol optimisme bagi koperasi yang berorientasi ekspor, tapi juga berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan Indonesia yang semakin mendapatkan perhatian.
Deputi Bidang Kelembagaan dan Digitalisasi Koperasi Kementerian Koperasi Henra Saragih menekankan pentingnya peran koperasi dalam perekonomian Indonesia.
"Pemerintah selalu mendukung koperasi yang fokus pada ekspor, karena ini menunjukkan potensi besar koperasi, sekaligus berdampak positif bagi perekonomian masyarakat secara luas," ujarnya.
Meski koperasi yang mengarah pada ekspor masih relatif sedikit ketimbang koperasi simpan pinjam, Henra yakin sektor ini memiliki potensi sangat besar untuk berkembang.
"Dalam hal ini, Koperasi Merah Putih, program pemerintah untuk memperkuat koperasi di tingkat desa, diharapkan bisa meniru kesuksesan koperasi ekspor seperti Koperasi Kana," kata dia.
Menurut dia, Koperasi Kana berhasil mengembangkan bisnis gula, dan kini menikmati hasil ekspor ke beberapa negara seperti Hongkong, Thailand, dan Malaysia.
Namun, pencapaian terbesar tak hanya pada meningkatnya volume ekspor, tetapi juga pada pengelolaan koperasi yang sangat profesional.
"Peningkatan aset Koperasi Kana luar biasa, dari Rp20 miliar menjadi Rp102 miliar dalam dua tahun terakhir, menunjukkan pengelolaan sangat baik. Keberhasilan ini menarik perhatian generasi milenial yang mulai tertarik bergabung dengan koperasi," kata Henra.
Ketua Koperasi Kana Jonathan Danang Wardhana bangga atas keberhasilan mereka yang tak lepas dari meningkatnya permintaan gula internasional. "Kebutuhan gula domestik mencapai 7 juta ton per tahun dan hampir 5 juta ton di antaranya harus diimpor, ini menciptakan peluang pasar besar bagi kami," kata Danang.
Ia menambahkan fluktuasi nilai dolar yang tinggi kian membuat Koperasi Kana optimistis memperluas ekspor yang juga berperan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Ia mengatakan keberhasilan Koperasi Kana juga tidak hanya bergantung pada pasar internasional, tetapi juga pada inovasi dan kolaborasi. Salah satu inovasi penting yakni bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam penelitian pertanian yang mampu meningkatkan hasil produksi tebu dari 120 ton per hektare jadi 200 ton per hektare.
"Kami juga berinvestasi dalam teknologi dan mesin lebih modern untuk mendukung peningkatan produksi ini. Dampak positif inovasi ini turut dirasakan masyarakat yang bergantung pada industri gula," ujar Danang.
Selain itu, jelas dia, Koperasi Kana merencanakan ekspansi dengan membuka pabrik baru di Agam, Sumatera Barat, dan Banyuwangi, Jawa Timur.
Dia berharap langkah ini dapat bermanfaat lebih besar bagi masyarakat setempat dan semakin memperkuat posisi koperasi di masa depan.
"Dengan ekspansi ini, kami berharap Koperasi Kana bisa berkontribusi lebih bagi perekonomian lokal," ujar Danang.
Langkah ini juga mendukung semangat Koperasi Merah Putih untuk memperkuat koperasi di seluruh Indonesia, khususnya desa-desa, untuk meningkatkan kemandirian ekonomi serta memperkuat ketahanan pangan.
Danang juga menegaskan kesiapan Koperasi Kana bekerja sama dengan Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah.
"Kami sudah melakukan pembicaraan dengan Kementerian Koperasi dan sangat mendukung program ini, terutama untuk petani tebu di Kediri," kata Danang.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026