indonesia-penting-bagi-burung-airBogor, 15/3 (ANTARA) - Sebanyak 49 daerah di Indonesia berpotensi sebagai lokasi penting persinggahan burung air pendatang karena mampu mendukung lebih dari 20.000 burung air atau 10.000 pasang burung laut.
"Indonesia merupakan salah satu negara penting bagi burung air," kata Dwi Mulyawati petugas konservasi burung Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia) dalam surat elektroniknya kepada ANTARA, Kamis.
Dwi mejelaskan, salah satu daerah penting tersebut yakni Semenanjung Sembilang dan Banyuasin di pesisir timur Sumatera, yang
merupakan salah satu kawasan kunci bagi lebih dari ratusan ribu ekor burung air pendatang.
Dijelaskannya, setiap tahun kawasan yang menjadi bagian dari jalur terbang (flyway) Asia Timur-Australasian ini menjadi lokasi persinggahan bagi burung-burung bermigrasi sebelum mereka melanjutkan perjalanan jauhnya.
"Lahan basah merupakan habitat penting bagi keperluan hidup burung-burung air penetap maupun pengembara," ujarnya.
Cangak (Ardea sp.), bangau (Ciconidae), atau pecuk (Phalacrocoracidae) merupakan jenis burung yang sangat menyukai kawasan mangrove sebagai tempat bersarangnya karena aman dari pemangsa.
Bagi jenis-jenis pemakan ikan seperti kelompok kuntul (Egretta sp.) mangrove merupakan tempat bertengger yang kaya makanan.
Sementara bagi burung air pengembara, terutama Charadriidae dan Scolopacidae), akar mangrove berguna sebagai tempat istirahat yang baik saat terjadi air pasang selama musim migrasinya.
"Habitat lahan basah tidak hanya penting bagi burung-burung pendatang. Berbagai jenis burung penetap pun merasakan manfaat dari keberadaan kawasan ini, seperti mentok rimba (Cairina scutulata) dan bangau storm (Ciconia stormi)," ungkap Dwi.
Tipe habitat hutan rawa air tawar dan gambut menjadi rumah mereka untuk mencari makan dan berkembang biak. Begitu juga dengan hutan rawa rumput yang disukai keluarga keluarga Ardeidae, Anatidae, Rallidae, dan Jacanidae.
Sementara itu, di daerah Tulang Bawang, Lampung, tercatat ribuan ekor blekok sawah (Ardeola speciosa), cangak merah (Ardea purpurea), kuntul besar (Casmerodius albus), dan kowak-malam abu (Nycticorax nycticorax) berkoloni sarang pada rimbunan rumput gelagah.
Menurut Dwi, kendati Indonesia tergolong surganya burung air, akan tetapi hidup mereka menghadapi ancaman. Lahan basah alami Indonesia terus menyusut akibat alih fungsi menjadi lahan pertanian, permukiman, atau tambak.
"Lahan basah dianggap kurang produktif dan kurang bermanfaat. Padahal, lahan basah memiliki fungsi ekologis yang menjaga keseimbangan ekosistem daratan maupun perairan, baik itu habitat ataupun kehidupan tumbuhan dan satwanya," kata Dwi.
Dwi mengatakan, pengelolaan lahan basah sesuai dinamika kebutuhan di tingkat lokal dan nasional penting dilakukan guna mencegah menyusutnya kawasan lahan basah yang sangat bermanfaat secara global.
"Lahan basah tidak hanya berguna bagi perlindungan dan pelestarian burung air beserta flora-fauna saja. Tetapi juga, bermanfaat bagi manusia sebagai sumber produk makanan, bahan baku industri, dan obat," ujarnya.
Dwi menambahkan, kelompok burung air merupakan kelompok jenis-jenis burung yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di berbagai tipe habitat lahan basah, umumnya pemakan hewan invertebrata yang akan selalu mencari makan di tempat yang sama di mana ada pakan melimpah.
Lahan basah merupakan tempat aktivitas hidupnya, mulai dari mencari makan hingga berkembang biak dilakukan di lahan basah.
"Di Indonesia terdapat sekitar 184 jenis burung air yang berasal dari 20 suku," katanya.
Laily R
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.