Bogor, (Antaranews Bogor) - Ketua Bidang Hubungan Internasional MUI Pusat KH Muhyidin Junaedi MA mengingatkan semua pihak untuk menjaga emosi dalam menyikapi insiden Front Pembela Islam (FPI) di Jakarta, baik aktivis FPI maupun polisi sendiri.

"Peristiwa ini terjadi kalau emosi tidak bisa dikendalikan, Apapun yang tidak disenangi, jangan dulukan emosi," katanya setelah memimpin Shalat Idul Adha PD Muhammadiyah di Lapangan Sempur, Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu.

Menurut Muhyidin, dalam melaksanakan apa yang diinginkan hendaknya tidak mendahulukan emosi, seperti halnya melakukan unjuk rasa, agar tidak anarkis.

"Kami berharap FPI bisa menahan diri dan aparat penegak hukum juga bisa menahan diri jangan sampai anarkis. Ini perlu disikapi seperti nasehat Imam Ali "Yang namanya kebenaran bila tidak dilakukan dengan cara yang baik akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir," katanya.

Saat ditanyai sikap kepolisian dalam menyikapi FPI, Muhyidin berpendapat agar polisi tidak terlalu "over dosis" menghadapi demonstrasi masyarakat.

"Ada langkah baku yang saya lihat dalam tindakan polisi tidak perlu "over dosis" menangani demo masyarakat. Jika kita ajak mereka berkomunikasi, merangkul mereka dengan baik hal ini tidak akan terjadi. Jadi, polisi-pun jangan terlalu demonstratif," katanya.

Insiden FPI terjadi saat anggota organisasi masyarakat tersebut melakukan unjuk rasa menolak Wakil Gubernur Basuki Tjahya Purnama atau Ahok dengan sikap arogan dan blak-blakan.

Aksi menolak Ahok tersebut dilakukan beberpaa kali hingga massa bergerak ke gedung DPR RI Senayan. Kerusuhan tidak terhindarkan setelah massa melempari aparat dengan batu dan kotoran hewan.

Hingga akhirnya aparat kepolisian menjemput paksa anggota FPI di Petamburan, Jakarta.

Pewarta: Laily Rahmawati

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2014