Universitas Sriwijaya (UNSRI) dinilai layak menjadi model pusat pendidikan dan riset yang berbasis ekologi lingkungan alam, sosial dan kultur setempat dengan berbasis lahan basah, serta mempunyai keunggulan dan daya saing yang kuat dalam pengembangan keilmuan ke depan.

Hal itu disampaikan calon rektor UNSRI Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Prof Andy Mulyana kepada Antara, Sabtu.

"Basis ekosistem dan budaya Sumsel adalah basah, baik lahan lebak maupun pasang surut," kata calon rektor Universitas Sriwijaya, Prof Andy Mulyana, kepada Antara, Sabtu.

Menurut Andy, untuk mewujudkannya maka setiap fakultas harus mampu mengeksplorasi ciri khas rawa tersebut dalam bidang keilmuan masing-masing, karena potensi dan permasalahan yang ada mencakup multidisiplin keilmuan, bukan hanya bidang pertanian.

Fakultas Pertanian sendiri harus mampu mengembangkan pendidikan dan riset berbasis pertanian lahan basah termasuk gambut.

"Unsri harus unggul di sana, jangan sampai jauh didahului perguruan tinggi dan lembaga riset nasional lainnya, bahkan oleh lembaga tingkat internasional," katanya.

Baca juga: Calon Rektor Unsri Andy Mulyana: Kampus garda kebangsaan

Lebih lanjut Andy berpendapat, hingga saat ini dan bahkan ke depan, lahan rawa di Sumatera Selatan yang luasnya telah menjadi kawasan tanaman padi, tanaman pangan lainnya, termasuk kelapa sawit serta budidaya ternak dan ikan.

Pengembangan teknologi budidaya dan panen-pascapanennya masih perlu ditingkatkan tidak hanya untuk memacu kenaikan produksi, tetapi juga mengimplementasikan sistem pertanian berkelanjutan.

Berdasarkan ciri khas Unsri yang berbasis lahan basah tersebut, Andy juga menyambut baik program pemerintahan Presiden Joko Widodo yang mengembangkan lahan rawa sebagai pendukung lumbung pangan dunia pada 2045.

"Diminta maupun tidak, sebagai perguruan tinggi negeri setempat, kita siap mendukung dan mengawal program tersebut," paparnya.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian memang tengah mencanangkan program SERASI (Selamatkan Rawa dan Sejahterakan Petani) di Sumatera Selatan untuk lahan sekitar 200.000 hektar.

Potensi lahan rawa di Provinsi ini mencapai 1,4 juta hektar, suatu jumlah yang cukup luas untuk menyumbang produksi pangan nasional.

Pada tahun 2024 pemerintah menargetkan Sumatera Selatan menjadi contoh sukses pengelolaan lahan rawa modern yang berkelanjutan dengan petani yang sejahtera.

"Unsri juga memiliki Jurusan Peternakan dan Jurusan Perikanan sehingga dapat dilakukan program terpadu tanaman pangan-ternak-ikan yang dapat meningkatkan penghasilan keluarga petani”, katanya lagi.

Demikian pula Fakultas Teknik seperti Teknik Sipil harus mampu menjadi pusat rujukan keteknikan di lahan rawa.

"Unsri idealnya harus menghasilkan bangunan modern yang ramah lingkungan di lahan basah seperti nenek moyang kita dulu membangun," ujarnya.

Menurut Andy, nenek moyang kita dulu telah berhasil berdamai dengan lingkungannya sehingga kultur yang terbentuk adalah kultur rawa, dan kearifan lokal seperti itu harus diteruskan hingga ke generasi berikutnya.

Sebut saja rumah panggung, rumah terapung, atau kampung terapung merupakan cara nenek moyang beradaptasi dengan rawa.

“Persoalannya bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi maju dapat mengembangkannya di era modern ini,” katanya.

Dengan demikian kata Andy, para ahli teknik ditantang untuk mampu menginovasi teknologi pembangunan rumah, penampungan dan pengendalian aliran air berupa embung, sekat kanal, dan sistem drainase yang kokoh dan tahan lama. Demikian pula untuk infrastruktur dan sarana lain.

Potensi dan permasalahan ekonomi, sosial dan budaya di lahan basah juga sangat relevan untuk menjadi kajian keilmuan oleh fakultas lainnya di Universitas Sriwijaya karena sebagian dari masyarakatnya merupakan masyarakat multietnis dan agama.

Sistem bisnis yang berkembang, keharmonisan kehidupan maupun konflik yang terjadi di antara mereka sangat relevan untuk dikaji sehingga dapat menjadi pelajaran penting untuk tetap membina kehidupan masyarakat tetap rukun, aman dan damai.

Direktur Institut Agroekologi Indonesia (INAgri), Syahroni SP, sektor peternakan dan perikanan memang bagi masyarakat rawa tidak dapat dipisahkan karena menjadi penopang kesejahteraan petani.

Produk peternakan seperti kerbau rawa dan itik rawa bila dipoles dengan ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru dapat meningkatkan nilai tambah petani.

Demikian pula produk perikanan seperti ikan gabus, betok dan ikan rawa lainnya bernilai jual tinggi.

“Perguruan tinggi idealnya bisa menjadi katalisator di lingkungannya,” kata Syahroni, yang juga merupakan alumni Fakultas Pertanian Unsri itu. (DC/AA)

Pewarta: Oleh: Destika Cahyana

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2019