Kota Depok (ANTARA) - Pemerintah Kota Depok berkomitmen meningkatkan toleransi dan kerukunan antarwarga dengan melakukan kunjungan ke Kota Salatiga, Jawa Tengah yang dikenal salah satu wilayah paling toleran di Indonesia versi Setara Institute tahun 2024.
"Kami bersama Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) melakukan kunjungan sebagai bagian dari strategi Pemkot Depok untuk memperkuat sistem kewaspadaan dini dan memperbaiki ekosistem sosial masyarakat melalui pembelajaran langsung dari daerah yang telah berhasil," kata Kepala Badan Kesbangpol Kota Depok, Lienda Ratnanurdianny di Depok, Senin.
Ia menyebut, peningkatan Depok dari peringkat 94 pada 2023 menjadi peringkat 76 pada 2024 menunjukkan bahwa kerja-kerja toleransi sudah berada di jalur yang tepat.
“Kita ingin naik kelas. Depok sudah menunjukkan perbaikan signifikan tahun ini. Dengan mempelajari keberhasilan Salatiga, kami ingin memperkuat langkah agar Depok semakin inklusif dan harmonis," ujarnya.
Menurutnya, studi banding tersebut bertujuan untuk menggali program, pola kerja, dan sistem koordinasi antara Kesbangpol dan FKDM Salatiga yang mampu menjaga stabilitas sosial.
“Kami ingin mengetahui bagaimana pembinaan, fasilitas, dan mekanisme kolaborasi yang diterapkan sehingga mereka bisa menjadi kota toleran terbaik. Ini penting untuk memperkuat peran FKDM Depok di lapangan,” jelasnya.
Dengan struktur FKDM Depok yang terus diperkuat dan komitmen pemerintah dalam menjaga kondusivitas wilayah, Depok optimistis dapat terus naik peringkat dalam indeks toleransi nasional.
Lienda menegaskan bahwa kunjungan ini bukan hanya studi banding, tetapi langkah nyata menuju Depok yang lebih rukun dan inklusif.
“Kami ingin Depok menjadi kota yang aman, terbuka, dan saling menghormati. Pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas sosial masyarakat. Upaya hari ini adalah bagian dari perjalanan besar itu,” tegasnya.
Kenaikan signifikan Depok dalam Indeks Kota Toleran 2024 disebut menjadi bukti bahwa pemerintah daerah memiliki arah yang jelas dalam memperkuat kohesi sosial.
Dengan berbagai terobosan dan kolaborasi, Pemkot Depok berharap capaian tersebut terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
Kepala Badan Kesbangpol Kota Salatiga, Suryono Adi Setiawan, menyampaikan bahwa toleransi di kotanya dibangun melalui kesadaran masyarakat, bukan sekadar penilaian lembaga.
“Toleransi bukan paksaan. Ini budaya yang tumbuh dari kesadaran hidup berdampingan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa seluruh laporan dari masyarakat, mulai tingkat kecamatan hingga RT, dianalisis secara berjenjang oleh Badan Kesbangpol.
“Hasil analisis kemudian menjadi dasar pembuatan kebijakan daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua FKDM Salatiga, Darmaji, menambahkan bahwa keberhasilan mereka tak lepas dari sistem pemantauan berlapis yang melibatkan FKDM tingkat kota, kecamatan, dan kelurahan.
“Setiap kegiatan masyarakat baik pengajian, PKK, maupun sekolah Minggu terpantau dengan baik. FKDM bertugas mengamati dan melaporkan, bukan mengambil tindakan, sehingga suasana tetap kondusif,” katanya.
Baca juga: Pemkot apresiasi Festival Kesetaraan Inklusi Depok jadi ruang kreatif warga
Baca juga: Pemkot Depok data hewan terlantar lewat Platform Satu Peta Anabul
Baca juga: PMI Depok kirim 100 kantong darah bantu korban bencana banjir dan longsor di Sumatera
