Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk memanfaatkan hujan yang masih turun sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.
"Secara umum NTB masih berada pada periode transisi dari musim hujan menuju musim kemarau, sehingga masih terdapat potensi hujan pada pertengahan April 2026," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB Cakra Mahasurya Atmojo di Mataram, Sabtu.
Analisa BMKG menyebut peluang curah hujan dengan intensitas di atas 50 milimeter per dasarian masih berkisar antara 30 hingga 70 persen pada dasarian II April 2026 atau periode 11-20 April.
Cakra mengatakan daerah yang diprediksi mengalami hujan di atas 50 milimeter per dasarian meliputi bagian utara Lombok, Sumbawa, dan Bima.
"Selain itu ada peluang hujan dengan intensitas lebih tinggi di atas 100 milimeter per dasarian sekitar 10 hingga 20 persen yang terjadi di sekitar wilayah Tambora, Kabupaten Bima," ucapnya.
Baca juga: BMKG peringatkan kondisi lebih kering pada musim kemarau 2026
Baca juga: BMKG laporkan ada tujuh provinsi alami kekeringan ekstrem
Baca juga: BMKG imbau masyarakat antisipasi kekeringan imbas meningkatnya El Nino
Lebih lanjut Cakra menyampaikan hujan masih berpeluang terjadi secara sporadis meski ada kecenderungan penurunan curah hujan menjelang periode musim kemarau, sehingga potensi hujan yang masih ada di Nusa Tenggara Barat.
Hujan yang turun selama 10 hari ke depan bisa dimanfaatkan untuk menambah cadangan air guna memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun sektor pertanian.
"Masyarakat dapat memanfaatkan hujan yang masih terjadi guna mengantisipasi kekeringan yang umumnya terjadi pada musim kemarau," pungkas Cakra.
Kondisi hari tanpa hujan saat ini masih didominasi kategori sangat pendek hanya 1-5 hari yang mengindikasikan musim kemarau belum sepenuhnya menguat.
Berdasarkan prakiraan BMKG, Nusa Tenggara Barat mengalami musim kemarau dengan dominan sekitar 25 hingga 27 dasarian atau setara delapan hingga sembilan bulan.
Awal musim kemarau dimulai pada April 2026, sedangkan periode puncak diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 yang melanda sekitar 89 hingga 90 persen wilayah NTB.
Editor : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026