Bogor (Antara Megapolitan) - Wali Kota Bogor, Jawa Barat Bima Arya Sugiarto mengatakan fenomena alam Gerhana Matahari yang terjadi tahun ini membuat masyarakat lebih religius, dilihat dari banyaknya yang hadir untuk melaksanakan shalat gerhana secara berjamaah, Rabu.

"Berbeda ketika tahun 1983 lalu, minimnya informasi dan belum berkembangnya teknologi, masyarakat melalui terjadinya gerhana dengan rasa ketakutan, tetapi tahun ini masyarakat lebih teredukasi dan terinformasikan untuk melaksanakan shalat gerhana, membuat kita lebih religius," kata Bima.

Menurut Bima Arya lebih lanjut, melaksanakan shalat gerhana merupakan pengalaman pertama seumur hidupnya. Ada rasa keharuan saat melaksanakan shalat yang dipimpin oleh KH Badrudin Subki, yang begitu khusyuk melaksanakan shalat hingga di setiap rakaat ketika membacakan surah, suaranya berat dan terisak menahan tangis.

"Ada keharuan yang amat dalam, menunjukkan kepada kita begitu besar kekuasaan Allah, menjadikan Matahari, bulan dan bumi sejajar hingga terjadi fenomena gerhana Matahari. Dan peristiwa ini tidak terjadi setiap tahun atau setiap hari, tetapi harus menunggu 350 tahun lagi," katanya.

Ia mengatakan pula, ada suasana hati yang berbeda ketika dirinya melaksanakan Shalat Gerhana untuk pertama kalinya. Berbeda dengan suasana melaksanakan shalat Jumat yang tiap hari Jumat dilaksanakan ataupun Shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

"Shalat gerhana ini berbeda, dan mungkin ini akan menjadi shalat sekali seumur hidup, berbeda dengan shalat Jumat yang dapat kita laksanakan setiap hari Jumat atau Shalat Idul Fitri dan Idul Adha yang setiap tahun kita lakukan," kata Politisi PAN tersebut.

Shalat gerhana, lanjutnya, adalah momentum bagi umat muslim untuk mengingat kebesaran Allah SWT, setiap tanda-tanda kebesarahannya dan banyak rahasia Tuhan yang tersimpan yang dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan.



Terknologi Informasi

Menurut Bima lagi, zaman sekarang, teknologi informasi telah berkembang dengan pesat, fenomena gerhana Matahari inipun menjadi sarana edukasi, informatif kepada masyarakat hingga mendorong pergerakan ekonomi lewat pariwisata.

"Dan melalui teknologi informasi pula, masyarakat diajak untuk lebih religius menyikapinya dengan beribadah shalat, zikir, dan bersedekah," katanya.

Pengalaman ini, katanya, berbeda ketika 33 tahun silam, saat itu dirinya masih duduk di kelas empat sekolah dasar. Karena belum berkembangnya teknologi informasi, masyarakat lebih banyak ketakutan dengan terjadinya gerhana Matahari. Banyak mitos yang berkembang, bahwa gerhana Matahari karena ada naga yang turun menelan Matahari, ada ibu hamil yang dilarang keluar rumah karena takut anaknya menjadi hitam.

"Pada 33 tahun silam itu masyarakat belum mendapatkan informasi yang informatif terkait gerhana Matahari, jadi lebih banyak ketakutan, belum banyak imbauan untuk melaksanakan shalat. Tahun ini zaman telah berkembang dan pemahaman masyarakat juga ikut berkembang," katanya.

Bima bersama ribuan warga Kota Bogor menggelar shalat sunnah gerhana yang dipusatkan di Masjid Raya Bogor.

Turut hadir mendampingi Kapolres Bogor Kota AKBP Andi Herindra, dan pengurus DKM Masjid Raya Bogor.

KH Badrudin Subki mengatakan, gerhana Matahari merupakan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah, yang telah mengatur pergerakan benda-benda di langit, dan juga di bumi. Fenomena tersebut hendaknya disikapi dengan mendekatkan diri kepada Allah, melaksanakan ibadah shalat gerhana, berzikir, dan bersedekah.

"Shalat gerhana hukumnya sunnah muakat, artinya sunnah yang dianjurkan, banyak kebaikan yang terkandung di dalamnya. Kita patut bersyukur karena dapat menyaksikan fenomena alam yang terjadi sekali dalam 350 tahun, dan Indonesia diberkahi karena satu-satunya negara yang dilintasi gerhana Matahari total, ada di 11 provinsi," kata dia.

Pewarta: Laily Rahmawati

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2016