Tim dari pusat riset Tropical Renewable Energy Center (TREC) Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) sukses menghasilkan perangkat DCON yang mendapatkan pengakuan internasional.

Wakil Rektor UI Bidang Riset dan Inovasi, drg. Nurtami, Ph.D., Sp,OF(K) dalam keterangannya di Depok, Rabu, mengatakan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari Nota Kesepahaman  (MoU) antara University of Hawaii dan Universitas Indonesia pada 27 Juli 2017 yang menyetujui kerja sama program internasional dan mendorong pertukaran dosen, cendekiawan, mahasiswa dan informasi akademik.

Di antara delapan kegiatan pertukaran yang telah disepakati kedua universitas, salah satunya adalah organisasi program penelitian.

Baca juga: BRIN: 90 persen penelitian di Indonesia dihasilkan perguruan tinggi

Sebanyak tiga DCON yang merupakan perangkat konversi daya listrik berkapasitas tiga kilowatt telah dipesan oleh The Hawaii Natural Energy Institute (HNEI). Lembaga ini adalah salah satu pusat riset energi terkemuka di Amerika Serikat.

DCON akan menjadi komponen utama dalam pengembangan sistem jaringan listrik arus searah atau DC microgrid yang tengah dikembangkan di Coconut Island, Hawaii.

DCON ini berfungsi untuk mengkonversi daya listrik dari baterai yang diisi dari sumber energi terbarukan, seperti panel surya atau turbin angin untuk kemudian disalurkan pada peralatan listrik rumah tangga hingga pengisian baterai kendaraan listrik.

Ketua Tim pusat riset TREC FTUI Dr. Ing. Eko Adhi Setiawan mengatakan untuk itu, Research Corporation University of Hawaii (RCUH) mengadakan Agreement for Services dengan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, dimana TREC menyediakan tiga buah DCON.

Baca juga: UI selenggarakan kegiatan bulan riset dan inovasi

Perjanjian ini bertujuan untuk mengembangkan penelitian kolaboratif antara HNEI dan TREC, menindaklanjuti penelitian yang saling menguntungkan, serta berbagi pengetahuan untuk mencapai state of the art pada penelitian jaringan listrik se arah ini secara internasional, demikian penegasan dari Principal Investigator HNEI dalam surat elektroniknya.

DCON yang dikembangkan sejak beberapa tahun terakhir oleh pusat riset TREC FTUI, saat ini mendapat dukungan dana dari pemerintah melalui program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) hingga hilirisasi produk.

Alat ini pun telah diverifikasi oleh tim Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) pada level tujuh, yang berarti bahwa perangkat ini sudah melalui pengujian pada kondisi sebenarnya dan persiapan masuk ke tahap komersialisasi, ujar Eko yang juga menjabat sebagai Kaprodi Magister Teknik Sistem Energi FTUI.

Baca juga: UI-Etana jalin kerja sama riset dan pengembangan obat berbasis bioteknologi

Riset DCON selaras dengan agenda besar dunia, yaitu energy transition dimana penggunaan energi terbarukan akan semakin marak di tengah masyarakat yang mulai beralih dari energi listrik berbasis batubara.

Untuk itu FTUI terus mendorong penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan teknologi energi terbarukan untuk menuju Net Zero Emission di lingkungan fakultas teknik ujar, dekan FTUI tersebut.

Hal ini terbukti dengan pemasangan 101 kW di Gedung Integrated Creative Engineering Learning (I-CELL) dan 10 kilowatt pembangkit listrik panel surya bifacial terapung pertama di Indonesia dengan pihak industri, sejak awal tahun 2020.
 

Pewarta: Feru Lantara

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2021