Dekan Faklutas Hukum Universits Pancasila (FHUP) Prof. Eddy Pramono, S.H., M.A meluncurkan buku Pengabdian Tanpa Henti dengan judul buku "Diplomat Kesasar" di Aula Nusantara FHUP, Rabu (21/10).

"Prof. Eddy Pratomo adalah sosok diplomat langka yang tak pernah lelah untuk terus bersekolah," kata Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi saat memberikan pengantar pada peluncuran buku Otobiografi ”Diplomat Kesasar” karya Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman (2009-2013) Prof. Dr. Eddy Pratomo, SH, MA, yang digelar secara virtual, Rabu (21/10).

Menlu Retno Marsudi menyebut Eddy Pratomo Sosok Diplomat Langka. Diplomat adalah profesi yang menuntut pelakunya tidak berhenti meng update diri dan terus belajar. Tidak mengenal titik, karena semuanya masih koma. 

Menurut Menlu Retno, selain tekun belajar hingga meraih gelar doktor dan dikukuhkan sebagai guru besar hukum internasional, ada hal lain yang perlu dijadikan pembelajaran dari sosok Eddy Pratomo. Yakni, ”karier nonformal” yang ia tekuni, terutama setelah purna tugas dari Kementerian Luar Negeri.

Di samping mengajar di sejumlah kampus, Mas Eddy juga aktif sebagai konsultan hukum di berbagai perusahan dan perbankan nasional serta menjadi pelaku usaha. Mulai dari alat kesehatan, pertambangan hingga barang rongsokan, demikian komentar Dr. Hassan Wirajuda (Menteri Luar Negeri 2004-2014).

"Autobiografi ini menarik dibaca, karena tidak hanya menampilkan ’karier formal’ Mas Eddy sebagai diplomat. Lebih jauh, buku ini juga menyajikan estafet perjalanan hidup beliau yang patut diteladani," kata Retno, yang mengaku telah mengenal Eddy Pratomo sejak 25 tahun lalu.
Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila Dr. (HC). Ir. Siswono Yudo Husodo ketika memberikan sambutan dalam peluncuran dan bedah buku Prof. Eddy Pratomo Pengabdian Tanpa Henti dengan judul buku "Diplomat Kesasar" di Aula Nusantara FHUP, Rabu (21/10).(ANTARA/Foto: Humas UP)


Dalam peluncuran buku yang sekaligus menandai peringatan Dies Natalies Universitas Pancasila ke-54 itu, tampil empat pembahas yang membedah buku tersebut dari berbagai perspektif.

Mereka adalah Dirjen Hukum dan Perjanjian Internasional - Kemenlu Damos D. Agusman, Dirjen Administrasi Hukum Umum - Kemenkumham Cahyo Muzhar, Dirjen Perdagangan Luar Negeri - Kemendag Didi Sumedi, dan Inspektur Jenderal Kemenlu Ibnu Wahyutomo.

Pimpinan Universitas Pancasila yang Telah berikan testimoni adalah Dr. (HC). Ir. Siswono Yudo Husodo, Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina Univeritas Pancasila (YPPUP), Prof. D. Edie Toet Hendratno, S.H., M.Si. Ketua  Pengurus YPPUP, dan Prof. Dr. Wahono Sumaryono, Apt. Rektor Universitas Pancasila.

Dimoderatori Dubes Mulya Wirana, peluncuran buku terbitan Elex Media Komputindo yang disunting oleh Nanang Junaedi itu juga ditandai dengan penyerahan buku dari penerbit kepada penulis.

Saat mengantar acara, Dubes Eddy Pratomo menjelaskan, autobiografinya memang tidak melulu bercerita tentang perjalanan karier diplomat yang ia tekuni selama 32 tahun. Ia lebih dulu mengajak pembaca mengembara ke era 1965-1966 dengan latar kampung halamannya di Kendal - Jawa Tengah.

"Banyak memori pribadi yang sangat membekas, terutama dipicu oleh sengkarut perpolitikan Tanah Air pada masa itu," ujarnya.

Lantas, kenapa Diplomat Kesasar? Menurut Eddy, kehidupan pribadinya memang sarat diwarnai cerita kesasar. Setelah menamatkan pendidikan guru agama tingkat pertama di Kendal, ia melanjutkan sekolah calon penghulu di Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) Yogyakarta. 

”Batal jadi naib, saya malah terdampar jadi mandor perusahaan kayu di pedalaman hutan Kalimantan, sebelum akhirnya ’kesasar’ masuk Kemenlu,” tuturnya.

Karier panjang Eddy Pratomo sebagai diplomat di New York, Jenewa, London dan Berlin, silih berganti dengan penugasan di birokrasi. Di antaranya sebagai Dirjen Hukum Perjanjian Internasional Kemenlu, Staf Khusus Ketua DPR RI, serta Utusan Khusus Presiden untuk Penetapan Batas Maritim antara Republik Indonesia dan Malaysia (2015-2018). Di ranah akademik dan dunia usaha, Eddy bahkan kesasar ke mana-mana.

”Tanpa bermaksud sok-sokan, tidak banyak duta besar yang menjadi guru besar sekaligus produsen alat kesehatan, berbisnis barang rongsokan hingga pertambangan,” ujar bapak tiga anak ini. 

Selepas pensiun dari Kemenlu, Eddy bahkan masih kesasar menjadi birokrat kampus usai terpilih sebagai dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Mei lalu.

Saat ini, Eddy Pratomo juga masih mengemban amanah sebagai Staf Ahli Kementerian Kelautan dan Perikanan bidang Penanggulangan Illegal Fishing dan Staf Ahli Kemenlu bidang Perundingan Batas Maritim antara Indonesia dengan Negara Tetangga.

Pewarta: Pewarta Antara

Editor : Feru Lantara


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2020