Bandung (ANTARA) - Provinsi Jawa Barat (Jabar) resmi memasuki fase populasi menua (aging population) seiring dengan penyusutan Angka Kelahiran Yotal (TFR) hingga di bawah tingkat penggantian (replacement level), di tengah tren perbaikan ketimpangan gender yang kian signifikan.
Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, jumlah penduduk Jabar tercatat sebanyak 50,94 juta jiwa. Namun di balik pertumbuhan 1,12 persen sejak 2020 tersebut terjadi pergeseran demografi yang mencolok dengan persentase penduduk lanjut usia (60 tahun ke atas) kini menembus 11,51 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar Margaretha Ari Anggorowati di Bandung, Selasa, mengungkapkan TFR Jabar kini berada di level 2,05. Angka ini secara teknis telah berada di bawah ambang batas tingkat penggantian sebesar 2,1.
Rata-rata terdapat dua kelahiran dari perempuan usia 15-49 tahun semasa hidupnya. Hal ini terutama didorong oleh tingkat kelahiran pada perempuan di kelompok umur 15-19 dan 20-24 yang menurun signifikan.
BPS mencatat Kota Bandung sebagai wilayah dengan tingkat fertilitas terendah (1,82), sementara Kabupaten Garut masih menjadi yang tertinggi (2,32).
Baca juga: BPS Jabar sebut kebijakan pemerintah tingkatkan kunjungan wisata akhir 2025
Ari menilai disparitas itu mencerminkan perbedaan karakteristik sosial, budaya, dan akses kesehatan antar-wilayah.
Meski dihantui fenomena penduduk menua, kualitas kesehatan bayi menunjukkan lompatan besar. Angka Kematian Bayi (IMR) kini berada di level 12,84 per 1.000 kelahiran hidup, atau turun lebih dari setengahnya dibandingkan data SP2010.
Pewarta: Ricky PrayogaUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026