Mataram (ANTARA) - Musim hujan beberapa waktu terakhir menghadirkan pemandangan yang berbeda di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).
Sungai-sungai kecil yang dahulu tenang tiba-tiba berubah menjadi aliran deras. Lumpur mengalir ke pemukiman, jalan rusak, dan beberapa wilayah mengalami banjir bandang yang sebelumnya jarang terjadi. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa keseimbangan alam di provinsi kepulauan ini sedang menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah daerah di NTB mengalami bencana hidrometeorologi yang kian sering muncul. Banjir bandang, longsor, dan kerusakan infrastruktur menjadi peristiwa yang semakin akrab. Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan tutupan lahan yang terjadi selama bertahun-tahun.
Hutan yang dahulu menjadi benteng alami perlahan berkurang akibat alih fungsi lahan, pembukaan kebun, hingga aktivitas ekonomi yang tidak selalu memperhitungkan daya dukung lingkungan.
Ketika vegetasi hilang, tanah kehilangan kemampuannya menahan air. Air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah berubah menjadi aliran permukaan yang membawa lumpur, batu, dan sisa material lainnya ke wilayah hilir.
Dalam konteks ini, gerakan menanam pohon kembali menjadi wacana penting. Pemerintah daerah, masyarakat, perguruan tinggi, hingga sektor swasta mulai menghidupkan kembali semangat penghijauan.
Pemerintah Provinsi NTB bahkan menyiapkan ratusan bibit pohon untuk dibagikan kepada masyarakat agar dapat ditanam di lingkungan masing-masing.
Gerakan tersebut sebenarnya bukan sekadar simbol kepedulian lingkungan. Ia merupakan bentuk kesadaran bahwa menanam pohon adalah langkah paling mendasar untuk memulihkan ekosistem yang terganggu.
Pohon bekerja seperti infrastruktur alami yang tidak terlihat. Akar menahan tanah, batang menyimpan karbon, dan daun membantu menjaga keseimbangan siklus air.
Kesadaran itu perlahan muncul kembali di berbagai daerah di NTB. Di Lombok Tengah, misalnya, ratusan bibit pohon ditanam di kawasan hutan Desa Tumpak sebagai upaya memperkuat tutupan lahan sekaligus menjaga ketersediaan air tanah. Jenis tanaman yang dipilih bukan hanya tanaman keras, tetapi juga tanaman buah yang dapat memberi manfaat ekonomi bagi warga.
Sementara di Sumbawa, rehabilitasi daerah aliran sungai dilakukan melalui penanaman puluhan ribu pohon di kawasan hutan produksi terbatas. Program tersebut diarahkan untuk memperbaiki kondisi ekologis wilayah tangkapan air sekaligus memperkuat produktivitas lahan pertanian di sekitarnya.
Di Lombok Timur, kegiatan penghijauan bahkan menyasar kawasan wisata pegunungan Sembalun yang selama ini menjadi salah satu destinasi alam paling terkenal di NTB.
Penanaman pohon di perbukitan dilakukan untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan penyangga agar mampu mengurangi risiko longsor dan menjaga sumber air bagi masyarakat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa gerakan menanam pohon di NTB bukan lagi sekadar kampanye simbolis. Ia mulai menjadi kesadaran kolektif bahwa menjaga alam adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan daerah.
Infrastruktur alam
Banyak orang memandang pohon hanya sebagai elemen penghijauan. Padahal dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, pohon memiliki fungsi yang jauh lebih luas. Ia adalah bagian dari sistem perlindungan lingkungan yang bekerja secara alami.
Setiap pohon memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida sekaligus melepaskan oksigen ke atmosfer. Data dari Arbor Day Foundation menyebutkan satu pohon dewasa dapat menyerap sekitar 21 kilogram karbon dioksida setiap tahun. Jika ribuan pohon ditanam dan tumbuh dengan baik, kontribusinya terhadap pengurangan emisi karbon menjadi sangat signifikan.
Di NTB, manfaat pohon tidak hanya berkaitan dengan isu perubahan iklim global. Ia juga berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sebagian besar penduduk di provinsi ini menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
Ketika tutupan hutan berkurang, daya serap tanah terhadap air ikut menurun. Akibatnya, sumber mata air menyusut dan musim kemarau terasa lebih panjang. Kondisi ini sudah mulai dirasakan di beberapa daerah, termasuk di wilayah yang dahulu dikenal memiliki banyak sumber air alami.
Karena itu, penanaman pohon sebenarnya adalah upaya memperbaiki siklus air. Akar pohon membantu air hujan meresap ke dalam tanah dan mengisi kembali cadangan air bawah tanah. Dalam jangka panjang, proses ini menjaga keberlanjutan mata air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Di wilayah pesisir, fungsi pohon bahkan lebih penting lagi. Vegetasi pantai seperti mangrove, cemara laut, dan ketapang berperan sebagai pelindung alami dari gelombang besar dan abrasi. Di Kota Mataram, misalnya, ribuan pohon ditanam di sepanjang garis pantai untuk memperkuat ketahanan wilayah pesisir dari dampak perubahan iklim.
Gerakan menanam pohon juga semakin berkembang melalui pendekatan ekonomi. Banyak program penghijauan kini menggunakan tanaman produktif seperti kopi, alpukat, durian, atau kemiri. Pendekatan ini memberi insentif langsung bagi masyarakat untuk merawat pohon yang ditanam.
Di Dompu, misalnya, penanaman pohon kemiri dikembangkan sebagai model kehutanan berbasis masyarakat. Selain menjaga tutupan lahan, tanaman ini juga memberikan potensi pendapatan bagi petani setelah memasuki masa produksi.
Pendekatan serupa juga terlihat dalam berbagai program rehabilitasi lahan di Pulau Sumbawa yang menggabungkan konsep agroforestri. Sistem ini memungkinkan masyarakat menanam tanaman kehutanan sekaligus tanaman pertanian dalam satu lahan yang sama.
Dengan cara ini, gerakan menanam pohon tidak lagi dipandang sebagai beban ekologis, tetapi sebagai peluang ekonomi baru yang lebih berkelanjutan.
Gerakan hijau
Meski berbagai inisiatif penghijauan telah bermunculan, tantangan terbesar sebenarnya bukan pada kegiatan menanam pohon, melainkan memastikan pohon tersebut tumbuh dan bertahan hingga dewasa.
Banyak program penanaman pohon gagal mencapai dampak maksimal karena berhenti pada tahap seremonial. Bibit ditanam secara simbolis, tetapi tidak diikuti perawatan yang memadai. Tanpa pemeliharaan yang baik, sebagian besar pohon tidak mampu bertahan menghadapi musim kemarau atau gangguan lingkungan lainnya.
Karena itu, gerakan penghijauan membutuhkan pendekatan yang lebih sistematis. Penanaman pohon harus diikuti dengan program perawatan jangka panjang yang melibatkan masyarakat sebagai aktor utama.
Model adopsi pohon yang mulai diterapkan di beberapa daerah bisa menjadi salah satu solusi. Dalam konsep ini, setiap individu atau kelompok bertanggung jawab merawat pohon yang ditanam hingga benar-benar tumbuh besar.
Pendekatan lain yang penting adalah mengintegrasikan gerakan menanam pohon dengan program pembangunan desa. Ketika penghijauan dikaitkan dengan sumber penghidupan masyarakat, peluang keberhasilannya menjadi jauh lebih besar.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga perlu memperkuat kebijakan tata ruang yang melindungi kawasan hutan dan daerah resapan air. Tanpa perlindungan yang jelas, upaya menanam pohon akan sulit mengejar laju kerusakan lingkungan yang terjadi.
Kolaborasi lintas sektor juga menjadi kunci penting. Penghijauan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Perusahaan, lembaga pendidikan, komunitas lokal, hingga generasi muda perlu terlibat dalam gerakan yang sama.
Di banyak tempat di NTB, sinergi seperti ini mulai terlihat. Program penanaman pohon kini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa hingga dunia usaha. Partisipasi masyarakat menjadi fondasi utama dari upaya memulihkan lingkungan.
Menanam pohon bukan sekadar aktivitas ekologis. Ia adalah pernyataan moral bahwa manusia memiliki tanggung jawab menjaga bumi yang menjadi tempat hidupnya.
Bagi NTB, gerakan menanam pohon adalah investasi masa depan. Pohon yang ditanam hari ini mungkin baru memberi manfaat beberapa tahun ke depan, tetapi dari situlah fondasi keberlanjutan daerah dibangun.
Ketika satu pohon tumbuh, ia tidak hanya meneduhkan tanah di sekitarnya. Ia juga menjadi simbol harapan bahwa alam masih bisa dipulihkan, selama manusia mau memulainya dari langkah sederhana.
