Beijing (ANTARA) - Beijing mengadakan berbagai kegiatan untuk menyemarakkan tahun baru Imlek 2026, salah satunya di taman hiburan Shijingshan dengan penampilan parade budaya, hiasan lampion, kios makanan pada 17-23 Februari 2026.
Berbeda dari pusat kota Beijing yang lengang, taman hiburan Shijingshan yang terletak sekitar 20 kilometer sebelah barat dari pusat kota justru dipadati pengunjung yang datang bersama keluarga mereka.
Pengunjung dapat membeli tiket masuk seharga 10 RMB (sekitar Rp24 ribu) secara daring dengan memindai kode QR yang terpasang di area pintu masuk melalui aplikasi Alipay.
Dengan sistem pembelian daring, pengunjung hanya perlu mengantre sekitar sepuluh menit untuk dapat menikmati berbagai pertunjukan yang digelar hampir setiap 30 menit, mulai pukul 10.00 hingga 21.00 waktu setempat sekaligus berinteraksi dengan para pengisi acara.
Baca juga: China terapkan bebas visa untuk warga Inggris dan Kanada
Salah satu penampilan yang ditunggu adalah parade gendang pinggang dari Ansai atau (dibaca nsài yog) yang terdaftar sebagai warisan budaya tak benda nasional China sejak 2006.
Permainan gendang pinggang dari Ansai tersebut dilaksanakan enam kali dalam sehari dan dibawakan oleh sekitar 30 pemain pria dan wanita berkostum dominan merah dan putih yang tersusun dalam delapan baris yang masing-masing terdiri dari empat orang.
Pemain pria mengenakan atasan dominan putih bermotif kembang di dada dan ikat kepala tradisional putih atau "tóujn" yang mirip seperti udeng, sementara pemain wanita menggunakan atasan dominan merah dengan hiasan kembang di pundak dan rambut yang dikucir ke sisi kiri.
Pada baris pertama, terdapat "gwáng" atau gendang berdiameter sekitar 80 sentimeter yang dimainkan oleh dua orang dengan satu orang menabuh sementara satu orang menariknya dan diiringi dua pemain simbal tradisional untuk membuka irama utama.
Baca juga: Margocity gelar pertunjukkan Barongsai Baby
Sementara pemain di baris dua hingga delapan membawa "yāogǔ" atau gendang dua sisi dengan panjang sekitar 30 sentimeter yang diikat di pinggang bagian kiri dan ditabuh dengan dua "gǔchuí" atau stik di kedua sisinya dengan ritme tiga ketukan berulang.
Pengunjung juga dapat berinteraksi dengan para pemain dalam parade lain yang menampilkan barongsai, rombongan berbusana tradisional China, dan sosok "cáishén" atau “dewa kekayaan”.
Tokoh "cáishén" yang membawa "yuánbǎo" atau emas berbentuk seperti perahu kecil yang menjadi simbol keberuntungan menjadi rebutan pengunjung untuk menyentuhnya.
Jika lelah, pengunjung dapat beristirahat dan menikmati hiasan lampion dan patung shio sembari menyantap berbagai jajanan khas China.
Berbagai jajanan seperti "chòu dòufu" atau tahu busuk goreng dengan kuah kental asin, sate ayam dan kambing jumbo berbumbu jintan dan bubuk cabai, dan berbagai minuman dapat dibeli dengan harga mulai dari 15 RMB (Rp36 ribu).
Baca juga: Tren ajakan "mudik terbalik" semasa Imlek populer bagi kalangan muda China
Bila ingin menyaksikan lampion dan pertunjukkan gendang pinggang dari Ansai di bawah bianglala, pengunjung disarankan datang pada malam hari karena penampilan tersebut berpadu dengan permainan lampu yang menampilkan kemeriahan suasana Imlek.
Di taman hiburan seluas 350 ribu meter persegi tersebut, pengunjung juga bisa bermain berbagai wahana seperti kereta luncur, bianglala, hingga rumah hantu.
Namun, untuk bisa menikmati berbagai permainan tersebut, pengunjung harus membeli tiket secara terpisah di pintu masuk tiap wahana.
Pewarta: Desca Lidya Natalia dan Rizki Dwi WibawaUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026