Karya ilmiah ini harus disiapkan jauh-jauh hari, sehingga ketika ada lomba, kita sudah memiliki karya.Bogor (ANTARA News Megapolitan) - Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor membentuk Klub Karya Ilmiah Polbangtan (KKIP), untuk meningkatkan kemampuan nalar mahasiswa dalam bidang karya ilmiah guna memunculkan peran aktif mahasiswa dalam pengolahan ide dan daya pikir kritis.
"Karya ilmiah ini harus disiapkan jauh-jauh hari, sehingga ketika ada lomba, kita sudah memiliki karya. Karya ilmiah perlu proses, tidak mungkin dibuat secara mendadak. Selain itu pula dibutuhkan orang-orang yang ulet," kata Pembina KKIP, Dr. drh. Endang Endrakasih, di kampus Cinagara Bogor, Jumat.
Salah satu kelompok KKIP adalah LIM yang merupakan singkatan dari nama-nama anggotanya. Mereka adalah Siti Nurlita (Lita), Ikhwan Multida (Ikhwan), dan Mutia Sari (Mutia).
Mereka merupakan perwakilan terpilih dari Jurusan Peternakan Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor dalam kegiatan olimpiade perguruan tinggi kedinasan(OPTK) dalam bidang perlombaan karya tulis ilmiah (LKTI) yang akan dilaksanakan pada akhir Maret 2019.
Tema yang akan diangkat mengenai kepedulian mahasiswa akan peternak Indonesia. Seperti yang kita ketahui, peternakan di Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan.
Namun, meski potensinya cukup besar kendala yang harus dihadapi para peternak pun tidak kalah sulit, salah satu kendala para peternak dalam usaha peternakan ialah pakan. Hal itu karena pakan menjadi penyumbang terbesar dalam biaya produksi yang harus dikeluarkan.
Mahalnya harga pakan membuat para peternak kesulitan, bahkan mengalami kerugian, akibat besarnya biaya produksi dibandingkan keuntungan yang didapatkan.
Pakan alternatif diharapkan menjadi solusi guna menekan biaya produksi yang terlalu tinggi. Oleh karena itu, tim LIM sebagai mahasiswa yang peduli kepada para peternak Indonesia melakukan penelitian di bidang pakan alternatif.
Dengan judul penelitian "Pengaruh Pemberian Feses Ayam Murni dan Feses Ayam Fermentasi Terhadap Pertumbuhan Bobot Badan Ayam KUB".
Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan, dimulai pada 12 Januari - 12 februari 2019 terhadap 45 ekor ayam Ayam Kampung Unggul Badan Litbang Pertanian (KUB)
Pakan alternatif yang diujikan tim tersebut diharapkan menjadi solusi bagi para peternak Indonesia terutama dalam menyiasati tingginya harga pakan. Dalam penelitian ini feses yang diujikan tidak menjadi bahan pakan utama atau penggati pakan utama, melainkan hanya sebagai pakan tambahan.
Pakan tersebut merupakan campuran pakan pabrik dengan tepung feses murni atau tepung feses fermentasi. Persentasi antara tepung feses atau feses fermentasi dengan pakan pabrik yang tepat untuk ayam KUB masih dalam tahap pengujian.
"Semoga penelitian kami ini menjadi solusi akan mahalnya harga pakan yang sering dikeluhkan peternak," kata Siti Nurlita.
"Kita membayangkan jika pakan yang diperlukan sebanyak 1 kwintal dengan pemberian tepung feses atau feses fermentasi 10 persen saja. Berarti 10 Kg dari satu kwintal itu telah dihemat, maka biaya produksi bisa ditekan. Itu baru 1 kwintal bagaimana dengan 1 ton. Berapa biaya yang bisa disimpan para peternak," tandasnya.
Editor berita: Alex Sariwating
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.