Depok (ANTARA) - Delegasi Indonesia yang terdiri dari Dr. Devie Rahmawati (Associate Professor Program Vokasi Universitas Indonesia), M. Zaky Ramadhan (Folks Studio), Dr. Wiratri Anindhita (Universitas Negeri Jakarta), dan Assoc. Prof. Dr. La Mani (Bina Nusantara University) dan Elli Muliawan (SGI), melakukan kunjungan ke Min-On Concert Association.

Kedatangan delegasi Indonesia untuk mempelajari bagaimana musik dapat menjadi medium dialog lintas bangsa, sekaligus membahas peluang pembelajaran dan kolaborasi budaya yang relevan dengan Indonesia.

Pertemuan dilakukan bersama pimpinan Min On yaitu Koji Yamaguchi dan Matsuo Toshiaki.

Kunjungan ini meninggalkan kesan mendalam sejak awal, ketika delegasi Indonesia disambut hangat melalui alunan angklung, sebagai simbol yang musik bukan sekadar pertunjukan, melainkan bahasa persahabatan yang melampaui batas negara.

“Min-On memperlihatkan bahwa perdamaian sering kali dimulai bukan dari panggung besar, tetapi dari cara kita mengundang orang untuk merasa diterima,” ujar Devie Rahmawati dalam keterangannya, Kamis.

“Sambutan angklung adalah contoh kecil namun kuat, bahwa dialog bisa hadir sebelum kata-kata," ujarnya.

Dalam sesi diskusi, delegasi menyoroti bagaimana fasilitas dan pendekatan yang dibangun Min-On sejak awal membawa pesan yang tegas, musik harus dapat dinikmati oleh siapa pun, tidak terhalang status sosial, jarak, atau akses.

Delegasi juga mengapresiasi praktik yang dilakukan oleh  Bapak Daisaku Ikeda, yang menjadikqn berbagai instrumen alat musik legendaris dan tradisional, tidak diposisikan sebagai pajangan, tetap dihidupkan terus dengqn cara dimainkan, dan dihadirkan sebagai pengalaman publik.

“Kami melihat satu prinsip yang sangat relevan bagi Indonesia yaitu kebudayaan tidak boleh menjadi benda museum,” lanjut Devie.

“Kebudayaan harus menjadi pengalaman hidup, yang menguatkan emosi, membangun empati, dan melatih kita untuk mendengar,” ujarnya.

Zaky Ramadhan memaparkan pendekatan Indonesia mengenai pembaruan tradisi, termasuk contoh Yogyakarta Royal Orchestra, sebagai upaya menjaga akar budaya, sambil terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

“Kami belajar dari spirit yang konsisten, bahwa mempertahankan nilai tidak berarti membekukan bentuk,” ujar Zaky.

“Yogyakarta Royal Orchestra adalah contoh bagaimana tradisi bisa diperbarui tanpa kehilangan martabatnya, sejalan dengan semangat pembaruan yang juga kita lihat di Min-On, dalam menjaga agar musik tradisi lokal tetap hidup, didengar, dan dicintai generasi baru," tuturnya.

“Ketika anak muda hidup dalam arus cepat, musik tradisi bisa menjadi jangkar identitas, asal ia dihadirkan dengan cara yang relevan,” ujar Wiratri Anindhita .

“Min-On memperlihatkan bahwa tradisi tidak harus kalah oleh zaman; tradisi bisa bertahan jika dipertemukan dengan publik secara kreatif.”

Sementara La Mani menekankan dimensi sosialnya.

Musik menghadirkan pengalaman bersama. Di situlah kepercayaan sosial tumbuh. Institusi seperti Min-On menunjukkan bahwa kebudayaan adalah infrastruktur relasi, yang menghubungkan manusia lewat rasa, bukan debat.

“Jika dunia sedang lelah oleh polarisasi, maka musik adalah salah satu cara paling manusiawi untuk membuat kita kembali saling melihat,” tutup Devie.

"Min-On mengajarkan bahwa keindahan terbesar musik bukan pada kemewahannya, tetapi pada kemampuannya menjangkau siapa saja.” ujarnya.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026