Jakarta (ANTARA) - Aktor Jimmy Kobogau, pemeran karakter Sila — anggota Kopassus — dalam film *Timur*, berbagi pengalaman melakoni adegan baku hantam yang mengharuskannya menghadapi tiga hingga empat lawan sekaligus.
“Sila itu harus berantem dengan banyak lawan, dan rata-rata lebih dari dua. Jadi tiga, empat… itu sangat capek,” kata Jimmy saat berkunjung ke ANTARA Heritage Center di Pasar Baru, Jakarta, Rabu.
Tantangan fisik tersebut diperberat oleh lokasi syuting. Aufa Assegaf menuturkan bahwa sebagian besar proses produksi dilakukan di kawasan hutan asli di Situ Lembang yang berada di ketinggian dan memiliki suhu dingin.
“Kurang lebih 90 persen lokasinya di hutan, dan hutan yang dingin dengan cuacanya terus berada di ketinggian,” ujar Aufa.
Baca juga: Iko Uwais pilih jadi mentor yang rendah hati untuk aktor film Timur
Kesulitan bertambah ketika adegan aksi dilakukan di medan berlumpur.
“Apalagi kalau syutingnya di malam hari, habis hujan, dan itu ada lumpurnya… parah sekali,” kata Jimmy.
“Di ketinggian itu, oksigen lumayan tipis. Jadi semakin banyak bergerak, semakin cepat capek,” lanjutnya.
Jimmy juga menjelaskan bahwa senjata yang digunakan saat berjalan adalah senjata asli, meski versi dummy dipakai untuk adegan baku hantam.
Para aktor yang mayoritas tidak memiliki latar belakang bela diri menjalani pelatihan intensif selama sekitar dua bulan bersama tim koreografi Uwais. Fokus awal pelatihan bukan pada koreografi aksi, tetapi pada dasar-dasar keselamatan.
“Kami bukan orang bela diri atau atlet. Jadi dua bulan itu, Uwais Team melatih bagaimana kita jatuh dengan cara yang safety,” kata Aufa.
Baca juga: Rumah produksi Iko Uwais bersiap merilis dua film laga berjudul "Ikatan Darah" dan "Timur."
“Supaya tidak cedera, bagaimana cara reaksi yang benar. Setelah itu baru masuk ke gerakan-gerakan koreografi.”
Film *Timur* juga berkomitmen pada realisme visual dengan meminimalkan penggunaan efek komputer. Set lokasi dibangun dari nol di atas lahan kosong, dan helikopter yang digunakan — seperti yang tampak di poster — merupakan unit asli.
“Memang itu heli yang riil. Visual effect hanya menopang dari yang sudah dibikin asli,” kata Aufa.
Tim koreografi Iko Uwais bekerja secara detail, mulai dari merancang seluruh adegan aksi hingga membuat videoboard. Setelah videoboard selesai, materi tersebut dilatih kepada para aktor.
Persiapan matang ini membuat eksekusi di lokasi syuting lebih lancar.
“Ketika semuanya sudah dipersiapkan, saat syuting kami tinggal eksekusi saja. Kalau pun ada adjustment, hanya disesuaikan dengan lokasi. Tapi dasarnya kami sudah terlatih,” ujar Aufa menandaskan.
