Jakarta (ANTARA) - Pengakses layanan telekonsultasi kesehatan mental JakCare paling banyak adalah kategori usia dewasa muda dan remaja.
"Usia dewasa dan remaja cukup mendominasi. Biasanya mereka (remaja) mengeluhkan permasalahan di sekolah, kasus-kasus 'bullying' (perundungan)," ujar Psikolog Layanan JakCARE, Liza Gardyanie Hermawan dalam Siniar Rabu Belajar bertema "JakCARE: Teman Bicaramu Ruang Aman Jiwamu" di Jakarta, Rabu.
Ia menyebut, sesuai data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, penelepon kategori usia dewasa muda (20-40 tahun) mencapai 1.242 orang, diikuti remaja (11-19 tahun) sebanyak 139 penelepon, dewasa madya (41-65 tahun) sebanyak 98 penelepon, kemudian anak usia 0-4 tahun (empat penelepon), serta lansia atau di atas usia 65 tahun (satu penelepon).
Liza mengatakan, penelepon dari kalangan usia dewasa muda umumnya mengeluhkan stres akibat pekerjaan dan masalah terkait relasi misalnya hubungan pernikahan atau pranikah.
Baca juga: Warga Jakarta bisa curhat melalui JakCare
Selain itu, kasus kecemasan yang berlebihan juga kerap mereka keluhkan dan kebanyakan mereka ini merasa ditinggalkan oleh orang-orang terdekat.
"Biasanya merasa khawatir akan gagal masa depannya, kegiatan sehari-harinya yang cukup mengganggu akhirnya muncul kecemasan yang berlebih. Kemudian masalah relasi. Sangat sering sekali masuk (penelepon) baik dari sisi suami maupun istri," kata Liza.
Dia menambahkan, kalangan ibu rumah tangga termasuk yang turut memanfaatkan layanan JakCare.
Menurut dia, para ibu umumnya menanyakan seputar cara menerapkan pola asuh yang sesuai dengan usia perkembangan anak mereka.
Selain itu, mereka juga bertanya kiat menghadapi anak yang mengalami masalah kecemasan atau permasalahan psikologi lainnya, serta berkaitan dengan pola asuh yang tidak konsisten antara suami dan istri.
Adapun layanan JakCare resmi yang diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pada Mei 2025, dapat diakses melalui aplikasi JAKI (Jakarta Kini) atau menghubungi 0800-1500-119 (gratis).
