tembok-pembatas-lapangan-di-bogor-ambrukBogor, 17/3 (Antara) - Tembok pembatas lapangan di Jalan Veteran, Gunung Batu, Kecamatan Bogor Barat, ambruk pada Minggu petang ketika hujan lebat.
Tidak ada korban akibat peristiwa tersebut, namun material reruntuhan tembok sepanjang 15 meter menutupi trotoar sehingga menganggu pejalan kaki.
Kondisi tembok ini sudah sangat membahaya pengguna jalan, kata Herman, anggota Polmas Bogor Raya saat ditemui di lokasi setelah kejadian pukul 14.20 WIB.
Tinggi tembok tersebut kurang lebih 4,5 meter belum termasuk tebingan 3,5 meter.
Posisi tembok sudah lama miring ke arah jalan, karena tanah labil tidk dapat menahan kontruksinya, hingga kemudian ambruk.
Material tembok yang runtuh menimpa kabel listrik lampu penerang jalan umum (PJU) hingga terjuntai dan membahayakan pengguna jalan.
Herman menyebutkan, kondisi tembok sepanjang kurang lebih 30 meter tersebut sudah tidak layak lagi.
Posisi tembok sudah miring. Badan tembok ditahan oleh pohon-pohon besar di pinggirnyak.
Kondisi demikian lanjut Herman sudah berlangsung berbulan-bulan. Tembok seolah dibiarkan tidak terurus dan seolah-olah menunggu korban.
"Saya sudah laporkan kondisi tembok ini ke pihak ketua RT, RW, lurah bahkan camat. Tapi yah sampai kejadian belum ada tanggapan," katanya.
Sebagai warga setempat Herman mengaku khawatir melihat kondisi tembok yang berjejer sepanjang 30 meter di sepanjang jalan Veteran tersebut bila sewaktu-waktu ambruk dan menimpa pengguna jalan.
Menurut Herman, tembok pembatas itu dulunya dibangun oleh pemerintah. sebagai pembatas lapangan Pajebag yang pernah digunakan untuk lapangan bola dan bermain pacuan kuda.
Namun kini tanah tersebut menjadi milik pribadi seorang warga Jakarta.
"Saya juga sudah panggil pemilik tanah ini untuk segera memperbaiki temboknya biar tidak ada korban," kata Herman.
Herman mengkhawatirkan kondisi tembok tersebut, dan lambatnya penanganan pemerintah.
Di daerah tersebut juga pernah ada korban tejerembab ke dalam selokan karena trotoarnya bolong.
Korban adalah murid SMA beserta bibinya. Mereka jatuh ke selokan trotar dan hanyut terbawa arus ke Sungai Cisadane pada 2011. lalu.
"Apa mau tunggu ada korban `kayak` dulu lagi, baru diperbaiki," kata Herman.
Laily R
: Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.