astra-tanam-1.000-pohon-di-hari-ibu-Cianjur, 22/12 (ANTARA) - Bertepatan dengan hari ibu, PT Astra Internasional Tbk menanam 1.000 pohon adopsi di Camping Ground Sarongge Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Kabupaten Ciajur, Jawa Barat, Sabtu.
"Kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan Astra, sejak 2011 lalu pada tanggal yang sama (22 Desember) telah menanam 2.000 bibit pohon yang diadopsi, di kawasan ini," kata Kepala Humas Astra, Yulian Warman.
Penanam bibit pohon adopsi di hutan reboisasi Sarongge melibatkan anak perusahaan grup Astra, wartawan, penerima apresiasi Satu Indonesia Award dan juga Yayasan Prakarsa Hijau Indonesia (Green Radio) selaku penggerak utama program adopsi pohon Sarongge di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari (21-22 Desember) diawali dengan berkemah di area Camping Ground Blok Pasir Kidul, di atas ketinggian 1.600 mdpl, Jumat malam.
Penanam berlangsung Sabtu pagi, berjarak sekitar satu jam pejalanan menuju blok Labok Caur.
"Yang istimewa dari kegiatan adopsi pohon ini, setiap adopter (penanam) akan mendapat sertifikat resmi dari Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan diakui Kementerian Kehutanan RI," kata Yulian.
Selain itu, lanjut Yulian, setiap pohon atau blok pohon yang ditanam akan diberikan koordinat sehingga memungkinkan adopter untuk melihat perkembangannya melalui GoogleMaps.
"Setiap adopter akan mendapat laporan rutin tentang perkembangan pohon yang dirawat oleh masyarakat setempat," katanya.
Yulian menambahkan, penanaman pohon adopsi merupakan bagian dari kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Astra dan HUT ke-55 yang menargetkan 55.000 pohon. Tercatat hingga akhir November lalu, sebanyak 876.764 pohon telah tertanam dibeberapa lokasi di Indonesia.
Camping Ground Sarongge merupakan area milik Perhutani yang dikembangkan oleh Green Radio untuk dilakukan penanaman kembali melalui program adopsi.
Program adopsi tersebut, dimana pohon yang ditanam oleh adopter (si pemilik pohon) pohon akan dirawat dan dipeliharan oleh warga hingga tubuh baik selama tiga tahun.
Pohon tersebut akan diberi nama dan dipasang koordinat sesuai nama pemilik dan bisa di cek di googlemaps.
"Para adopter akan mendapat laporan rutin tentang perkembangan pohon dan pembangunan ekonomi masyarakat Sarongge, serta berkesempatan untuk bertemu langsung dengan petani yang merawat tananam," kata Tosca Santoso dari Green Radio.
Santoso yang juga Direktur Utama KBR68H mengatakan, sebanyak 38 lahan hutan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango telah rusak akibat pembukaan lahan oleh warga yang dijadikan kebun.
Melalui program adopsi pohon, Santoso mengajak masyarakat untuk beralih dari membuka lahan di kaki gunung Gede dengan merawat pohon-pohon yang telah ditanam.
"Untuk memulihkan kembali hutan, kita tidak bisa mengenyampingkan kehidupan masyarakat sekitar yang sudah menggantungkan hidupnya dari berkebun di lahan-lahan yang ada di Taman Nasional," katanya.
Santoso menambahkan, sejak 2008 dari 38 hektar lahan yang rusak telah ditanam kembali dengan total pohon yang telah ditanam sebanyak 23.000 pohon. Pohon yang ditanam merupakan jenis pohon asli wilayah tersebut, diantaranya, Rasamala, Kenangan, Puspa, Kihideung dan Kihujan.
Laily R
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.