Palembang (ANTARA) - Peristiwa kejahatan bisa terjadi di mana saja dan menimpa siapa saja.
Kejahatan perampokan, pembunuhan, penjambretan, pembegalan, pencurian, penipuan, hingga penipuan di berbagai platform digital, atau kejatan lain, membayangi aktivitas masyarakat.
Untuk itu perlu diingatkan kepada masyarakat untuk berhati-hati terhadap kemungkinan terjadi aksi kejahatan, terlebih menjelang Ramadhan hingga Idul Fitri, berbagai kejahatan, termasuk kejahatan jalanan, biasanya meningkat.
Kepolisian Daerah Sumatera Selatan, misalnya, kini sedang memburu komplotan rampok bersenjata api berjumlah empat orang yang menargetkan rumah warga di Desa Keban I, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel Kombes Pol. M Anwar Reksowidjojo di Palembang, Rabu, menerangkan bahwa perburuan itu dilakukan setelah kepolisian berhasil menangkap rekanan nya yang juga berjumlah empat orang pada 22 Februari 2025.
"Ya delapan orang, empat sudah kami tangkap dan empat lagi masih dalam pengejaran," katanya.
Dalam aksinya pelaku yang berjumlah sekitar delapan orang tersebut menyatroni rumah korban bernama Maspar dengan menggunakan senjata api.
"Perampokan di rumah korban para pelaku berhasil menggondol uang tunai senilai Rp400 juta serta emas 50 suku," katanya.
Ia menjelaskan modus operandi para pelaku datang ke rumah korban dengan mengendarai empat motor, merangsek masuk ke rumah korban dengan modus berpura-pura sebagai pembeli di toko milik korban.
Setelah masuk ke dalam rumah pelaku lalu mengancam istri dan anak korban dengan senjata api rakitan.
"Total kerugian perampokan ini ditaksir sekitar Rp800 juta," katanya.
Dari hasil pemeriksaan dan olah TKP, tim gabungan Subdit III Jatanras, Satreskrim Polres Muba dan Polsek Sanga Desa, empat pelaku berhasil ditangkap.
"Empat pelaku juga ada LP di Jambi dalam kasus yang sama dan di Sumatera Barat. Empat orang yang masih DPO yang identitasnya sudah kami kantongi masih dalam pengejaran,"terangnya
Dari tangan pelaku anggota mengamankan barang bukti, tiga pucuk senpi rakitan, satu kendaraan sepeda motor, handphone serta uang tunai Rp1 juta sisa hasil perampokan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (KE PEPK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi meminta masyarakat untuk mewaspadai sejumlah bentuk penipuan menjelang Ramadhan.
“Menjelang Ramadhan, kejahatan keuangan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas transaksi dan konsumsi masyarakat. Masyarakat diharapkan mewaspadai beberapa modus kejahatan keuangan,” ucap Friderica Widyasari Dewi di Jakarta, Kamis (20/2).
Ia menuturkan bahwa sejumlah bentuk penipuan tersebut antara lain adalah modus penawaran arisan untuk persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri dan penawaran investasi bodong dengan iming-iming imbal balik yang tinggi.
Penipuan lainnya adalah modus social engineering yaitu tindakan memanipulasi psikologis korban untuk mendapatkan data dan informasi pribadi dengan tujuan membobol akun keuangan korban.
Selain itu, terdapat pula modus skimming dan phising melalui pencurian data kartu ATM atau kartu kredit melalui alat skimming atau melalui tautan palsu yang menyerupai situs resmi bank.
Friderica menyatakan bahwa modus penipuan lainnya yang perlu diwaspadai adalah card tapping atau pemasangan alat di lubang kartu ATM untuk menjebak kartu nasabah sehingga dapat diambil alih oleh pelaku.
Ia menuturkan bahwa ada juga modus sniffing atau tindakan penyadapan oleh hacker menggunakan jaringan internet.
“Modusnya, pelaku mengirimkan aplikasi via Whatsapp atau email dengan tujuan utama untuk mencuri data dan informasi penting korban seperti username, password m-banking, informasi kartu kredit, maupun password email,” ujarnya.
Friderica juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai modus penawaran THR melalui pesan palsu yang mengatasnamakan perusahaan atau instansi tertentu dan modus penipuan keuangan berupa transfer dana dari pinjaman online (pinjol) ilegal kepada orang yang tidak pernah mengajukan pinjaman.
Ia menyatakan bahwa terdapat pula modus penawaran paket perjalanan wisata atau umrah dengan diskon yang tidak wajar dan modus penyampaian informasi pengiriman parsel lebaran.
“Momen Ramadhan dan Idul Fitri kerap dirayakan oleh umat Muslim dengan berbagi parsel kepada kerabat. Penipu bisa memanfaatkan momen ini dengan mengirimkan pesan yang meminta masyarakat membuka atau mengunduh suatu dokumen atau aplikasi dengan modus menyampaikan informasi pengiriman parsel,” katanya.
Friderica menuturkan bahwa kemungkinan besar laporan konsumen dan masyarakat menjelang Ramadhan masih terkait penipuan eksternal dikarenakan faktor tingginya penggunaan teknologi dan masih rendahnya pengetahuan mengenai pentingnya kerahasiaan dan keamanan data.
Ia mengatakan bahwa jelang Ramadan dan Lebaran, aktivitas keuangan ilegal seperti penawaran pinjaman online dan investasi ilegal biasanya juga semakin marak.
“Oleh karena itu, masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan dan memastikan aspek 2 L (legal dan logis) dari setiap penawaran yang diterimanya. Masyarakat dapat memastikannya melalui Kontak Layanan Konsumen OJK dengan nomor telepon 157,” katanya.
Baca juga: Polres Karawang ungkap kasus penipuan dengan modus uang palsu oleh sekelompok orang
Baca juga: Polres Blitar tangkap 11 orang pendekar terlibat tindak kejahatan
Baca juga: OJK terima 2.688 aduan external cloud