Jakarta (ANTARA) - Kota Baru Parahyangan kembali menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan dengan peraihan sertifikasi Greenship Neighborhood Plan dengan peringkat Gold untuk kawasan Tatar Nilapadmi.
Sertifikasi ini diserahkan langsung oleh Vice Chairperson Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia), Prasetyoadi, kepada Ryan Brasali, Direktur Kota Baru Parahyangan, dalam sebuah seremoni yang menandai langkah maju dalam pengurangan emisi karbon dalam pengelolaan lingkungan.
"Pencapaian ini menunjukkan bagaimana perencanaan kawasan dapat mengintegrasikan prinsip keberlanjutan untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan efisien," kata Vice Chairperson GBC Indonesia Prasetyoadi dalam keterangannya, Rabu.
Menurut dia, Tatar Nilapadmi adalah contoh konkret bagaimana kolaborasi antara pemangku kepentingan dapat menghasilkan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Greenship Neighborhood Plan merupakan sertifikasi yang dikeluarkan oleh GBC Indonesia, sebuah organisasi non-profit yang mendorong transformasi menuju praktik bangunan hijau.
Sertifikasi ini diberikan kepada kawasan yang masih dalam tahap perencanaan, dengan penilaian yang berfokus pada rencana pembangunan yang berkelanjutan. Hingga saat ini, GBC Indonesia telah menerbitkan sertifikasi untuk sekitar 170 bangunan di seluruh Indonesia.
Tatar Nilapadmi adalah kawasan hunian seluas 13,4 hektar di Kota Baru Parahyangan yang dirancang dengan fokus pada keberlanjutan. Kawasan ini memiliki ruang terbuka hijau yang mencakup 36,93 persen area publik atau sekitar 17.627 m persegi, ditanami sepenuhnya dengan tanaman lokal, termasuk 30,57 persen tanaman produktif.
"Kami berkomitmen untuk menjadikan Kota Baru Parahyangan sebagai kawasan yang tidak hanya nyaman untuk dihuni, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan," kata Direktur Kota Baru Parahyangan Ryan Brasali.
Menurut dia, penerapan prinsip keberlanjutan di Tatar Nilapadmi adalah bagian dari visi kami untuk menciptakan hunian yang mendukung kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Kawasan ini mendukung mobilitas ramah lingkungan dengan menyediakan jalur pejalan kaki yang terhubung tanpa putus, berukuran minimal 1,5 meter, lengkap dengan guiding block dan ramp. Jalur sepeda dengan marka juga tersedia di seluruh area. Akses transportasi umum di kawasan ini mudah dijangkau, dengan lokasi Kota Baru Parahyangan yang dekat dengan kereta cepat Whoosh, menghubungkan Tatar Nilapadmi dengan Jakarta dan Kota Bandung.
Selain itu, kawasan ini terhubung dengan halte yang dilalui oleh shuttle internal Kota Baru Parahyangan, shuttle KCIC, dan Bus Trans Metro Pasundan yang menyediakan akses ke Kota Bandung.
Dalam pengelolaan sumber daya, kawasan ini menggunakan air alternatif seperti grey water dan air hujan untuk memenuhi 16,14 persen kebutuhan air. Air ini diolah di fasilitas pengolahan (STP) dan digunakan kembali untuk menyiram taman. Untuk pengelolaan limbah, kawasan ini bekerja sama dengan pihak ketiga. Sampah organik diolah menjadi kompos yang digunakan kembali untuk taman, sementara sampah anorganik didaur ulang melalui donasi atau penjualan.
Kawasan ini juga mengangkat budaya lokal Sunda dalam penamaan jalan dan fasilitasnya, serta mendukung pelestarian budaya melalui kegiatan edukasi seperti pelatihan membatik dan pertunjukan seni tradisional. Dari segi energi, penerangan kawasan dirancang efisien dan bebas polusi cahaya, sementara setiap unit hunian dilengkapi pemanas air bertenaga surya.
Keberhasilan ini turut didukung oleh peran PT Yodaya Hijau Bestari sebagai konsultan keberlanjutan sejak tahap awal perencanaan. Komitmen Tatar Nilapadmi terhadap praktik berkelanjutan menjadikannya contoh nyata bagaimana kawasan hunian dapat dirancang untuk mendukung pengurangan emisi karbon, konservasi lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat.
Tatar Nilapadmi jadi kawasan hunian teladan dengan sertifikasi Greenship Gold
Rabu, 22 Januari 2025 9:48 WIB
Prasetyoadi, Vice Chairperson GBC Indonesia (Kiri); Ryan Brasali, General Manager Kota Baru Parahyangan (Kanan). (ANTARA/HO)
