ketua-pbnu-menuntut-ilmu-jangan-hanya-dari-satu-sudut-pandangBogor, 5/9 (ANTARA) - Ketua PBNU Prof Said Aqil Siradj mengajak mahasiswa untuk menuntut ilmu tidak hanya dari satu sudut pandang saja, melainkan dengan berbagai sudut sehingga wawasan yang diperoleh lebih luas dan dapat diterapkan tanpa menganggu atau merugikan orang lain.
"Kebenaran tidak hanya dicapai lewat satu pemahaman saja. Tapi kebenaran yang didasari oleh kebenaran ilmiah," katanya saat memberikan kuliah umum dalam rangka Dies Natalis ke-7 Fakultas Ekologi Manusia dan halalbihalal menyambut dimulainya perkuliahan mahasiswa semester baru, di Auditorium GMSK-FEMA Institut Pertanian Bogor, Kamus Dramaga, Rabu.
Dalam kuliah umum yang berjudul "Peran agama dalam transformasi sosial menuju kedaulatan bangsa", Said mengisakan tentang bagaimana ajaran shalat, haji, puasa dan segala perbuatan manusia di dunia terbentuk berkat hasil pemikiran para alim ulama terdahulu yang telah bermusyawarah dalam menafsirkan ajaran Alquran dan Hadist.
Said menyebutkan, di dalam Al quran dan Hadist tidak mengajarkan tentang tata cara shalat, berhaji, ataupun berbuat baik.
"Alquran hanya menyerukan kita melaksanakan shalat, melakukan haji, berpuasa, menjauhi perbuatan zina, dan tidak berkata atau menyela perkataan orang tua," katanya.
Said menuturkan, menafsikan Alquran tidak hanya dengan satu tafsir. Tapi harus dipelajari semuanya. Begitu juga agama, tidak akan dapat dipelajari dengan benar kalau tidak dengan perangkatnya.
Oleh karena itu, manusia ditutut untuk mencari ilmu, mempelajari Alquran dan Hadist dan menggunakan akal pemikirannya sebagai anugrah sempurna yang diberikan Allah.
"Mempelajari sesuatu tidak hanya instan tapi lewan analisis dan kajian," katanya.
Said mengatakan, apa yang tertuang dalam Alquran dan Hadist sangat sempurna, hanya juklak dan juknisnya tidak tertuang didalamnya. Amalan yang dikerjakan oleh umat saat ini merupakan hasil dari kajian alim ulama yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
"Pergi haji tidak dijelaskan dalam Alquran, dimana posisi madinah, bagaimana mau kesananya. Tapi tata cara berhaji dan bagaimana melaksanakannya semua dipelajari dan dihasilkan dari musyawarah atau produk alim ulama," katanya.
Dalam menutut ilmu, lanjut Said, hendaknya kita mengenyampingkan siapa kita dan asal kita, apakah keturunan raja atau darah biru. Karena dihadapan Allah, semua manusia sama yang membedakannya hanya ilmu dan amal ibadahnya.
Dengan sikap rendah hati, lanjut Said dapat membantu manusia untuk bisa menerima ilmu dari manapun asalnya, tanpa ada rasa sombong dan angkuh.
Said menuturkan, perkembangan umat saat ini sangat jauh berbeda pada zaman Rasulullah terdahulu. Di zaman Rasulullah, sangat menghargai orang diluar Islam.
"Pada zaman Rasulullah, dulunya diatas Ka'bah itu ada berhala sangat besar bernama hubal. Tapi Rasulullah tidak pernah mengusiknya dan tetap melaksanakan ibadah tanpa menganggu kepercayaan orang lain," ujarnya.
Menurut Said, tolerasi Nabi Muhammad terhadap umat di luar Islam cukup kuat. Nabi pernah berseru kepada umatnya agar tidak melakukan kekerasan atau bahkan membunuh umat non muslim tanpa sebab maka akan berhadapan dengan dirinya, dan barang siapa yang melawan dirinya maka orang tersebut tidak akan masuk surga.
Keteladanan, keramahan serta akhlak Rasulullah yang membuat lawan-lawannya segan hingga banyak yang tertarik untuk masuk Islam.
"Nabi Muhammad itu mendahulukan akhlak baru akidah," katanya.
Said mengatakan, dalam Piagam Madinah yang salah satu pointnya mengajak umat tidak melakukan permusuhan dan menjaga persatuan tidak peduli agama ataupun etnisnya. Yang harus ditindak tegas adalah tindakan melanggar hukumnya.
"Zaman dahulu kita perang tapi perang berakhlak. Sekarang tentara perang tapi rakyat sipil juga ikut mati," katanya.
Said menyebutkan, kaum mayoritas tidak ada artinya apabila tidak dibangun dengan kekuatan yang berlandaskan ukhuah.
Said mengisahkan bagaiman Ali Bin Abi Thalib dibunuh oleh seorang yang hafiz Alquran dan menjalankan shalat lima waktu serta ibadah shalat malam. Hal itu terjadi karena Abdurahman Bin Rojam hanya menafsirkan secara sempit tentang berpedaan pendapat.
"Ia membunuh Ali karena ia mempresepsikan barang siapa yang melanggar hukum Allah berarti kafir. Dan orang kafir harus dibunuh," kata Said.
Oleh karena itu, Said mengajak mahasiswa calon pemimpin bangsa untuk mengkaji ilmu dengan lebih luas lagi. Sehingga tidak ada salah presepsi yang akan melukai orang lain.
Said menegaskan, tidak boleh ada kekerasan yang mengatasnamakan Islam.
"Kita juga tidak boleh mengislamkan semua orang dengan cara kekerasan. Biarkan dunia ini, Indonesia ini beragam, tidak mungkin semua Islam, atau nasrani. Semua keragaman telah dirancang oleh Allah," katanya.
Halalbihalal dalam rangka Dies Natalis ke-7 Fakultas Ekologi Manusia dibuka secara resmi oleh Arif Satria selaku Dekan.
Arif menuturkan, pihaknya sengaja menghadirkan Prof Said Aqil dalam kuliah umum perayaan Dies Natasli FEMA ke-7 karena Ketua PBNU tersebut berasal dari latar belakar akademisi yang juga ulama.
"Dengan hadirnya Prof Said, dapat memberikan pencerahaman bagi mahasiswa baru untuk terus memotifasi diri belajar dengan sebaik-baiknya. Sesuai dengan tema kuliah umumnya, bahwa peran agama tidak bisa dipisahkan dalam pembangunan bangsa," kata Arif.
:
COPYRIGHT © ANTARA 2026