Menggali-Info-Sukhoi-Dari-Puing-dan-Serpihan-Daging
Satu per satu kantong jenazah  masuk ke Rumah Sakit Polri Jakarta, setelah diangkut secara estafet oleh tim SAR dari lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di hutan belantara  dan tebing-tebing curam di ketinggian Gunung Salak, Bogor.

    
Hingga operasi evakuasi sudah dilakukan lebih sepekan, total sudah lebih dari 30 kantong jenazah yang terangkut untuk selanjutnya dilakukan identifikasi, di antaranya juga berisi materi yang didapat dari reruntuhan pesawat naas tersebut.

   
   Meskipun sudah makin banyak benda-benda maupun jenazah yang berhasil diangkut oleh tim SAR, yang sepekan ini sudah bekerja keras menaklukkan beratnya medan Gunung Salak, namun masih banyak misteri yang belum terungkap.

 
   Bahkan untuk mengidentifikasi pemilik tubuh yang berada di kantong-kantong jenazah itu pun tidak bisa dilakukan segera.

  
   Jenazah yang ditemukan hampir tidak ada yang utuh, bahkan banyak yang berupa serpihan-serpihan daging.

 
   Komandan Korem 061/Suryakencana Kol Inf AM Putranto selaku OSC operasi evakuasi jenazah pesawat Sukhoi Superjet 100 mengaku tidak menerima laporan adanya jenazah yang utuh.

   
   "Tidak ada jenazah yang utuh. Tidak ada bagian yang utuh yang ditemukan pada jenazah," katanya.

   
    Danrem mengatakan ada memang beberapa jenazah ditemukan dengan kondisi tidak rusak total, namun tetap tidak utuh.

   
    Pernyataan Danrem yang Suryakencana juga diperkuat oleh Direktur Rumah Sakit Polri Brigadir Jenderal (Pol) Agus Prayitno, yang melihat kondisi jenazah di kantong-kantong mayat tersebut.

   
   "Korban yang tewas mengalami luka akibat benturan keras sehingga tubuh korban terpisah menjadi banyak bagian,¿ katanya..

   
   Sementara itu materi yang dievakuasi juga semakin banyak, selain bagian-bagian pesawat, kartu-kartu identitas penumpang, juga alat pemancar sinyal kedaruratan (emergency locator transmitters/ELT).

   
   Kotak hitam pesawat Sukhoi Superjet 100, yang menjadi kunci penting untuk mengungkap penyebab musibah tersebut, akhirnya juga ditemukan pada Selasa, atau sepekan setelah pesawat buatan Rusia itu jatuh di Gunung Salak.
   
   Namun kalau pun sudah ditemukan, bukan berarti publik dapat langsung mengetahui seputar misteri musibah pesawat berpenumpang 45 orang ini karena ada proses analisis yang memakan waktu cukup lama.

   Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memperkirakan waktu hampir satu tahun untuk penyelidikan isi kotak hitam yang bisa mengungkap penyebab kecelakaan ini.
   
   Walhasil, untuk sementara,  dari serpihan daging dan puing-puing yang ditemukan itulah diharapkan ada informasi penting, setidaknya bagi para keluarga korban.

   
              Identifikasi jenazah

   Keluarga para korban tampaknya masih harus sabar menunggu hasil identifikasi, karena kondisi jenazah yang sebagian tidak utuh tersebut.

     
    Kepala Bidang Pusdokkes Polri Kombes Anton Castilani mengimbau keluarga korban untuk bersabar dalam menunggu proses identifikasi karena memakan waktu yang lama dan sangat berat.

       
  "Kami minta keluarga korban bersabar menunggu hasil identifikasi, karena tugas ini sangat berat, namun tetap dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan secara professional" kata  Kombes Anton Castilani, saat jumpa pers di Rumah Sakit Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur.

   
   Proses identifikasi akan memakan waktu yang lama, karena tim dokter harus bekerja secara hati-hati dan profesional serta kami tidak menginginkan adanya kesalahan dalam proses identifikasi jenazah, katanya.

       
  Dalam proses identifikasi, kata Anton, yang dilakukan adalah membandingkan tanda-tanda dari setiap korban pada saat hidup dengan jenazah yang ditemukan, dan yang dibandingkan antara lain adalah sidik jari, gigi, DNA (Deoxyribose Nucleid Acid), ciri-ciri fisik atau medic, serta properti yang dipergunakan korban.

   
   Sebelum adanya hasil identifikasi, belum dapat disimpulkan siapa-siapa saja penumpang yang meninggal dunia, meskipun harapan ada yang selamat sangat tipis jika melihat dampak yang terjadi dari kecelakaan tersebut.

   
   Sementara tim forensik di RS Polri bekerja keras melakukan identifikasi korban, Komisi Nasional Kecelakan Transportasi (KNKT) juga mulai bergerak penyelidikan dari data-data yang diperoleh di lapangan.

   
   Namun makin banyak materi yang ditemukan, tampaknya makin banyak teka-teki yang harus dijawab.

   
   Di antaranya peralatan global positioning system (GPS), dan emergency locator transmitter (ELT) yang ditemukan hari Senin, yang tidak berfungsi mengeluarkan sinyal setelah terjadi kecelakaan tersebut.

     
  "Sinyal ELT Sukhoi yang tidak berbunyi masih dalam penelitian KNKT,"  kata ketua KNKT Tatang Kurniadi.

     
   Perangkat ELT yang sudah ditemukan di puing-puing pesawat Sukhoi SSJ 100 yang jatuh di Gunung Salak Bogor merupakan model lama dengan frekuensi 121,5 MH, sedangkan yang baru menggunakan frekuensi 406 MH yang sinyalnya bisa ditangkap Basarnas.

     
  Sebelumnya, penemuan parasut di dekat jenazah pilot juga sempat menimbulkan spekulasi mengenai kemungkinan pilot melarikan diri. Meski informasi ini masih simpang siur.

   
   Sementara itu operasi evakuasi di Gunung Salak masih dilanjutkan. Selain mencari sisa-sisa bagian tubuh korban, juga akan fokus pada pencarian kotak hitam.

     
   Menurut Koordinator Misi Pencarian dan Evakuasi Sukhoi Superjet 100, Ketut Parwa, proses evakuasi yang dilakukan di lokasi jatuhnya pesawat sudah mencapai 80 persen.

   
  "Evakuasi akan terus dilakukan hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Karena kita ingin semua korban dan material dapat dievakuasi meski kita belum tahu sudah berapa korban terevakuasi," katanya.

   
   Diharapkan operasi pencarian dan evakuasi pada hari-hari berikutnya, akan ada lagi temuan yang bisa memberi informasi berharga seputar musibah ini. 


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026