Bogor,  (Antaranews Bogor) - Menteri Pertanian Suswono menyampaikan peran pemuda sangat diharapkan untuk proaktif membantu menyelesaikan persoalan di sektor pertanian baik pangan dan gizi.

"Dinamika ekonomi domestik dan global memerlukan Indonesia untuk proaktif dan siap untuk perubahan," kata Menteri dihadapan peserta Lokakarya dan pelatihan Kepemimpinan Pemuda Pangan dan Gizi Internasional di Bogor, Jawa Barat, Senin.

Menteri mengatakan, pertanian di masa depan tidak hanya untuk menghasilkan pangan dan energi yang cukup bagi penduduk, tetapi juga menjadi kunci untuk melestarikan lingkungan serta produksi pangan berkelanjutan.

Menteri menuturkan, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.000 pulau yang terdiri dari 6.000 pulau berpenghuni. Berdasarkan letak geografisnya, ada beberapa masyarakat yang sangat heterogen dalam hal sumber daya tanah dan air, kondisi iklim, sumber daya manusia, infrastruktur dan akses pasar.

Ketidak-merataan penduduk sangat relevan dalam pengembangan sektor pertanian seperti yang terjadi di Pulau Jawa, kepadatan diatas 1.00 orang per km kubik melawan 7 orang per km kubik di Papua. Papua yang menempati 22 persen luas lahan tetapi hanya dihuni kurang dari 2 persen total populasi. Sementara kepadatan penduduk raya-rata nasional adalah 124 orang per km kubik.

"Kemiskinan di pedesaan dan pengangguran adalah dua masalah paling penting yang dihadapi Indonesia sekarang dan untuk beberapa tahun untuk datang. Ketahanan pangan adalah isu penting lain yang harus juga diberikan perhatian yang sama untuk dicarikan solusi," kata Menteri.

Lebih lanjut Menteri mengatakan, sejalan dengan pertumbuhan populasi dunia oleh 1,7 persen per tahun (1960-2050) dan pertumbuhan konsumsi per kapita, permintaan untuk makanan meningkat terus. Untuk mengejar kebutuhan tersebut maka pasokan makanan harus terus ditingkatkan sekitar 2,2 persen per tahun.

Tantangan lainnya yakni perubahan iklim yang bagi sektor pertanian mengalami ancaman paling serius dan komplek karena dapat menyebabkan penurunan produksi pertanian serta membuat perubahan keanekaragaman hayati, selain itu juga akan meningkatkan ledakan hama dan penyakit pada tumbuhan maupun hewan.

"Kondisi ini dapat menyebabkan pergeseran pola tanam dan kalender pertanian sehingga perlu upaya khusus untuk memetakan daerah rawan banjir dan kekeringan," kata Menteri.

Untuk menjawab tantangan tersebut, lanjut Menteri, perlu ada inovasi teknologi tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi yang dihasikan, tetapi juga melestarikan sumber daya alam yang langka.

Menteri mengatakan, mengingat kebutuhan pangan dunia, Indonesia telah menyumbang secara aktif mengatasi kebutuhan pangan dunia menghadapi perubahan iklim. Strategi terbaik untuk mengatasi tantang adalah melalui pengembangan dan pelaksanaan inovasi teknologi pertanian untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

"Tugas ini tidak mudah untuk mengatasi tantangan, saya berharap pelatihan dan lokakarya ini bisa menghasilkan saran serta solusi untuk perbaikan yang diperlukan dalam kebijakan pemerintah," kata Menteri.

Pelatihan dan Lokakarya Kepemimpinan Pemuda Pangan dan Gizi diselenggarakan oleh Pergizian Pangan Indonesia bekerja sama dengan Federation of Asian Nutrition Societies serta IUNS (Internastional Union of Nutrition Sciences).

Ketua Pergizian Pangan Indonesia, Prof Hardinsyah, MSc mengatakan, pelatihan dan lokakarya kepemimpinan Pemuda pangan dan Gizi diikuti oleh sekitar 120 peserta dari 15 negara.

"Tujuannya adalah melahirkan kepemimpinan kaum muda yang kredibel dalam sektor pangan dan gizi. Karena kedua unit ini sangat penting dan erat kaitannya untuk kelangsungan bangsa," katanya.

Pewarta: Laily Rahmawati

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2014