Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu sore ditutup melemah terseret penurunan proyeksi ekonomi global oleh Dana Moneter Internasional (IMF).

Rupiah melemah 20 poin atau 0,14 persen menjadi Rp14.153 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.133 per dolar AS.

"Kemungkinan proyeksi terbaru IMF ini akan membawa suasana murung ke pasar keuangan Indonesia dan Asia secara keseluruhan," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Rabu.

Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2019, IMF sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2019 tetap di 5,2 persen. Tetapi, lanjut Ibrahim, bukan berarti ekonomi Indonesia akan terus membaik karena proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk beberapa mitra dagang utama Indonesia direvisi ke bawah.

Misalnya Jepang, di mana pertumbuhan ekonomi 2019 diperkirakan 1 persen, melambat dibandingkan proyeksi yang dibuat pada Januari lalu yaitu 1,1 persen. Kemudian pertumbuhan ekonomi India tahun ini diramal 7,3 persen, melambat dibandingkan perkiraan sebelumnya yaitu 7,5 persen.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang pada 2019 diperkirakan 4,4 persen, melambat dibandingkan proyeksi sebelumnya yang sebesar 4,5 persen.

Sentimen lainnya, setelah AS-China hampir mencapai damai dagang, kini muncul risiko perang dagang AS-Uni Eropa. Presiden AS Donald Trump mengancam bakal mengenakan bea masuk kepada importasi produk-produk Benua Biru senilai 11 miliar dolar AS. Trump murka karena Uni Eropa dituding memberikan subsidi yang besar kepada Airbus, yang dinilainya sebagai praktik persaingan tidak sehat.

Nilai tukar (kurs) rupiah pada pagi dibuka melemah Rp14.146 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.146 per dolar AS hingga Rp14.168 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Rabu menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.155 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.150 per dolar AS. (ANT-BPJ).
 

Pewarta: Citro Atmoko

Editor : M. Tohamaksun


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2019