Praktisi branding digital dan konsultan di Kernel Future, Alvin mengungkapkan pemanfaatan data dan AI tingkatkan efisiensi pemasaran hingga 15 persen.

Merujuk pada laporan McKinsey (2023) berjudul The economic potential of generative AI: The next productivity frontier, penggunaan teknologi berbasis data dan AI dalam pemasaran mampu meningkatkan produktivitas fungsi pemasaran hingga 15 persen dari total pengeluaran.

“Kreativitas tetap menjadi output, namun output tersebut harus memiliki sistem yang dapat dijelaskan secara strategis. Jika ide tidak bisa dijelaskan kenapa dipilih, itu selera, bukan strategi,” tegas Alvin dalam keterangannya, Rabu.

Penyebaran konten yang masif di era digital saat ini dinilai belum menjamin sebuah merek dapat tertanam kuat dalam ingatan konsumen.

Fenomena melimpahnya konten namun rendahnya daya ingat publik menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha di tengah ketatnya persaingan algoritma.

"Akar masalah sering kali terletak pada kegagalan brand dalam membedakan antara sekadar mendapatkan perhatian sesaat dengan membangun jejak memori yang permanen," katanya.

“Perhatian memang bisa dibeli melalui iklan, tetapi apa yang tertinggal di benak konsumen adalah hasil dari strategi yang matang,” kata Alvin.

Ia menegaskan bahwa brand yang kuat lahir dari pengolahan data yang presisi, bukan sekadar kreativitas tanpa arah.

Strategi digital yang efektif seharusnya tidak hanya membuat orang melihat, tetapi membuat pesan tersebut menempel dan mudah dipanggil kembali saat keputusan pembelian terjadi.

Hal ini diperkuat oleh temuan dalam Prezi Content Memorability Report oleh ilmuwan kognitif Dr. Carmen Simon, yang menunjukkan bahwa manusia cenderung melupakan 80 persen informasi hanya dalam waktu 3 hari jika konten tersebut tidak memiliki relevansi personal atau struktur yang kuat.

Framework Diagnosis dan Efisiensi Pemasaran Berbasis AI

Alvin menjelaskan bahwa proses membangun jejak brand yang kuat harus dimulai dari tahap diagnosis untuk membaca titik hilangnya jejak merek dalam ingatan konsumen.

Tiga penyebab utama yang sering ditemukan adalah pesan yang tidak konsisten, pengalaman lintas kanal yang tidak serasi, serta konten yang terlalu mengejar tren sehingga kehilangan jati diri.

“Kalau brand tidak punya sinyal yang stabil, otak tidak punya pegangan untuk menyimpan,” ujarnya.

Urgensi tahap diagnosis ini divalidasi oleh temuan Deloitte Digital (2025) dalam laporan bertajuk Embracing Change and Gearing Up for the Future, yang menyebutkan bahwa 75 persen konsumen lebih cenderung membeli dari brand yang menyajikan konten personal.

Pada tahap eksekusi, penggunaan data menjadi kunci efisiensi biaya. 

Buku “Panduan Data Driven Digital Branding Lengkap” karya Alvin menyoroti strategi digital untuk memenangkan perhatian konsumen. (Sumber foto: Aalvinsu).


Analisis Ekuitas Merek di Pasar Indonesia 

Pendekatan empiris ini menjadi semakin krusial mengingat temuan terbaru dari penelitian Jasmine Ayu Ranianda (2024) dari Universitas Gadjah Mada berjudul Investigating the Relationship between Perceptual and Behavioral Brand Equity in the Indonesian Smartphone Market.

Studi tersebut menemukan bahwa di pasar Indonesia yang kompetitif, kesadaran merek (brand awareness) dan citra merek (brand image) secara langsung memengaruhi loyalitas, yang kemudian berdampak pada niat beli.

Namun, penelitian tersebut memberikan catatan penting bahwa rasa suka terhadap merek (brand fondness) ternyata tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap loyalitas maupun niat beli jika tidak dibarengi dengan persepsi kualitas yang jelas.

“View itu angka, perilaku itu cerita. Kalau brand tidak menangkap ceritanya, ia akan mengulang konten tanpa pernah membangun ingatan yang menancap,” kata Alvin.

Hal ini sejalan dengan temuan akademik bahwa niat beli lebih banyak dipengaruhi oleh asosiasi merek yang kuat dan kualitas yang dirasakan (perceived quality).


Pentingnya Metrik Kepercayaan (Trust)

Kepercayaan kini telah menjadi mata uang utama dalam setiap keputusan pembelian. Berdasarkan laporan Edelman Trust Barometer Special Report: Brand Trust in 2020, kepercayaan publik sangat bergantung pada kemampuan brand dalam memberikan nilai nyata dan relevansi personal.

Laporan tersebut mencatat bahwa 59% responden kini lebih memercayai informasi dari ‘orang seperti mereka sendiri’ dibandingkan pesan korporat yang kaku.

“Awareness membuat orang tahu. Trust membuat orang percaya. Daya tancap di benak konsumen membuat brand muncul kembali saat keputusan pembelian terjadi,” jelas Alvin.

Hal senada diungkapkan oleh Bardan Mahdali, mantan Director of Digital, Branding, Marketing, Strategy di Forbes Indonesia, yang menyoroti pentingnya pembedaan antara metrik perhatian dan metrik kepercayaan. Menurutnya, kekuatan pendekatan berbasis data tampak ketika metrik digunakan untuk keputusan yang bisa diulang melalui framework yang terukur.

Pewarta: Feru Lantara

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026