Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meluncurkan sembilan program studi (prodi) baru pada Program Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis (PPDS) dalam rangka mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di Indonesia.
Kesembilan prodi tersebut diluncurkan di tiga fakultas kedokteran, di antaranya Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Universitas Hang Tuah (UHT) dan Universitas Ciputra Surabaya (UC), yang diluncurkan secara bersama di Kampus B Unusa, Sabtu (21/2). Dalam hal ini, Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Sebelas Maret (UNS) dipilih sebagai Fakultas Kedokteran mitra/pembina.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek, Khairul Munadi dalam keterangan di Jakarta, Senin mengatakan peluncuran PPDS di Surabaya ini merupakan bagian dari Program Akselerasi Pemenuhan dan Pemerataan Tenaga Medis Spesialis/Subspesialis melalui Sistem Kesehatan Akademik (SKA), sebagai kontribusi nyata mewujudkan Asta Cita Presiden dan visi Indonesia Sehat 2045.
"Indonesia masih menghadapi kekurangan dokter spesialis dalam jumlah besar, yang berdampak langsung pada jaminan akses dan mutu layanan kesehatan masyarakat. Karena itu, pemerintah melakukan percepatan pembukaan prodi PPDS dan penguatan kemitraan pendidikan agar distribusi dokter spesialis lebih merata," katanya.
Khairul menjelaskan hingga awal 2026, Kemdiktisaintek telah melampaui target yang ditetapkan Presiden RI Prabowo Subianto dengan membuka 160 prodi baru, yang awalnya ditargetkan 148 prodi baru.
Baca juga: Mendiktisaintek resmikan 24 prodi kedokteran spesialis di Perguruan Tinggi Muhammadiyah
Baca juga: BSMI bersama Universitas Brawijaya beri beasiswa PPDS bagi dokter asal Palestina
Penambahan ini tidak semata-mata untuk peningkatan akses dan produksi, namun sekaligus untuk pemerataan distribusi dengan penambahan prodi baru PPDS pada 11 propinsi yang jumlah dokter spesialis nya masih kurang dan baru pertama memiliki prodi PPDS (termasuk NTT, Maluku dan Papua).
Khairul menegaskan bahwa program akselerasi ini tetap mengedepankan penjaminan mutu pendidikan dan keselamatan pasien, melalui pengawasan berkala serta pelibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk LAMPTKes, MGBKI, AIPKI, kolegium, dan organisasi profesi.
"Rektor dan Dekan FK harus memastikan calon mahasiswa PPDS di prodi baru ini akan kembali untuk mengabdi di daerah nya masing-masing, serta dijamin keselamatan dan kesejahterannya melalui pendidikan kedokteran yang bebas kekerasan," ujar Dirjen Dikti menegaskan.
Sementara, Rektor Unusa Tri Yogi Yuwono, mempertegas pentingnya pendekatan kolaborasi dalam menciptakan ekosistem kesehatan nasional yang berkualitas, melalui transformasi pendidikan kedokteran, serta penguatan riset dan inovasi yang unggul.
"Kita menyadari Indonesia masih kekurangan dokter spesialis di berbagai bidang krusial, mulai dari kesehatan ibu dan anak, bedah, penyakit jantung, hingga perawatan intensif. Melalui pembukaan sembilan PPDS ini, Unusa, UHT dan UC siap berkolaborasi untuk mempercepat pemenuhan dokter spesialis yang kompeten, beretika, dan siap mengabdi di seluruh wilayah Indonesia, terutama wilayah Jawa Timur," ucap Tri Yogi Yuwono.
Diketahui, akselerasi pemenuhan dokter spesialis menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo.
Pemerintah menargetkan peningkatan yang signifikan pada kapasitas pendidikan tenaga medis. Sepanjang 2025–2026, sekitar 160 program studi PPDS baru dibuka, sehingga jumlah total prodi kedokteran nasional meningkat dari 366 menjadi 526.
Editor : Heri Sutarman
COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026