Untuk masuk ke Pidie Jaya, memerlukan waktu sekitar empat jam perjalanan menggunakan mobil dari kota Banda Aceh.

Perjalanan tersebut dapat ditempuh lebih cepat dengan mengakses ruas jalan tol Sigli-Banda Aceh. Via akses tol hanya perlu waktu tiga jam untuk menembus Bumi Japakeh, julukan Pidie Jaya, jika perjalanan dari Banda Aceh.

Pidie Jaya merupakan salah satu kabupaten dari provinsi Aceh yang paling terdampak banjir Sumatera pada 25-30 November 2025.

Akses ruas jalan via tol maupun jalan antar kota/provinsi sebelumnya terkendala karena medan yang digenangi oleh air atau juga tertimbun endapan lumpur.

Tiga bulan setelah banjir, Pidie Jaya sudah berangsur membaik dengan jalan ruas utama dapat diakses dengan kendaraan.

Tim ANTARA memasuki kota yang secara administratif menjadi kabupaten pada tahun 2007 ini dalam kondisi hujan sedari pagi.

Semalam dalam laporan cuaca BMKG, Pidie Jaya diguyur hujan intensitas sedang. Hujan kembali mengguyur ketika memasuki masa subuh.

Selepas reda, orang-orang telah meregangkan ototnya dan saling bergotong royong membersihkan endapan lumpur di setiap rumah yang terdampak.

Saat ini di kecamatan Meurudu, Pidie Jaya, sejumlah rumah masih terendam lumpur dengan ketinggian sekitar lutut orang dewasa.

Suasana hangat menyambut kami ketika memasuki hunian sementara (huntara) yang dibangun oleh Danantara dan baru diresmikan dua hari lalu.

Anak-anak bermain di fasilitas taman bermain hunian sementara (huntara) di Pidie Jaya, Aceh, Senin (16/02/2026). Huntara yang terdiri dari 212 unit baru sana diresmikan pada Sabtu (14/02/2026). (ANTARA/Fajar Satriyo)

Rumah ingatan

Di salah satu unit hunian, tim ANTARA bertemu dengan Ainun Mardiyah yang menjadi penyintas bencana Sumatera.

Ainun, yang kini berusia 69 tahun, telah dua hari menghuni salah satu unit huntara bersama dengan anak dan cucu-cucunya.

“Sudah senang walaupun kayak gini. Terima kasih banyak semua orang ini karena di tempat ini sudah aman lah kami sebentar,” ujar Ainun.

Rumah Ainun kini hanya menjadi puing ingatan. Lumpur setinggi atap rumah telah mengubur tempat yang selama ini digunakannya untuk berteduh.

Perempuan paruh baya ini mengatakan sempat untuk mendatangi rumahnya, berangan bisa mengambil barang-barang yang tersisa dan masih digunakan. Apalah daya, satu pun barang sudah tidak dapat diperoleh dari rumahnya.

“Baju ini semua (dengan perabotan) dikasih sama orang. Satu pun barang (di rumah) enggak bisa saya ambil,” ungkap Ainun.

Tanpa uang sepeser pun, Ainun mengaku tidak bisa menyewa ekskavator ntuk mengeruk lumpur yang merendam rumahnya.

Hal serupa dialami oleh Irna Sari. Rumahnya terendam lumpur setinggi atap dan sudah tidak bisa dihuni.

“Kalau rumah lumpurnya sekarang masih seatap. Pascabanjir sudah hampir tiga bulan tapi lumpurnya masih setinggi atap dan belum dibersihkan,” ujar Irna.

Irna menceritakan kisah pilunya yang harus menerobos banjir dengan endapan lumpur untuk bisa selamat.

Bahkan perempuan berusia 35 tahun ini juga sempat terpisah dengan kedua orang tuanya selama beberapa hari. Beruntung di posko pengungsian, Irna bertemu dengan keluarga besarnya.

Hunian sementara

Baik Ainun dan Irna kini sudah menetap di salah satu unit hunian sementara (huntara) yang baru saja diserahterimakan dari kabupaten Pidie Jaya.

Total telah 212 kunci huntara yang terdiri terdiri atas 162 unit huntara yang dibangun Danantara dan 50 unit yang dibangun BNPB sudah ditempati oleh masyarakat Pidie Jaya yang rumahnya terdampak banjir pada November lalu.

Di huntara ini, masyarakat mendapatkan fasilitas berupa dua unit tempat tidur, satu almari, dan satu kipas angin.

Selain itu juga terdapat fasilitas umum yang telah dipersiapkan. Fasilitas umum tersebut terdiri dari tempat bermain anak, dapur umum, dan toilet.

“Kalau bagi saya tempat ini sangat nyaman. Sudah mendingan dibanding di tempat pengungsian,” ujar Irna yang sempat berada di posko pengungsian selama kurang lebih tiga bulan.

Irna dan keluarganya kerap dilanda sakit seperti meriang atau demam di posko pengungsian. Namun kini ia merasa bersyukur telah mendapatkan satu unit tempat yang lebih nyaman di huntara.

Hal senada diungkapkan oleh Ainun yang merasa jauh lebih aman. “Kami sudah senang banget karena kami tidak punya apa-apa dan dikasih (hunian) ini,” ungkapnya.

Ke depannya, Irna dan Ainun berharap bisa diberikan hunian tetap oleh pemerintah karena rumahnya kini sudah tidak layak huni.

Irna mengatakan bahwa tak perlulah diberikan rumah yang bagus namun cukup diberi tempat yang nyaman untuk bisa dihuni sekeluarga.

“Walaupun tidak seperti rumah kami dulu, pokoknya kami ada tempat tinggal. Ada tempat berteduh. Kami ini pun bukan mengharap untuk seperti semula,” ungkap Irna.

Saat ini pemerintah tengah mempercepat proses pembangunan huntara untuk penyintas bencana Sumatera.

Di Pidie Jaya, akan ada total 96 unit yang diperuntukkan 120 kepala keluarga (kk) akan segera ditempati pada masa Ramadhan.

Huntara yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini kini telah memasuki tahap pengerjaan 95 persen dan tengah dalam tahap final untuk diisi furnitur.

Sebelumnya Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya mengkonfirmasi bahwa terdapat total 773 kepala keluarga telah menghuni huntara sebagai bagian dari fase pertama pemindahan penyintas bencana Sumatera dari posko pengungsian.

Ke depannya Pemkab. Pidie Jaya bersinergi dengan pemerintah pusat dan stakeholder akan melakukan percepatan pemindahan penyintas menuju huntara yang telah dipersiapkan.

 


 

Pewarta: Fajar Satriyo

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026