Di tengah ruang digital yang makin melekat pada kehidupan anak, dari belajar, bermain, hingga bersosialisasi, risiko juga ikut membesar: perundungan siber, eksploitasi, paparan konten berbahaya, hingga kecanduan media sosial.
Karena itu, Klinik Digital menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan negara melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terkait Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS), yang diterbitkan pada 28 Maret 2025.
Sebagai wujud kontribusi literasi publik dan aksi nyata mendukung implementasi kebijakan, Klinik Digital menerjemahkan Panduan PP TUNAS Komdigi bagi Orang Tua ke dalam 8 bahasa daerah: Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua.
Langkah ini memastikan substansi PP TUNAS, yang menekankan praktik pengasuhan digital dan pelindungan anak di ruang digital, lebih mudah dipahami dan lebih mungkin diterapkan lintas komunitas, terutama pada keluarga yang sehari-hari lebih lekat dengan bahasa ibu.
Dari Regulasi ke Praktik Harian Keluarga
PP TUNAS menegaskan bahwa sebelum anak menjelajahi ruang digital secara mandiri, orang tua perlu membekali anak dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap agar anak mampu memanfaatkan teknologi untuk belajar dan berkreasi sekaligus terlindungi dari risiko.
Regulasi ini juga memperkuat peran orang tua sebagai pusat pendampingan melalui prinsip Hak Persetujuan Wajib (parental consent) bagi anak di bawah 17 tahun (opt-in), ketersediaan alat pengawasan (parental control), serta edukasi dan pemberdayaan ekosistem digital untuk anak dan orang tua/wali.
Rienzy Kholifatur, Manajer Program Klinik Digital, menegaskan bahwa penerjemahan bukan sekadar kerja bahasa, melainkan strategi implementasi: kebijakan harus “turun” menjadi kebiasaan keluarga.
“PP TUNAS menegaskan satu pesan penting: anak perlu ‘tunggu siap’ sebelum dilepas mandiri di ruang digital. Namun agar pesan ini benar-benar bekerja di lapangan, orang tua harus memahami isinya secara utuh, bukan sekadar tahu judulnya. Karena itu, penerjemahan ke bahasa daerah adalah bentuk pelindungan yang paling praktis: mendekatkan bahasa kebijakan ke bahasa keseharian keluarga,” ujar Rienzy.
“Dunia Digital adalah Realitas Kedua Anak, Tapi Bukan Tanpa Risiko”
Devie Rahmawati, Founder Klinik Digital sekaligus Associate Professor Program Vokasi UI, menekankan bahwa PP TUNAS hadir tepat waktu karena tantangan anak di ruang digital bukan lagi isu pinggiran, melainkan isu tumbuh kembang.
“Kita tidak bisa menutup mata bahwa dunia digital adalah realitas kedua bagi anak-anak masa kini, tetapi bukan realitas tanpa risiko. Kajian ilmiah dari National Library of Medicine menunjukkan bahwa penggunaan media digital yang tidak terpantau dapat berdampak serius pada perkembangan emosional, kognitif, dan kesehatan mental anak, termasuk risiko gangguan tidur, rendahnya harga diri, tekanan sosial, serta peningkatan kecemasan dan depresi terkait citra tubuh,” tegas Devie.
Devie menambahkan, PP TUNAS bukan sekadar perangkat administratif, tetapi kerangka yang memungkinkan keluarga membangun “kebiasaan aman” di rumah.
“PP TUNAS menjawab kebutuhan mendasar: bagaimana membingkai pengalaman digital anak dengan cara yang melindungi sekaligus memberdayakan. Literatur ilmiah juga menegaskan bahwa paparan dini terhadap konten digital tanpa pembimbingan orang tua dapat mengurangi waktu interaksi sosial dan bermain kreatif, padahal keduanya krusial untuk pembentukan bahasa, empati, dan keterampilan berpikir kritis. Ketika panduan pelindungan hadir dalam bahasa yang dimengerti dan konteks budaya lokal keluarga, orang tua punya peluang lebih besar untuk benar-benar menjadi ‘pelindung digital’ yang efektif,” tambah Devie.
Komitmen Klinik Digital: “Vaksin Sosial” untuk Peradaban Digital
Didirikan sejak 2018, Klinik Digital terus memproduksi “vaksin sosial” melalui seminar, webinar, pelatihan, dan produksi lebih dari 75 modul serta buku literasi untuk membantu masyarakat menghadapi tantangan peradaban digital, dari keamanan digital, etika bermedia, hingga ketahanan keluarga di era teknologi.
Memasuki 2026, Klinik Digital menegaskan komitmennya untuk memperluas cakupan materi berbahasa daerah agar literasi digital tidak berhenti pada akses informasi, tetapi benar-benar menjadi akses pemahaman, yang pada akhirnya memperkuat ekosistem digital Indonesia menjadi lebih sehat, aman, dan ramah anak.
Editor : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2026