Depok (ANTARA) - Komitmen untuk memperluas akses literasi digital yang inklusif kembali ditegaskan oleh Klinik Digital. Pada tahun 2025, Klinik Digital menyusun dan menerbitkan modul literasi digital yang diterjemahkan ke dalam 10 bahasa daerah, sebagai bagian dari strategi pemerataan akses pengetahuan di seluruh Indonesia.

Modul ini ditulis oleh tim penulis yang terdiri dari Devie Rahmawati, Mila Viendyasari, Giri Lumakto, Rienzy Kholifatur, Wiratri Anindhita, dan Andika Putri Rais, yang sebelumnya juga terlibat dalam penyusunan berbagai materi literasi digital nasional.

Sebagaimana tercantum dalam pengantar buku Petualangan Literasi Digital: Selesaikan Misimu  , modul ini memang dirancang sebagai panduan praktis untuk meningkatkan keterampilan digital masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari keamanan kata sandi, perlindungan data pribadi, pengelolaan email, hingga etika bermedia sosial.

Upaya penerjemahan ke dalam bahasa daerah bukanlah langkah baru. Sejak tahun 2021, Klinik Digital secara konsisten berkomitmen untuk menghadirkan materi literasi digital dalam berbagai bahasa lokal sebagai bentuk pengakuan terhadap keragaman linguistik Indonesia.

Pada edisi 2025 ini, modul diterjemahkan ke dalam 10 bahasa daerah: Jawa (Jawa Timur & Jawa Tengah), Sunda, Minang, Aceh, Kalimantan, Palembang, Makassar, Bali, dan Papua.

Langkah ini dilakukan dengan kesadaran bahwa literasi digital tidak hanya soal akses teknologi, tetapi juga soal akses pemahaman. Bahasa ibu menjadi medium paling efektif untuk memastikan pesan keamanan digital, etika online, dan perlindungan data benar-benar dipahami lintas generasi.

Rienzy Kholifatur, selaku Manajer Program Klinik Digital, menegaskan bahwa penerjemahan modul ke dalam bahasa daerah merupakan strategi berbasis kebutuhan sosial dan empiris.

Indonesia adalah negara dengan keragaman bahasa yang luar biasa. Jika literasi digital hanya tersedia dalam bahasa Indonesia formal, maka kita berisiko menciptakan kesenjangan pemahaman di tingkat akar rumput.

Modul ini hadir untuk memastikan bahwa pesan tentang keamanan digital, perlindungan data, dan etika bermedia sosial dapat dipahami dalam bahasa yang paling dekat dengan keseharian masyarakat.

Literasi digital harus inklusif, bukan hanya tersedia, tetapi juga dapat dipahami dan diterapkan pendekatan berbasis bahasa lokal juga memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap materi edukasi.

Penelitian komunikasi menunjukkan bahwa pesan edukatif yang disampaikan dalam bahasa lokal memiliki tingkat penerimaan dan retensi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, sejak 2021 kami terus mengembangkan model translasi kontekstual, bukan sekadar terjemahan literal, agar materi benar-benar relevan secara budaya.”

Literasi Digital sebagai Fondasi Keamanan dan Kemandirian

“Modul 2025 ini tidak hanya membahas aspek teknis seperti keamanan kata sandi dan perlindungan virus, tetapi juga menyentuh aspek kritis seperti Perlindungan data pribadi dan privasi, Penggunaan media sosial secara bertanggung jawab, Cara aman bertransaksi daring, Pengelolaan komunikasi digital secara efisien. Dengan pendekatan interaktif dan praktis, Klinik Digital berharap modul ini mampu mendorong terbentuknya komunitas digital yang aman, inklusif, dan cerdas di seluruh Indonesia,” tutup Mila Viendyasari, Peneliti Klinik Digital.



Pewarta: Antara
Editor : Feru Lantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026