Universitas Djuanda, Bogor, Jawa Barat, mengingatkan ancaman praktik ocean grabbing terhadap kedaulatan maritim Indonesia dalam peringatan Deklarasi Djuanda melalui penyelenggaraan konferensi internasional DICAS dan DICSS 2025 di Bogor, Jawa Barat.
Peringatan tersebut dikemas dalam The 9th Djuanda International Conference on Applied Science (DICAS) dan The 9th Djuanda International Conference on Social Science (DICSS) 2025 yang digelar secara hybrid di Aula Gedung C Kampus UNIDA, Selasa.
Konferensi internasional ini mengusung tema “Converging Knowledge for a Sustainable Future: Leading Transformative Change through Interdisciplinary Innovation” dan diikuti akademisi, peneliti, praktisi, serta pembuat kebijakan dari berbagai negara.
Chancellor UNIDA Prof. Dr. H. Martin Roestamy, S.H., M.H dalam sambutannya menegaskan pentingnya menghidupkan kembali semangat Deklarasi Djuanda 1957 sebagai fondasi utama dalam menjaga kedaulatan maritim Indonesia.
“Deklarasi Djuanda merupakan tonggak penting dalam membangun kedaulatan kelautan Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan sebagai panduan menghadapi tantangan global saat ini,” kata Martin.
Ia menjelaskan, pengakuan internasional terhadap konsep negara kepulauan telah memperluas wilayah kedaulatan Indonesia, dari sebelumnya berbasis daratan menjadi wilayah gabungan darat dan laut yang strategis bagi masa depan bangsa.
Namun demikian, Martin mengingatkan bahwa amanat besar Deklarasi Djuanda kini menghadapi ancaman serius, salah satunya fenomena ocean grabbing atau perampasan ruang laut dan sumber daya pesisir oleh aktor berkekuatan modal dan politik.
Menurut dia, praktik tersebut berpotensi meminggirkan masyarakat pesisir dari ruang hidupnya sekaligus mengancam keberlanjutan ekosistem laut jika tidak diantisipasi melalui kebijakan yang berkeadilan dan berbasis ilmu pengetahuan.
Ketua Pelaksana DICAS dan DICSS 2025 Dr. Radif Khotamir Rusli, M.Ed mengatakan konferensi ini dirancang sebagai forum strategis untuk mempertemukan gagasan lintas disiplin dalam merespons tantangan pembangunan berkelanjutan.
“Diskusi ini mempertemukan perspektif sains terapan dan ilmu sosial dalam merespons isu-isu global yang semakin kompleks,” ujarnya.
Ia menyebutkan, topik yang dibahas meliputi transformasi digital dan teknologi hijau, inovasi biosains untuk ketahanan pangan dan resiliensi iklim, kecerdasan buatan dan data sains untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), hingga tata kelola dan kebijakan publik.
Sejumlah pembicara internasional dari Turki, India, Yunani, Malaysia, Jepang, Irak, dan Indonesia turut hadir secara langsung maupun daring dalam konferensi tersebut.
Selain sebagai forum ilmiah, DICAS dan DICSS 2025 juga membuka peluang publikasi karya ilmiah pada jurnal bereputasi nasional dan internasional, termasuk jurnal indeks Scopus dan jurnal terakreditasi Sinta.
Baca juga: Kontroversi komoditas ilmu pengetahuan
Baca juga: UP gelar monev bimtek jurnal ilmiah
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2025