Bogor (Antaranews Megapolitan) - Sejalan dengan era Industri 4.0, Fakultas Pertanian (Faperta) Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama para mitra kerjanya dari dalam dan luar negeri berkiprah dalam penelitian “Pengembangan Metode Assessment Baru Tingkat Kerusakan Tanaman Padi terkait Pemanasan Global dalam rangka Asuransi Pertanian.”

Penelitian dalam bingkai SATREPS (Science and Technology Research for Sustainable Development) yang mendapat dukungan dari JICA ini, melibatkan mitra luar negeri dari Jepang antara lain Chiba University, Tohoku University, Nihon University dan NOSAI (pengelola asuransi pertanian Jepang).

Sedangkan mitra dalam negeri terdiri dari Universitas Udayana, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat, serta Dinas Pertanian Kabupaten Badung, Provinsi Bali.

Pada penelitian ini dipergunakan perangkat teknologi maju menggunakan citra satelit, image drone dan spectrophotometer untuk menilai tingkat kerusakan tanaman padi akibat kekeringan, banjir dan serangan hama penyakit.

Hasil dari penilaian tingkat kerusakan tersebut diharapkan menjadi pendekatan baru untuk klaim asuransi pertanian tanaman padi.

Joint Coordinating Committee (JCC) Meeting yang kedua setelah project riset ini berlangsung mulai Oktober 2017, telah digelar di Kantor Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat pada 4 Desember 2018.  

Profesor Chiharu Hongo (Chiba University) dan Dr. Baba Barus (Faperta IPB) masing-masing sebagai pimpinan tim dari kedua belah pihak, pada JCC ini melaporkan perkembangan riset dan mengkoordinasikan para peneliti dan para pemangku kepentingan yang terlibat.  

Selain para pihak yang terlibat dalam penelitian, acara JCC ini dihadiri perwakilan JICA dan Kementerian Pertanian RI.

Ir. Hendi Jatnika, Kepala Distanhor Jabar, selaku tuan rumah JCC menegaskan komitmen Pemda Jabar di bawah kepemimpinan Gubernur Ridwan Kamil, untuk menjadikan Jabar sebagai Provinsi termaju mutlak memerlukan dukungan penerapan teknologi kekinian, khususnya untuk tetap menjadikan Jabar sebagai lumbung pangan nasional yang posisi geografisnya sangat strategis sebagai penyangga ibukota negara.

Sementara itu Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Fakultas Pertanian IPB, Dr. Ahmad Junaedi, menyampaikan pentingnya multipihak antara akademisi, pelaku bisnis, pemerintah, masyarakat dan media bersinergi dalam satu platform meningkatkan ketahanan pangan terutama menghadapi situasi perubahan iklim yang akan mengancam instabilitas produksi pangan.

Pada kesempatan rangkaian JCC kedua ini, juga digelar Scientific Committee Meeting. Pada event ini masing-masing kelompok kepakaran peneliti yang terdiri dari tim infrastruktur, tim asesmen kekeringan, tim asesmen banjir, dan tim implementasi kelembagaan melakukan diskusi intensif dan memaparkan kemajuan penelitian serta rencana kerja tim selanjutnya.

Para pakar IPB yang hadir dan terlibat aktif dalam tim riset ini, antara lain dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan  (Dr. Baba Barus, Dr. Boedi Tjahjono, Rani Yudarwati, MSi), Departemen Agronomi dan Hortikultura (Dr. Iskandar Lubis, Dr. Ahmad Junaedi), Departemen Proteksi Tanaman (Dr. Suryo Wiyono), Departemen Ilmu Ekonomi (Dr. Dedi Budiman Hakim),  Departemen Ekonomi dan Sumberdaya dan Lingkungan (Adi Hadianto, MSi), serta Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (Prof. Lilik Budi Prasetyo, Dr. Yudi Setiawan).

Pewarta: Oleh Humas IPB

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2018