Dalam buku Revoloesi Pemoeda - Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946 (2018), Benedict Anderson menulis bahwa informasi hilangnya Soekarno dan Hatta dari Jakarta sampai ke atasan Soebardjo di Kantor Penghubung Angkatan Darat dan Laut Jepang di Indonesia, Laksamana Tadashi Maeda.
Anderson menyebut, Maeda memberikan jaminan rombongan tersebut tidak akan diganggu oleh kempeitai (polisi militer/polisi rahasia Jepang) sepanjang perjalanan. Keberadaan Yoshizumi juga menjadi peredam untuk gangguan-gangguan dari militer Jepang.
Sekira pukul 18.00 WIB, Soebardjo tiba di Rengasdengklok untuk membawa Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur kembali ke Jakarta. Ternyata, revolusi dengan belasan ribu pasukan tidak pernah terjadi di Jakarta.
Mereka tiba di Jakarta sekitar pukul 20.00 WIB. Hatta langsung meminta Soebardjo untuk menelepon Hotel Des Indes, tempat anggota PPKI menginap, dengan harapan dapat mengadakan rapat yang seharusnya dilaksanakan pukul 10.00 WIB di sana.
Namun, pihak Hotel Des Indes menolak memberikan ruang lantaran aturan di sana tidak memperbolehkan kegiatan di luar menginap lewat pukul 22.00 WIB.
Soebardjo, dengan izin Hatta, lalu menelepon Laksamana Maeda untuk rapat tersebut. Maeda setuju. Dari instruksi Hatta, Soebardjo kemudian menghubungi semua anggota PPKI untuk berkumpul pada pukul 00.00 WIB di rumah Maeda.
Hampir pukul 22.00 WIB, Soekarno dan Hatta tiba di kediaman Laksamana Maeda. Akan tetapi, mereka belum dapat mengadakan rapat lantaran dipanggil oleh Sumobuco (Kepala Pemerintahan Umum) Mayor Jenderal Nishimura ke rumahnya.
Dalam pertemuan itu, Nishimura tidak mengizinkan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan lantaran Jepang sudah dalam kekuasaan sekutu. Itu membuat semua perubahan "status quo" di daerah jajahan Jepang harus dengan seizin sekutu.
Sepulang dari sana, Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke rumah Laksamana Maeda yang sudah ramai dengan anggota PPKI, para pemuda dan anggota Chuo Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat Jepang di Indonesia). Hatta melihat ada setidak-tidaknya 40-50 orang di sana.
Tidak lama setelah tiba di kediaman Maeda, Hatta menuturkan dalam Seputar Proklamasi bahwa dirinya, Soekarno, Soebardjo dan Sukarni mengadakan rapat di ruang tamu untuk menyusun teks Proklamasi.
Kalimat pertama Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sebut Hatta, diambil dari paragraf ketiga rencana Pembukaan UUD 1945, sehingga menjadi "Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia".
Sementara kalimat kedua, Hatta menggambarkan bagaimana revolusi harus dijalankan setelah merdeka.
Rampung menyusun teks Proklamasi, Soekarno, Hatta, Soebardjo dan Sukarni bergeser ke ruang tengah. Mereka lalu membicarakan teks tersebut dengan semua orang yang ada di sana, termasuk anggota PPKI dan para pemuda.
"Sebelum rapat ditutup, Bung Karno memperingatkan bahwa hari itu juga, tanggal 17 Agustus 1945, jam 10 pagi Proklamasi itu akan dibacakan di muka rakyat di halaman rumahnya di Pegangsaan Timur 56," tutur Hatta.
Adapun teks Proklamasi yang disepakati kala itu dan diketik oleh Sayuti Melik adalah:
"Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta."
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2025