Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat mendorong desa-desa setempat memperbanyak pertunjukan wisata sebagai salah satu strategi menekan angka kemiskinan ekstrem, seperti kegiatan "Bejango Desa" atau saling mengunjungi yang digelar di Desa Anjani, Kabupaten Lombok Timur.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat Mulki mengatakan, pihaknya tidak serta merta menggelontorkan anggaran, melainkan fokus pada mendorong kemandirian desa.

"Kegiatan seperti ini kami dorong agar desa mandiri. Mereka harus bisa menggerakkan potensi sendiri mulai dari pemuda, UMKM, sampai semangat gotong-royong. Itu lebih penting dari sekadar dana," ujar Mulki pada kegiatan "Bejango Desa" di Desa Anjani, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur, Jumat.

Menurut dia, tren pelaksanaan kegiatan di desa terus meningkat. Dari 58 kegiatan yang masuk dalam "Calendar of Event NTB 2025", kini mulai bermunculan festival baru yang digagas secara mandiri oleh desa.

"Yang awalnya tidak masuk kalender pariwisata, sekarang mulai muncul. Bulan Agustus nanti, Desa Kembang Kuning akan gelar 'Festival Kopi Siong Kete' meskipun tidak tercatat dalam kalender pariwisata," katanya.

Ia menambahkan, geliat kegiatan desa bukan semata untuk promosi wisata. Yang lebih utama adalah menciptakan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menghapuskan 106 desa dengan kategori kemiskinan ekstrem di NTB pada tahun 2029, sekaligus menurunkan angka kemiskinan secara keseluruhan menjadi di bawah 10 persen.

Baca juga: Sunda Karsa Fest 2025 dongkrak pariwisata Jabar
Baca juga: Pembangunan desa wisata madani tingkatkan pariwisata Lampung

Pewarta: Nur Imansyah

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2025