Banjir yang baru-baru ini melanda ibu kota dan kota-kota besar lainnya menjadi alarm keras bahwa selimut Bumi telah rusak.

Partikel tanah yang terbawa air mengalir ke sungai-sungai, menyebabkan pendangkalan, pencemaran, dan mengurangi umur waduk serta kapasitas tampung aliran air.

Di lahan pertanian terbuka, erosi tidak hanya merusak tanah, tetapi juga menghanyutkan pupuk yang telah dibenamkan atau disebar petani. Pupuk yang sebagian besar disubsidi negara hilang sia-sia, menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak terhitung jumlahnya.

Tanah yang kehilangan hara menjadi kurang subur dan petani pun terdorong untuk menambah input pupuk anorganik berbahan kimia sintetis agar tetap bisa panen. Hal ini membuat lingkaran setan tidak berujung yang merusak keseimbangan ekosistem tanah.

Aktivitas manusia cenderung terus berkembang dan nyaris tidak terbatas, sementara ruang yang tersedia tidak bertambah alias terbatas. Ketimpangan antara kebutuhan dan ketersediaan ruang ini memicu tekanan luar biasa terhadap ekosistem alami.

Vegetasi alami, terutama hutan, terus menyusut karena dikonversi menjadi area industri, tambang, permukiman, atau pertanian intensif. Di satu sisi, pembangunan adalah keniscayaan; tetapi di sisi lain, daya dukung lingkungan tidak boleh diabaikan.


Kehidupan regeneratif

Oleh karena itu, dibutuhkan seni dan sains untuk mengelola benturan kepentingan dalam pemanfaatan ruang.

Pendekatan kehidupan regeneratif menjadi solusi masa depan, yakni cara hidup yang tidak hanya mencegah kerusakan, tetapi juga memperbaiki dan memulihkan.

Misalnya, pertanian regeneratif berupaya meningkatkan karbon organik tanah, memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan daya tampung air.

Begitu pula regenerative forestry, regenerative mining, dan regenerative economy membuka jalan menuju kehidupan yang berakar pada regenerasi dan bukan eksploitasi.

Lebih jauh lagi, karena tanah adalah pondasi dari ruang, diperlukan keyakinan bahwa menjaga tanah yang sehat berarti menjadi pondasi membangun ruang yang sehat.

Dengan tanah yang sehat ruang hidup menjadi sehat, sehingga ruang tetap produktif, hijau, inklusif, dan adil secara sosial. Konsep “ruang sehat” menuntut integrasi fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi secara harmonis dalam satu lanskap.

Untuk itu, perencanaan tata ruang harus berpihak pada keberlanjutan dan daya lenting lingkungan. Perluasan kota, pembangunan jalan dan industri, pembukaan tambang, hingga alih fungsi lahan pertanian harus dilakukan dengan mempertimbangkan kapasitas daya dukung ekosistem setiap lokasi.

Jangan sampai ruang tumbuh makhluk hidup, termasuk manusia sendiri, dirampas oleh sistem yang tidak bijaksana.

Pemerintah memegang peran kunci dalam mengarahkan haluan ini. Memberikan insentif bagi petani dan masyarakat yang menjaga tutupan lahan, memperkuat kawasan hijau kota, merehabilitasi daerah aliran sungai (DAS), dan menegakkan aturan tata ruang menjadi langkah-langkah nyata menuju ruang yang sehat dan berkelanjutan.

Dari tanah yang sehat, terbangun ruang yang sehat. Hanya dari ruang yang sehat, Indonesia dapat terus tumbuh menata masa depan yang lebih adil, lebih hijau, dan lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.

*) Dr Destika Cahyana, SP, MSc adalah peneliti di Pusat Riset Tanaman Pangan, BRIN

Baca juga: Kesehatan tanah dukung keberlanjutan ekosistem
Baca juga: Malnutrisi jadi isu penting Hari Tanah se-Dunia 2022

 


 

Pewarta: Dr Destika Cahyana, SP, MSc*)

Editor :


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2025