Bogor (Antaranews Megapolitan) - Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Arif Satria berpendapat kehadiran Keramba Jaring Apung lepas pantai atau KJA "offshore" merupakan terobosan baru dalam rangka mendongkrak produksi perikanan Indonesia.

"Selama ini kita sangat bergantung dengan perikanan budi daya tambak, tawar maupun tangkap. KJA offshore ini sebuah terobosan yang sangat bagus sekali," kata Arif saat di temui Antara di ruang kerjanya, Senin.

Arif mengatakan KJA di lepas pantai merupakan sebuah program yang kegiatan kapital intensif (padat modal), namun ini menjadi sebuah langkah yang bagus dalam rangka meningkatkan kinerja produsi perikanan budi daya di Indonesia.

"KJA offshore ini membutuhkan teknologi sangat tinggi," katanya.

Menurutnya, dengan mengembangkan KJA "offshore" bukan hanya sekedar untuk meningkatkan produksi perikanan, tetapi sekaligus menunjukkan kapasitas bangsa Indonesia secara teknologi mampu mengembangkan budi daya perikanan lepas pantai.

"Jadi sebenarnya bukan sekedar peningkatan produksi, tapi membuktikan bahwa kita mampu mengembangkan itu," katanya.

Teknologi budidaya lepas pantai (offshore) saat ini sudah banyak dikembangkan dibeberapa negara seperti Norwegia dan juga Australia. Dan KJA "offshore" yang dikembangkan oleh Indonesia mengadopsi teknologi dari Norwegia.

"Kita tahu Norwegian itu sangat kuat sekali di `marine aquaculture` (perikanan budi daya-red)," kata mantan Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB ini.

Hari ini (Senin-red) rencananya Presiden Joko Widodo akan meresmikan KJA "offshore" yang ada di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengadopsi teknologi lepas pantai dari Norwegia yang diperkirakan bakal mampu menggenjot produksi komoditas ikan kakap putih secara signifikan.

Teknologi KJA `offshore` fokus dikembangkan di tiga kawasan strategis yakni perairan Kepulauan Karimunjawa, Jawa Tengah, Pangandaran Jawa Barat, dan Pulau Sabang Aceh.

KJA lepas pantai (offshore) memiliki beberapa keunggulan yaitu tahan terhadap gelombang dan memiliki ketahanan lebih dari 10 tahun. Cukup efektif digunakan dalam budi daya ikan karena mudah dalam pemasangan maupun pelepasan jaring, memiliki beragam konfigurasi dalam pengoperasiannya.

Teknologi offshore diharapkan akan menjadi acuan dalam usaha budidaya ikan laut di Indonesia dan mendorong peningkatan produksi serta pemanfaatan potensi lahan budidaya secara optimal dan berkelanjutan.

Menurut Arif, jika teknologi budidaya lepas pantai terus dikembangkan dan diperkuat, maka Indonesia tidak akan lagi tergantung pada perikanan di laut dangkal. Meski tiap-tiap perairan baik itu dangkal maupun lepas pantai, masing-masing memiliki resiko, tetapi potensi perikanan lepas pantai jauh sangat luas, dan sangat besar.

Akan tetapi lanjutnya, perlu terus dilakukan kajian terutama dari sisi pemanfaatkan oleh masyarakat. Karena teknologi budi daya lepas pantai masih terbatas untuk beberapa kalangan, dan padat modal, dengan segmentasi ekspor.

"Sisi lainnya, bagaimana kita bisa mengembangkan teknologi offshore ini lebih masif lagi, karena bagaimana pun juga ini (offshore-red) masih terbatas untuk kalangan, dan padat modal," kata Arif lulusan Doktoral Kebijakan Kelautan Kagoshima University Jepang.

Pewarta: Laily Rahmawaty

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2018