Juli 2016, publik dikejutkan dengan meninggalnya Michael Prabawa Mohede, atau yang akrab disapa Mike Mohede, penyanyi jebolan ajang pencarian bakat, Indonesia Idol 2.

Pria bertubuh subur ini dikabarkan meninggal karena serangan jantung saat dirinya sedang tidur.

Penyakit jantung memang merupakan momok yang menakutkan bagi banyak orang. Menurut WHO (2011), pada tahun 2010, satu dari empat orang di negara berkembang mengalami nasib yang sama seperti Mike, yaitu meninggal karena penyakit jantung dan stroke (kardiovaskuler).

Sedangkan di Indonesia, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) menunjukkan bahwa penyebab kematian tertinggi adalah karena stroke dan jantung yaitu mencapai 21,1 persen dan 12,9 persen dari total 41.590 kematian.

Dalam ilmu kedokteran, penyakit jantung dan stroke termasuk ke dalam penyakit degeneratif, yaitu penyakit yang timbul karena adanya prilaku warga di negara berkembang seperti pola diet yang salah dan kurangnya aktivitas fisik, sehingga dapat memicu penyakit degeneratif.

Prof Dr Ir Sumiati, MSc, Guru Besar Tetap Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, menawarkan sebuah solusi inovatif untuk menurunkan prevalensi penyakit degeneratif ini.

Dalam laboratoriumnya, Sumiati merekayasa pakan unggas untuk menghasilkan telur fungsional, sebuah istilah yang digunakan untuk telur dengan kandungan omega 3 dan omega 6 seimbang, rendah kolesterol dan kaya akan antioksidan serta Vitamin A. Kandungan gizi ini, menurut dia, bisa mencegah penyakit degeneratif.

Sumiati menjelaskan bahwa telur unggas merupakan sumber protein hewani yang dikonsumsi oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Selain harganya terjangkau dan mudah diperoleh, telur unggas juga mengandung protein yang penting untuk konsumsi masyarakat Indonesia.

Namun, menurut Sumiati, masyarakat Indonesia sekarang lebih menyukai makanan instan karena tingkat kesibukan yang tinggi.

"Keterbatasan manusia dalam mengonsumsi antioksidan dan omega 3 dalam bentuk makanan sehari-hari merupakan salah satu penyebab penyakit degenaratif," katanya.

Menurut Sumiati, antioksidan dan omega 3 bisa ditemukan dalam telur unggas. Dalam satu butir telur standar, orang bisa menemukan banyak kandungan gizi yang bermanfaat seperti Omega 3, Omega 6, EPA dan DHA, serta Vitamin E.

Namun ternyata, kata Sumiati, kandungan asam lemak omega 3 dan omega 6 yang tinggi belum cukup untuk melindungi seseorang dari penyakit. Menurut pakar ini, perbandingan kandungan omega 3 dan omega 6 sebesar satu banding empat (1:4) mampu menurunkan kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 70 persen. Perbandingan yang tidak seimbang justru bisa memicu penyakit tersebut.

"Ketidakseimbangan asam lemak tersebut memberikan efek negatif di antaranya menyebabkan penyakit kardiovaskular," katanya.

Oleh karena itu, Sumiati merekayasa pakan unggas untuk mengembangkan telur kaya omega 3 dengan rasio omega 3 dan omega 6 berimbang, telur rendah kolesterol, telur kaya vitamin A, dan telur kaya antioksidan.

"Sebenarnya tidak susah untuk menghasilkan telur kaya omega, dan daging unggas fungsional, semua terhantung dari ransumnya (pakan)," kata Sumiati.

Untuk mengembangkan telur unggas fungsional, ia melakukan sejumlah penelitian. Merancang telur kaya omega 3 dapat dilakukan dengan menggunakan flaxseed, minyak ikan, alga, sunflower oil, dan canola dalam pakan. Sedangkan merancang telur dengan rasio omega 3 dan omega 6 berimbang dapat dilakukan melalui rekayasa pakan menggunakan minyak ikan lemuru (sumber omega 3) dan minya sawit (sumber omega 6).

"Perlakuan ini juga dapat meningkatkan produksi telur, sudah diteliti tahun 2013 lalu," katanya.

Selain telur dengan perbandingan omega3 dan omega 6 yang seimbang, Sumiati juga merancang telur rendah kolesterol. Menurut laporan WHO, 50 persen serangan jantung disebabkan oleh kadar kolesterol yang tinggi.

Telur rendah kolesterol diharapkan bisa menjadi makanan yang bisa mencegah penyakit jantung. Sumiati melakukan rekayasa pakan ini untuk telur puyuh, telur itik dan juga telur ayam.

"Untuk telur rendah kolesterol dilakukan kepada telur puyuh, karena selama ini banyak yang beranggapan telur puyuh punya kolesterol tinggi," katanya.


Telur puyuh

Telur puyuh rendah kolesterol ini didapatkan dengan menambahkan choline chloride, lada hitam, tepung daun katuk, tepung daun tarum (Indigofera zollingeriana), dan minyak ikan lemuru dalam pakan. Penelitian Sumiati menunjukkan bahwa pemberian rekayasa pakan ini dapat menurunkan kandungan kolesterol kuning telur dari 9,39 mg/g menjadi 8,75 mg/g kuning telur.

Kolin (choline chloride) merupakan komponen utama dari phosphatidylcholine, suatu senyawa yang dapat membantu metabolisme di hati dan dapat menormalkan metabolisme kolesterol.

Selain telur puyuh, penurunan kadar kolesterol juga dilakukan untuk telur ayam, yaitu dengan menggunakan tepung daun tarum (Indigofera zollingeriana) yang dapat menurunkan lebih dari 50 persen kadar kolesterol yang ada pada telur ayam. Penggunaan tepung daun tarum pun bisa digunakan untuk rekayasa pakan itik sehingga kolesterol telur itik berkurang dari 8,43 menjadi 7,63 mg/g kuning telur.

Berdasarkan penelitian Sumiati, tepung daun tarum mengandung Beta karotin yang berfungsi sebagai antioksidan untuk mencegah peningkatan kolesterol.

"Beta karotin berfungsi sebagai antioksidan sehingga ketika dikombinasikan dengan menyiak ikan dapat melindungi asam lemak omega 3 yang berfungsi menghambat biosintesis kolesterol," kata Sumiati.

Cara lain untuk mencegah penyakit degeneratif, menurut Sumiati, adalah dengan merancang telur kaya vitamin A. Telur ini bisa didapatkan dengan menggunakan bahan baku pakan yang kaya kandungan Beta karoten seperti minyak sawit, tepung daun katuk, tepung daun tarum (Indigofera zollingeriana).

Ia juga mengembangkan telur kaya antioksidan dengan cara selain meningkatkan kandungan Beta-karoten, dapat juga dilakukan dengan meningkatkan kandungan vitamin E dan kandungan Selenium (Se) melalui suplemen vitamin E dalam pakan terutama untuk pakan yang mengandung tinggi asam lemak omega 3 dan omega 6.

"Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan yang melindungi asam lemak dari proses oksidasi," kata ibu dua anak ini.

Sumiati berharap, telur fungsional dapat berperan untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang saat ini banyak terjadi di Indonesia, bahkan di dunia. Permasalahan kesehatan tersebut di antaranya adalah penyakit degeneratif seperti tinggi kolesterol dan defisiensi vitamin A.

"Telur dan daging unggas sangat potensial dijadikan pangan fungsional melalui rekayasa pakan, sekaligus merupakan sumber protein hewani berkualitas tinggi," kata Sumiati.

Oleh: Laily Rahmawaty.

Pewarta: Laily Rahmawaty

Editor : M. Tohamaksun


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2017