Dian Yasmina Fajri berhasil meraih gelar doktor Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dengan program studi sejarah setelah berhasil mempertahankan disertasainya.

"Berdasarkan hasil ujian panitia ujian promosi doktor menyatakan sudara Dian Yasmina Fajri lulus menjadi doktor ilmu pengetahuan budaya program studi ilmu sejarah dengan yudisium sangat memuaskan," kata Promotor Disertasi Dian Yasmina Fajri, Yon Machmudi Ph.D ketika membacakan hasil sidang terbuka program doktor di Kampus UI Depok, Senin.

Sebagai kopromotor adalah Prof. Dr Susanto Zuhdi dan Dr. Didik Pradjoko. Dalam Disertasinya Dian Yasmina Fajri mengangkat judul "Komunitas Kebatinan Buhun Kranggan Jatisampurna Bekasi: Perjuangan Mempertahankan Identitas 1965-2019".

Dian Yasmina menjelaskan disertasinya membahas tentang perjuangan Komunitas Kebatinan buhun Kranggan (KKBK) Jatisampurna, Bekasi dalam mempertahankan identitasnya 1965-2019.

Baca juga: Doktor FKUI temukan teknik baru operasi kebocoran katup jantung pada anak

Buhun adalah ajaran kuno yang dianut oleh para leluhur masyarakat Kranggan yang merupakan percampuran Islam dengan ajaran animisme. Buhun juga mengandung arti “ilmu kesaktian” dan “upacara sakral” yang praktiknya diwariskan secara turun temurun. 

Dia menjelaskan Buhun mempunyai pemimpin yang disebut Olot, yang saat ini sudah sampai pada Olot yang ke-9. Konon, ajaran Buhun akan berakhir pada Olot yang ke-12. Olot dibantu oleh 25 orang Olot lain di bawahnya. 

Leluhur KKBK disebut berasal dari kaum pelarian yang diburu oleh pasukan Fatahillah yang mengejar dan mengepung mereka di hutan sekitar Gunung Putri, Bogor. 

Baca juga: Doktor FKUI kembangkan diagnosis kanker tiroid berdasarkan mutasi genetik

Demi keselamatan diri, mereka tidak menampakkan kepercayaan kebatinannya sehingga muncul istilah “nyeumpet di enggon ca’ang” yang artinya “bersembunyi di tempat yang terang”.

Ketika pindah ke Kranggan, Jatisampurna mereka harus berhadapan dengan sisa2 pasukan Mataram yang sudah lebih dahulu tinggal di daerah itu. 

KKBK menghadapi ancaman dan tantangan dengan masuknya Aliran Kebantinan Perjalanan (AKP) yang menjadikannya massa, dominasi agama arus utama, kebijakan dan peraturan pemerintah, pendidikan, pendatang baru serta perubahan lingkungan akibat pembangunan di wilayah tersebut. 

Baca juga: Amurwani Dwi raih gelar doktor sejarah UI dengan cumlaude

Upaya mempertahankan diri dilakukan dengan memperkuat kepercayaan dan identitas. Melalui berbagai ritual seperti Babaritan, Muludan, dan Lebaran Kranggan, kaderisasi anggota dan calon pemimpin masa depan dipersiapkan. Peran Olot dan payung politikmenjadi tumpuan dalam menghindari kepunahan. 

Menurut dia metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode historis khususnya pengolahan sejarah lisan serta pendekatan ilmu sosiologi dan etnohistori. Studi ini diharapkan memberikan perspektif baru konstruksi sejarah lokal melalui etnohistori dan menambah khazanah tentang peziarahan Indonesia.

Pewarta: Feru Lantara

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2023