Tepat di depan kantor Badan Pengusahaan Kawasan Batam, berdiri tiga pohon beringin yang ditanam tiga kepala negara bersahabat pada 1991, Presiden Indonesia Soeharto, Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew, dan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad.

Pohon beringin di sudut Bundaran Otorita Batam itu adalah salah satu dari banyak sentuhan Lee Kuan Yew di Batam, kota di seberang Singapura yang hanya berjarak sekitar 30 km.

Konsul Singapura di Batam, Gavin Chay mengingat, Lee sangat memperhatikan Batam.

Bagi Lee Batam, Indonesia, dan Johor Malaysia sangat penting. Itu sebabnya saat itu Lee mendorong kawasan regional Sijori; Singapura, Johor dan Riau (Batam saat itu masuk dalam Provinsi Riau).

Bersama Soeharto dan Mahathir Muhammad, ia memikirkan pola kerja sama yang saling menguntungkan, saling memajukan dan saling menyejahterakan.

"Lee Kuan Yew tidak hanya ingin melihat Singapura maju, tetapi tetangga juga, Indonesia dan Malaysia, juga maju," ujar Gavin.

Sebagai perwakilan Pemerintah Singapura di Indonesia, Gavin menuturkan pernah mendapat wejangan dari Lee dan putranya Lee Hsien Loong terkait hubungan baik dengan Indonesia.

"Ada, tapi sekarang saya terlalu emosional untuk mengingatnya kembali," kata Gavin.

Ia nampak sangat sedih dengan kematian Lee Kuan Yew.
    
                      Batamindo
Peninggalan besar Lee Kuan Yew lainnya adalah Kawasan Industri Batamindo sebagai kawasan industri pertama yang berdiri di Batam.

Kawasan industri terbesar itu, lagi-lagi berdiri atas kesepakatan antara Lee dengan Soeharto.

"Ada peninggalan Lee Kuan Yew di Batamindo," kata Gavin mengenangnya.

Batamindo adalah mahakarya dari pemikir-pemikir bangsa. Kawasan industri bergensi itu dilengkapi dengan fasilitas yang relatif lengkap.

Di dalamnya terdapat ruang pabrik, asrama untuk pekerja, pengolahan limbah, sistem kelistrikan dan sebagainya.

Pada masa jayanya, kawasan industri itu memuat sekitar 100 pabrik dan menyerap hingga 75.000 pekerja.

Batamindo adalah fondasi penting bagi pembangunan Batam sebagai kawasan bergengsi di Asia Pasifik.

Deputi Bidang Pengusahaan Sarana Usaha BP Kawasan Batam, Istono sepakat, awal mula industri di Batam adalah sejak Batamindo berdiri.      

           Ada jejak Lee Kuan Yew di sana
Sentuhan Lee di Batamindo membuat kawasan itu laris manis, banyak penanam modal yang berinvestasi di situ. Semua itu yang akhirnya merangsang menjamur kawasan industri sejenis.

Istono yang sudah mengabdi sejak Sijori dideklarasikan bertutur, Lee Kuan Kew adalah sosok yang mendorong agar perusahaan Singapura menginvestasikan dananya di Batam.    

Kini, puluhan tahun setelah itu, setelah Batam menjadi kawasan industri bergengsi di Asia Pasifik, Singapura tetap menjadi asal penanam modal terbanyak dengan modal terbesar.
                     Restu Lee
Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan juga mengenang sosok Lee Kuan Yew sebagai tokoh berjasa pembawa investasi ke Batam, mulai dari pulau kosong hingga kini dijejali pabrik-pabrik dari dalam dan luar negeri.

Mantan Kepala Protokol dan Humas Otorita Batam itu mengingat, Lee Kuan Yew yang menyepakati ide "menularkan" keberhasilan Singapura ke Batam.

"Istilahnya relokasi," kata dia.

Lee menyetujui relokasi perusahaan elektronik PCI dari Singapura ke Batam.

Itulah aksi penanaman modal pertama ke Batam. Awal dari ratusan hingga ribuan penanaman modal pada tahun-tahun selanjutnya.

Lebih jauh, Ahmad Dahlan mencoba mengenang ide awal dari pembangunan Batam yang menurut dia, hanya bisa berhasil atas restu Lee Kuan Yew.

Dahlan mengatakan, awal pembangunan Batam bisa sukses karena dukungan Lee. "Pembangunan Batam didukung Lee Kuan Yew," kata dia.

"Pak Habibie pernah cerita, ketika diperintahkan Pak Harto membangun Batam, Batam ini masih asing, sedangkan Singapura sudah maju. Pak Habibie punya pemikiran, kalau tidak didukung Singapura, Batam tidak akan maju," kata dia lagi.

Kemudian BJ Habibie sempat meminta dukungan Lee untuk membangun Batam.

Dengan restu dari Lee, maka pemerintah Singapura turut mendukung pembangunan Batam, dan terbukti dengan relokasi beberapa perusahaan elektronik dari Singapura ke Batam.

Lee berpikir, jika bagian utara (Singapura) maju, maka bagian selatannya (Batam) juga harus maju. Atas dasar kepercayaan itulah kemudian Lee memberikan restu untuk mendorong kemajuan Batam.

Namun, restu yang diberikan Lee kala itu dengan syarat, "Batam tidak boleh ada kasino."

Karena kalau ada kasino nanti orang Singapura ke Batam semua, kata Dahlan.

"Itu dikatakan Habibie dalam pidatonya," katanya lagi.
    
                Pemimpin sederhana
Saat menjabat sebagai kepala Protokol dan Humas OB, Dahlan bercerita pernah beberapa kali menemani Lee dalam pertemuan dengan Presiden Soeharto dan Ketua Otorita Batam BJ Habibie.

Ia mengenang Lee sebagai sosok yang sederhana dan kaku, dengan kemampuan berbahasa Melayu yang amat baik.

"Bahasa Melayu-nya bagus sekali. Kalau berbincang dengan kami, dia menggunakan bahasa Melayu," kata Wali Kota yang masih menyimpan foto berjabat tangan dengan Lee.

Terlebih dari itu, banyak pelajaran yang bisa digali dari kepemimpinan Lee Kuan Yew sebagai Pemimpin yang dicintai segenap warga Singapura dan dihormati rekannya sesama kepala negara.

Lee tidak hanya berhasil membangun Singapura, negara kecil yang kini makmur, melainkan juga ikut menularkan semangat perekonomian di Batam, hingga kota itu tumbuh menjadi sentra industri Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi di atas nasional.

Kini dan selamanya, Batam akan terus maju di atas fondasi dan semangat kebersamaan yang dibangun tiga sahabat, Lee, Soeharto, dan Mahathir.

Terimakasih Mr Lee.

Pewarta: Yunianti Jannatun Naim

Editor : M. Tohamaksun


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2015