Depok, (Antaranews Bogor) - Ekonom Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Rizal E Halim mengatakan Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel perlu menata kembali diplomasi perdagangan sehingga potensi dan peluang yang ada dipasar bisa dioptimalkan.

"Diplomasi perdagangan di forum bilateral seperti dengan Tiongkok, India, Amerika, Jepang, dan forum - forum seperti APEC, AFTA, G20, dan sebagainya," kata Rizal di Depok, Kamis.

Ia mengatakan diplomasi perdagangan ini menjadi penting mengingat integrasi ekonomi dunia semakin menguat dalam satu dasawarsa terakhir ini. Ini yang perlu segera dilakukan Mendag untuk memastikan agenda prioritas Presiden Jokowi yang tertuang dalam Nawa Cita.

Rizal juga mengatakan dalam jangka pendek Mendag perlu mengambil respon cepat terkait dengan stabilisasi harga dan ketersediaan pasokan barang dan jasa khususnya menyambut hari raya Natal dan tahun baru.

"Belum lagi adanya rencana kenaikan harga BBM bersubsidi yang tentunya juga memiliki andil terhadap inflasi," katanya.

Selain itu perlu juga intensif tidak hanya berkoordinasi dengan pihak terkait tetapi juga melakukan sejumlah langkah-langkah antisipatif dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan dalam dua bulan ke depan.

Rizal mengatakan mendag juga perlu mengidentifikasi dan memastikan produk-produk dalam negeri yang akan menjadi ikon di ASEAN khususnya menjelang pemberlakuan MEA 2015 yang sebentar lagi kita dihadapi.

Sedangkan untuk jangka panjang katanya yang penting untuk dilakukan adalah pertama memangkas simpul-simpul yang selama ini menjadi kontributor utama yang membuat produk dalam negeri menjadi tidak efisien dan berdaya saing rendah.

"Hal ini mulai dari perizinan dan birokrasi, proses produksi, proses ekspor-impor, dan sebagainya," katanya.

Kedua, mendorong produksi barang-barang dalam negeri yang memilki nilai tambah tinggi (value added goods) dan tidak hanya sekedar mengandalkan komoditas saja. Ini sangat penting dilakukan menjelang MEA 2015 dengan konsiderasi kesamaaan beberapa komoditas dengan negara-negara di ASEAN.

Ketiga, mendorong sektor perdagangan dalam negeri melalui penataan rantai nilai perdagangan mulai dari pedagang pengepul, pasar tradisional, pasar modern dan pelaku usaha lainnya yang berada dalam sistim rantai nilai tersebut.

Keempat, mendorong kehadiran pusat distribusi di titik-titik stratgeis di seluruh wilayah Indonesia agar disparitas harga antar pulau dan wilayah dapat segera dipersempit.

Kelima mendorong perluasan ekspor ke negara-negara pasar non tradisional dengan meningkatkan koordinasi dengan para Dubes dan atase perdagangan yang bertugas sebagai pemasar dalam bahasa Presiden Jokowi.

Pewarta: Feru Lantara

Editor : Naryo


COPYRIGHT © ANTARA News Megapolitan 2014