Depok, (Antara Megapolitan) - Peneliti Universitas Indonesia Dr Ir M Idrus Alhamid memperkenalkan Teknologi Ulir Filter (TUF) kepada petani garam di Cirebon, Jawa Barat untuk menaikkan kualitas spesifikasi produk komoditas tersebut.
"Dengan menggunakan Teknologi Ulir Filter (TUF), spesifikasi garam berhasil dinaikkan," kata Idrus Alhamid di Depok, Selasa.
Peneliti Universitas Indonesia ini memperkenalkan TUF kepada petani garam di desa Flowen Aras, Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Menurut dia, proses produksi garam konvensional biasanya dilakukan dengan cara berpindah-pindah petakan garam. Ini berpengaruh pada kualitasnya. Garam tradisional rata-rata memiliki kadar NaCl sebesar 85-87 persen, berwarna keruh dengan kadar airnya tinggi.
Pada proses TUF, penggunaan teknologi ulir, penambahan bahan aditif dan geomembran dilakukan secara terpadu. Air laut disalurkan dalam jalur air berbentuk ulir yang membuat perjalanan air cukup panjang.
"Tujuannya untuk memperluas permukaan air sehingga waktu penguapan menjadi lebih banyak," katanya.
Ia mengatakan terdapat beberapa pintu air yang merupakan tempat pemindahan air dari kolam satu ke kolam yang lain dalam proses persiapan air tua. Pada pintu air dilakukan penyaringan menggunakan ijuk, batok kelapa dan batu alam yang diletakkan dalam ember atau keranjang plastik.
"Di bagian bawahnya dibuat lubang untuk meminimalkan terbawanya kotoran dari laut," jelasnya.
Dikatakannya penggunaan bahan aditif dan geomembran dilakukan di meja hablur. Dosis bahan aditif adalah sekitar 700 gram per 2.000 liter air tua. Dosis ini dapat menaikkan jumlah garam hampir 1,5 lipat dan memperbaiki mutu garam yang dihasilkan.
"Penggunaan geomembran akan mencegah tercampurnya garam dengan tanah. Pemakaian ketiga metode tersebut secara signifikan dapat mengurangi kotoran-kotoran yang biasanya tercampur pada produksi garam secara konvensional," ujarnya.
Idrus menjelaskan hasil aplikasi teknologi tepat guna di Cirebon ini telah menghasilkan kualitas garam yang lebih baik. Hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan NaCl mencapai 91 persen pada garam produksi konvensional.
Jika menggunakan teknologi ulir dan aditif, kandungannya meningkat menjadi 94 persen. Kandungan NaCl akan meningkat menjadi 96 persen jika digunakan teknologi ulir, aditif dan geomembran.
Lebih lanjut ia menjelaskan untuk industri dibutuhkan garam dengan kandungan NaCl minimal 97 persen. Selain itu batas maksimal kandungan logam berat seperti kalsium dan magnesium tidak melebih 400 ppm untuk kategori industri pangan.
"Penerapan teknologi TUF tersebut mampu meningkatkan kualitas garam kualitas tiga menjadi kualitas dua," jelasnya.
Dalam penerapannya, sistem TUF membutuhkan lahan lebih luas untuk menghasilkan produk yang lebih baik lagi. Karena itu diperlukan kerjasama antar beberapa petani yang mempunyai lahan terbatas.
Idrus menjelaskan sejauh ini, penerapan teknologi TUF telah mampu menambah pendapatan petani. Karena membaiknya kualitas garam telah menaikkan harga jual garam. Dengan percobaan yang lebih intensif, produksi garam bisa ditingkatkan baik secara kualitas maupun kuantitas.
"Pada akhirnya, sangat mungkin kita tidak perlu lagi mengimpor garam dari luar negeri," katanya.
Setiap tahunnya Indonesia membutuhkan 3,3 juta juta ton garam. Sebagian besar kebutuhan itu dipenuhi oleh impor. Menurut data Kementerian Perindustrian, sebanyak 2,1 juta tonnya merupakan kebutuhan sektor industri. Sementara total produksi garam nasional baru mencapai 1,6 juta ton per tahun.
Garam produksi lokal lebih berorientasi pada kebutuhan konsumsi dan tidak bisa memenuhi kebutuhan industri. Karena untuk garam industri dibutuhkan spesifikasi yang lebih tinggi. Di Cirebon, petani garam diperkenalkan pada teknologi tepat guna dalam memproduksi garam.
Peneliti UI: Teknologi Ulir Filter Tingkatkan Kualitas Garam
Selasa, 29 September 2015 20:46
Pewarta: Feru Lantara
Editor : Feru Lantara
Copyright © ANTARA BOGOR 2015