"Kami akan hadang “anasir-anasir eksternal” yang membenturkan PDI Perjuangan dengan rakyat melalui skenario-skenario diluar harapan kehendak rakyat,"
Depok, 7/1 (Antara) - Inisiator PDI Perjuangan Pro Jokowi (Projo) Fahmi Alhabsyi mengatakan partai diprediksi akan mencapreskan Jokowi sebelum pemilu legislatif seandainya gugatan Yusril Ihza Mahendra untuk menguji materiil Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 dikabulkan Mahkamah Konstitusi. 
      
"Politik itu presepsi, dan partai politik itu agendanya memenangkan legislatif sebanyak-banyaknya, apapun jalannya pasti diambil baik “bersih” (mempresepsikan diri dengan yang diinginkan publik) ataupun “kotor" (manipulasi suara)," kata Fahmi Alhabsyi ketika dihubungi untuk dimintai pendapatnya atas gugatan uji materiil oleh Yusril Ihza Mahendra, Selasa.

Mantan aktivis UI 98 ini yang juga nutrisionis dalam pengobatan kanker ini memperkirakan MK akan mengabulkan gugatan Yusril Ihza Mahendra, maka sah-sah saja partai-partai lapis tengah  diluar PDI Perjuangan secara sepihak mencapreskan Jokowi sebagai “jualannya” agar bisa merebut simpati publik dan mendulang suara, terlepas Jokowi bersedia ataupun tidak itu urusan lain.

Lebih lanjut intelektual muda PDI Perjuangan ini juga menambahkan salah satu alasan kader dan simpatisan PDI Perjuangan menginisiasi Manifesto Pro Jokowi (Projo) dan mendeklarasikan Jokowi Presiden 2014, selain menyampaikan kehendak simpatisan partai dan aspirasi rakyat, juga mengantisipasi seandainya MK memenangkan gugatan Yusril yang pada hakekatnya capres “no-treshold”.

Direktur Eksekutif Suara Anak Bangsa ini juga menepis anggapan sebagian kecil pengurus DPP PDI Perjuangan, bahwa kader dan simpatisan PDI Perjuangan Pro Jokowi mengintervensi kewenangan penuh Bu Mega dalam penentuan capres. 

“Bung Karno berucap agar menjadi generasi muda “berkesadaran penuh” , maka langkah progresif-revolusioner ini distilahkan sebagai berpikir politik kuantum,"jelasnya. 

Sehingga lanjut dia seandainya Yusril memenangkan MK dan partai-partai lain bermanuver secara sepihak mencapreskan Jokowi sebelum PDI Perjuangan, tidak mencederai marwah dan kehormatan PDI Perjuangan karena klaim historis pencapresan Jokowi tetap milik kader dan simpatisan PDI Perjuangan pada 21 Desember 2013.

"Kami akan hadang “anasir-anasir eksternal” yang membenturkan PDI Perjuangan dengan rakyat  melalui skenario-skenario diluar harapan kehendak rakyat," ujar inisiator UNFREL 199 ini.

Menurut mantan caleg DPR RI no 1 PDI Perjuangan Dapil Depok-Bekasi pada Pemilu 2009 ini berharap Megawati Soekarnoputri mengklaim “formal”kan pencapresan Jokowi sebelum pemilu legislatif 9 April 2014 dengan atau tanpa wapres. 

“Jika Jokowi jadi capres PDI Perjuangan, yang hebat bukan Jokowi nya, tapi Bu Meganya karena beliau profesor bidang politik berhasil meluluskan didikannya yang selama ini dibimbingnya," ujarnya.

Apalagi lanjut Fahmi bila wapresnya Mas Nanan (Prananda Prabowo-red) atau Mba Puan Maharani. "Dimana-dimana kalo ada anak pintar, hebat atau sukses, yang dilihat itu bukan anaknya, tapi siapa guru atau orangtuanya,” ujar inisiator Mega Zikir Bamusi ini.


Pewarta: Oleh Feru Lantara
Editor : Feru Lantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026