Makassar (ANTARA) - Pemimpin Umum Wahdah Islamiyah KH Muhammad Zaitun Rasmin mengajak umat tidak diam melihat Masjid Al-Aqsha "terluka" dengan penutupan kiblat pertama umat Islam selama lebih dari sebulan.

"Kita sedih ketika umat Islam tidak bergerak, ketika umat Islam diam. Dari Maroko sampai Merauke, kecuali yang dapat dari Rahmat Allah itu juga sedikit," kata Ustad Zaitun pada Tabligh Akbar Nasional Wahdah Islamiyah yang digelar di Masjid Islamic Center Dato' Tiro, Bulukumba, Sulawesi Selatan, Minggu.

Ia menegaskan bahwa penutupan ini bukan sekadar berita biasa, melainkan kedukaan besar bagi umat Islam. "Masjidil Aqsha ditutup. Ini Adalah kesedihan dan kedukaan kita. Kita sudah bersuara sejak awal," kata Kyai Zaitun.

Hanya saja, Ketua MUI Bidang Ukhuwah ini menyayangkan sikap diamnya sebagian besar umat Islam saat saudara-saudaranya di Gaza terus terhimpit blokade zionis. Ketidakpedulian inilah yang menurutnya menjadi tantangan terbesar, padahal kabar penindasan tersebut sudah terang-benderang sejak bulan Ramadan lalu.

Baca juga: Israel larang lagi shalat Jumat di Al Aqsa, empat pekan berturut-turut
Baca juga: Indonesia kecam keras langkah Zionis Israel tutup Masjid Al-Aqsa di bulan Ramadhan


Berangkat dari keprihatinan di tanah Palestina, Kyai Zaitun kemudian menarik benang merah ke arah situasi geopolitik Timur Tengah yang kian memanas.

Ia mengingatkan agar semangat membela kemanusiaan tidak boleh dicoreng oleh tindakan yang justru merugikan sesama Muslim.

Ia menyoroti ketegangan antara Iran dan negara-negara Teluk, seraya berpesan agar energi perjuangan difokuskan sepenuhnya untuk melawan penjajah.

"Jika Iran fokus menyerang penjajah maka tentu simpati akan besar kepada mereka," kata dia. Ketajaman dalam melihat masalah global ini, menurut Kyai Zaitun, memerlukan kacamata ketakwaan, bukan sekadar hawa nafsu atau semangat yang meledak-ledak.

Baca juga: OKI kutuk dan peringatkan Israel agar tidak terus menutup Masjid Al-Aqsa

Ia mengajak umat untuk bersikap objektif dan adil dalam menilai, termasuk menyikapi perbedaan mazhab seperti Syiah. Baginya, menjaga akidah itu fundamental, namun tidak boleh membuat kita kehilangan rasa adil.

Maka dari itu, Kyai Zaitun menekankan pentingnya meluruskan pandangan dan bersikap adil termasuk pada orang kafir sekalipun, sebagaimana Alquran memberikan petunjuk tentang hubungan kaum beriman dengan Romawi dan juga Persia.

Keadilan dalam berpikir inilah yang kemudian harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata melalui konstitusi perdamaian dunia.

Wahdah Islamiyah secara tegas mendukung penuh jika pemerintah mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza.

"Melaksanakan konstitusi perdamaian dunia wajib kita dukung pengiriman pasukan ke Gaza, sebagai muslim itu juga bahagian dari jihad. Tentu yang bertugas akan merasa bangga karena itu persembahan yang patut dibanggakan," tuturnya.

Namun, bagi dia, perjuangan besar itu harus dimulai dari hal-hal kecil di dalam diri, yakni menghidupkan nilai-nilai Islam melalui ketakwaan yang nyata, berbagi dengan sesama di masa sulit, menahan amarah, dan menjaga lisan agar tidak menyakiti.

 



Pewarta: Nur Suhra Wardyah
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026