Ambon (ANTARA) - Tabuhan rebana berdentum berirama di antara gema takbir dan lantunan shalawat, memecah senja Bulan Ramadhan di pelataran Masjid Raya Alfatah, Kota Ambon.

Di bawah langit yang mulai temaram menjelang Maghrib, puluhan pemuda berdiri dalam barisan rapi. Langkah kaki mereka bergerak serempak, tubuh bergoyang mengikuti irama rebana, sementara nyanyian samrah mengalir ritmis, seolah-olah menjadi penanda waktu yang perlahan mendekati saat berbuka.

Di sekeliling pelataran, warga berkerumun membentuk lingkaran. Anak-anak, orang tua, hingga para remaja menyaksikan dengan mata berbinar. Sesekali sorakan kecil pecah dari kerumunan ketika gerakan para penari kian bersemangat.

Beberapa penonton maju mendekat, menyelipkan uang kertas pecahan Rp50 ribu hingga Rp100 ribu ke tangan para penari yang tetap bergerak mengikuti irama. Saweran itu bukan sekadar pemberian, melainkan bentuk penghargaan bagi para pemuda yang menjaga tradisi ini tetap hidup.

Di tengah arus modernisasi yang kian deras dan perubahan gaya hidup generasi muda, sejumlah tradisi lokal di Maluku terus berusaha bertahan. Samrah —tarian bernuansa Islam yang diiringi rebana dan melodi Timur Tengah— menjadi salah satunya. Lebih dari sekadar hiburan, kesenian yang dimainkan secara berkelompok ini telah lama menjadi ruang ekspresi bagi pemuda sekaligus simbol kebersamaan masyarakat Muslim Maluku.

Setiap Ramadhan, menjelang Idul Fitri, hingga berbagai perayaan keagamaan lainnya, samrah kembali hadir di pelataran masjid dan ruang-ruang publik. Di sanalah para pemuda menari, bernyanyi, dan menjaga denyut tradisi; membiarkan irama rebana terus menggema dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Jejak samrah di Maluku sendiri dipercaya berakar dari tradisi Timur Tengah yang dibawa oleh para pedagang Arab dan ulama pada masa lalu. Seiring perjalanan waktu, kesenian tersebut berbaur dengan budaya lokal dan berkembang menjadi bentuk seni pertunjukan yang khas.

Di Maluku, samrah biasanya dibawakan secara berkelompok oleh puluhan pemuda yang mengenakan baju koko putih, sarung, dan sepatu. Mereka menari mengikuti irama rebana dan nyanyian bernuansa religi, dengan gerakan yang kompak dan penuh semangat.

Tarian samrah Wandan Kultur di Kota Ambon Maluku. ANTARA/Dedy Azis

 

Tradisi itu kembali terlihat dalam semarak Ramadhan di jalanan Kota Ambon hingga pelataran Masjid Raya Alfatah, saat puluhan hingga ratusan pemuda menampilkan tari samrah massal yang menjadi tontonan warga.

Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, menilai kegiatan tersebut dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri melalui kegiatan yang positif.

Ia juga memandang bahwa mengisi momentum Ramadhan dengan tari samrah massal merupakan bagian dari upaya melestarikan tradisi sekaligus menghindarkan pemuda dari aktivitas yang berpotensi menimbulkan gangguan ketertiban, seperti konvoi kendaraan atau balap liar di jalanan.

Ke depan, pemerintah daerah berencana memperluas skala kegiatan tersebut agar lebih banyak pemuda dapat terlibat. Vanath berharap kegiatan serupa dapat menjadi alternatif bagi anak muda yang biasanya merayakan malam takbiran dengan konvoi di jalanan untuk beralih ke kegiatan budaya yang lebih bermanfaat.

Selain itu, pemerintah daerah juga berencana melibatkan sekolah-sekolah di bawah naungan Kementerian Agama di Maluku agar siswa dapat menyiapkan kelompok tari samrah. Dengan jumlah peserta yang lebih besar, pertunjukan tersebut diharapkan dapat digelar di jalan protokol sebagai bentuk motivasi sekaligus kompetisi yang sehat bagi para pelajar.

Dia juga berharap pada momentum Idul Fitri nanti, tradisi samrah dapat semakin mempererat persaudaraan dan silaturahim masyarakat Maluku yang hidup dalam keberagaman.

"Meskipun pemerintah daerah tengah melakukan efisiensi anggaran, komitmen untuk memeriahkan perayaan hari besar keagamaan tetap dipertahankan," katanya.

Menurut dia, apabila para pemuka agama dapat mengonsolidasikan umat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, maka pemerintah daerah akan sangat terbantu dalam upaya pembangunan, khususnya dalam penguatan kualitas sumber daya manusia.

 

Bukan sekadar tarian

Bagi sebagian pemuda Maluku, samrah bukan sekadar tarian. Tradisi ini telah lama hidup dalam berbagai perayaan masyarakat dan menjadi bagian dari identitas budaya Islam di wilayah tersebut.

Komunitas budaya asal Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, Wandan Kultur, misalnya, secara rutin menampilkan tari samrah untuk menghibur warga pada bulan Ramadhan.

Salah satu pegiat samrah Wandan Kultur, Muhammad Taher Salamun, menjelaskan bahwa samrah telah menjadi bagian dari kehidupan generasi muda, khususnya dari Kepulauan Kei. Ia menyebutkan bahwa tarian tersebut dimanfaatkan sebagai sarana mengasah kreativitas pemuda sekaligus membantu kegiatan sosial masyarakat.

Dalam berbagai kesempatan, kelompok tersebut bahkan melibatkan puluhan hingga ratusan pemuda lintas iman untuk menari Bersama. Para penari bergerak serempak, menciptakan harmoni yang memikat perhatian penonton.

Di sela-sela pertunjukan, beberapa warga biasanya maju memberikan saweran berupa uang kertas kepada para penari. Saweran itu bukan sekadar simbol apresiasi, tetapi juga sering dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sosial komunitas, seperti penggalangan dana pembangunan masjid atau kegiatan kepemudaan di kampung-kampung.

Setiap pertunjukan samrah selalu dipadati warga. Jalan-jalan utama di pusat Kota Ambon pun kerap berubah menjadi panggung terbuka ketika para pemuda menari bersama di tengah kerumunan masyarakat.

Semangat kebersamaan dalam tradisi ini juga terlihat dalam berbagai kegiatan lintas komunitas di Ambon, seperti Festival Ramadhan 1447 Hijriah yang digelar Pemerintah Kota Ambon yang bahkan sempat menjadi perbincangan luas di media sosial.

Festival tersebut menampilkan kolaborasi antara pemuda gereja dan remaja masjid. Remaja masjid membawakan tarian samrah secara kompak, sementara alunan terompet dari pemuda gereja mengiringi gerakan mereka.

Perpaduan gerak dan nada itu menghadirkan harmoni yang memikat perhatian publik. Potongan video pertunjukan tersebut kemudian beredar luas di media sosial dan menuai berbagai komentar positif dari warganet yang menilai momen tersebut sebagai gambaran nyata kehidupan masyarakat Maluku yang menjunjung tinggi persaudaraan.

Fenomena itu kembali menegaskan identitas Ambon sebagai kota yang dikenal dengan nilai toleransi antarumat beragama. Nilai pela gandong, ikatan persaudaraan yang diwariskan leluhur Maluku, terus hidup dalam kehidupan masyarakat hingga kini.

Di tengah derasnya pengaruh budaya populer dan perubahan zaman, tradisi samrah tetap menemukan ruangnya di hati generasi muda.

Melalui tabuhan rebana, nyanyian bernuansa religi, serta langkah kaki yang bergerak serempak, para pemuda Maluku seolah-olah menyampaikan pesan sederhana, bahwa merawat tradisi bukan sekadar menjaga masa lalu, tetapi juga memastikan warisan budaya tetap hidup di masa depan.



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026