Jakarta (ANTARA) - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) resmi mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham untuk melaksanakan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.

Melalui rights issue, Direktur Keuangan BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti mengungkapkan perseroan menargetkan dapat meraih dana segar senilai Rp4 sampai Rp6,5 triliun.

“Target pengumpulan mungkin antara Rp4 sampai Rp6,5 triliun ya kira-kira. Tapi nanti angka pastinya tanggal 9 Maret (2026) ya,” ujar Roy kepada awak media seusai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Jumat.

Dalam kesempatan ini, Direktur Utama & CEO BNBR Anindya N. Bakrie menilai perseroan perlu untuk melaksanakan PMHMETD dalam rangka optimalisasi struktur pendanaan terkait Pengambilalihan PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).

Melalui mekanisme PMHMETD, perseroan berencana menerbitkan saham baru Seri E sebanyak-banyaknya 90 miliar saham.

Adapun, saham tersebut akan dikeluarkan dari portepel dan dicatatkan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Perseroan akan menggunakan seluruh dana yang diterimanya dari PMHMETD untuk pembayaran kewajiban perseroan dan/atau anak perusahaan kepada kreditur, serta untuk modal kerja dan pengembangan usaha di perseroan dan/atau anak perusahaan, termasuk CCT,” ujar Anin.

Anin meyakini pelaksanaan PMHMETD akan memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan, sekaligus memperkuat kinerja operasional dan struktur permodalan.

“Selain itu, penambahan modal juga dapat meningkatkan kemampuan perseroan untuk melakukan ekspansi usaha, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada laba perseroan dan diharapkan dapat meningkatkan imbal hasil nilai investasi bagi seluruh pemegang saham perseroan,” ujar Anin.

Setelah aksi korporasi ini, Anin menjelaskan rasio total pinjaman terhadap total aset akan menurun dari 84,28 persen sebelum PMHMETD menjadi 67,9 persen setelah PMHMETD.

Ia mengatakan, penurunan tersebut mencerminkan komposisi pendanaan berbasis ekuitas yang lebih besar, sehingga kontribusi kinerja aset terhadap pemegang saham turut meningkat.

“Selain itu, penurunan rasio ini memberikan Perseroan fleksibilitas yang lebih tinggi untuk ekspansi dan perolehan modal kerja dari tambahan pendanaan eksternal apabila diperlukan,” ujar Anin.

Lebih lanjut, rasio total pinjaman terhadap total ekuitas juga akan menyusut signifikan, dari 536,02 persen sebelum PMHMETD menjadi 211,57 persen setelah PMHMETD, yang menunjukkan peningkatan porsi ekuitas dibandingkan kewajiban.

Baca juga: BNBR akuisisi Tol Cimanggis--Cibitung

Baca juga: Lima orang putra-putri Indonesia raih Penghargaan Achmad Bakrie XX 2024

"Rasio ini menjadi lebih baik karena menyeimbangkan struktur permodalan perseroan antara ekuitas dan kewajiban,” ujar Anin.

Di sisi lain, Anin mengingatkan bahwa rencana PMHMETD akan berdampak terhadap para pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya untuk membeli saham baru.

Adapun, persentase kepemilikan saham berpotensi terdilusi hingga sebanyak-banyaknya 33,33 persen setelah pelaksanaan HMETD.

 

 

 

 


 



Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor : Heri Sutarman

COPYRIGHT © ANTARA 2026